1. Multazam

Multazam merupakan bagian dari dinding Ka’bah, tempat yang sangat mustajab untuk berdo’a. Banyak jamaah haji dan umroh berebut untuk mencium Hajar Aswad, namun tidak sedikit pula yang melupakan Multazam. Padahal Multazam merupakan salah tempat Mustajab untuk berdo’a

Terletak antara Hajar Aswad dengan pintu Ka’bah. Tempat ini merupakan tempat utama jamaah haji dan umroh saat berdoa atau bermunajat, setelah selesai melakukan thawaf.

 

Tempat Mustajab Berdo'a di Masjidil Haram

Saat bermunajat di depan Multazam ini, sedikit orang yang tidak meneteskan air mata. Mereka menangis karena terharu oleh kebesaran Allah SWT. Mereka menangis seraya “curhat” dan merasakan sangat dekat dengan kehadiran Allah SWT

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa Multazam in merupakan tempat mustajab untuk berdoa. Rasulullah Saw bersabda, “Antara Rukun Hajar Aswad da pintu Ka’bah, yang disebut Multazam, tidak ada seorang pun hamba Allah yang berdoa di tempat ini tanpa terkabulkan permintaannya”.

Multazam adalah bagian dari Ka’bah yang mulia. Makna iltizamuhu dalam bahasa Arab adalah merapatkan. Orang yang berdoa di sisni hendaknya meletakkan dada, wajah, lengan dan kedua tangannya di atas dinding ini, Berdoa kepada Allah apa yang mudah baginya dari apa yang dia inginkan.

Dengan demikian, para jamaah diperbolehkan untuk merapat ke dinding tersebut ketika memasuki Ka’bah, serta diperbolehkan melaksanakannya thawaf wada’ dan pada waktu kapan saja.

Namun, tentu saja orang yang berdoa di sini jangan memperpanjang doanya karena akan mengganggu orang lain, sebagaimana tidak diperkenankan berdesak-desakan dan menyakiti orang-orang hanya karena untuk melakukan itu.

Di kala melihat ada kesempatan dan kelonggaran, berdoalah. Namun, kalau tidak ada, cukuplah berdoa ketika thawaf atau pada saat sujud ketika shalat di area Masjidil Haram.

 

Multazam Tempat Mustajab untuk Berdo’a

Pada saat seorang hamba memohon dan bermunajat ke hadirat-Nya, terdapat beberapa tempat dan waktu yang memang disediakan oleh Allah SWT untuk hamba-Nya.

Penyediaan tempat dan waktu ini dimaksudkan agar semua umat manusia dapat memohon dengan baik dan khusyuk. Salah satu tempat yang dipilih oleh Allah untuk mengabulkan semua hajat manusia adalah di Multazam.

Sebagai tempat yang dipilih Allah, multazam sangat kecil sekali untuk menampung semua orang yang datang ke tempat itu. Tidak semua orang dapat dengan mudah masuk dan berada di area multazam tersebut.

Dari semua jamaah biro haji dan umroh yang datang, tidak semua mendapatkan kesempatan untuk berdoa dan bermunajat dengan baik dan penuh khidmat di tempat itu.

Meskipun begitu, untuk sebagian orang, meskipun pernah dan mendapatkan kesempatan untuk berdoa, namun mereka tetap tidak mendapatkan kenikmatan. Oleh karena itu, mendapatkan kesempatan untuk berdoa dengan penuh khusyuk adalah mukjizat yang perlu disyukuri, karena tidak semua orang mendapatkannya.

 

2. Hijir Ismail

Hijir Ismail terletak bersebelahan dengan  Bangunan Ka’bah, tepatnya di sebelah utara Ka’bah. Area Hijr Ismail  dibatasi oleh tembok berlapis marmer indah yang bentuknya setengah lingkaran.

Tinggi hijir Ismail saat ini sekitar 1,5 meter. Hijir Ismail dahulu dibangun sangat sederhana, setelah itu  para khalifah, sultan dan raja-raja yang berkuasa mengganti pagar batu itu dengan batu marmer.

Dikutip dari buku ‘Amalan di Tanah Suci: Membantu Haji & Umrah Anda Lebih Produktif’ karya H Rafiq Jauhary, mengenai awal mula Hijr Ismail sendiri terdapat dua versi cerita yang berkembang.

Versi pertama, mengatakan bahwa Hijr adalah Hujrah, yakni kamar yang digunakan Nabi Ismail beristirahat saat membangun Kakbah. Sedangkan versi lainnya mengatakan bahwa Hijr adalah tempat tinggal sekaligus kuburan Nabi Ismail.

 

Bangunan Ka'bah

Terhadap dua sumber ini pakar sejarah Syaikh Shafiyurrahman al-Mubarakfury, seperti yang dikutip detik,  lebih meyakini kekuatan pada pendapat pertama. Sangat tidak mungkin jika Hijr adalah kuburan Nabi Ismail.

“Maka itu mustahil karena jenazah para Nabi tidak akan rusak, padahal dahulu ketika direnovasi oleh Quraisy dan di waktu lain dibangun oleh Abdullah bin Zubair, di bawahnya tidak didapati jenazah Nabi Ismail.

Dan Andaikan itu kuburan, maka kuburan tidak boleh diinjak dan diduduki. Inilah yang membuat beliau menyangsikan cerita kedua tersebut,” tulis Rafiq Jauhary.

 

Sejarah Hijir Ismail

Ketika Ka’bah hendak direnovasi oleh suku Quraisy pad atahun 606 M, yaitu sewaktu Nabi Muhammad berusia sekitar 35 tahun, mereka kehabisan dana yang halal untuk dapat membangun Ka’bah seperti ukuran aslinya.

Oleh karena itu, mereka kemudian mengurangi panjang tembok sisi barat dan timur pada bagian utara kurang lebih 3 meter. Itulah sebabnya luas Ka’bah menjadi berkurang, sedangkan luas Hijir Ismail menjadi bertambah.

Maka dari itu pula, orang yang melakukan thawaf harus mengintari Hijir Ismail, karena Hijir Ismail termasuk bagian dari Ka’bah.

Bagi orang-orang yang beruntung, mereka bisa merasakan hembusan angin surga sewaktu melakukan thawaf dan melintasi bagaian Hijir Ismail ini. Dalam kitab Fi Rhaabl Baitil Haram, diterangkan bahwa pada suatu ketika Nab Ismail menyampaikan keluhan kepada Allah tentang panasnya Makkah.

Lalu, Allah menurunkan wahyu kepada-Nya, “Sekarang, Aku buka di Hijirmu salah satu pintu surga, yang dari pintu itu keluar hawa dingn untuk kamu sampai Hari Kiamat nanti”.

Berdasarkan firman Allah tulah, banyak orang berharap mendapatkan hembusan angin semilir yang menyejukkan tersebut. Akan tetapi, untuk mendapatkan angin ini, tidak dapat direkayasa dengan kipas angin. Akan tetapi merupakan sebuah anugerah.

 

Perubahan dan Renovasi Hijir Ismail

Hijir Ismail yang kita saksikan sekarang ini, telah melalu berbagai perubahan dan renovasi, yang bertujuan untuk membuat Hijir Ismail lebih baik lag, yang tentunya tidak mengurangi hal yang utama pada Hijir Ismail tersebut. Perubahan tersebut berlangsung pada beberapa waktu sebagai berkut:

  1. Perbaikan yang pertama kali adalah memasang marmer pada pilar Hjir Ismail. Perbaikan ini dilakukan oleh Abu Jakfar Manshur, Khalifah Bani Abbasiah, pada tahun 140 H.
  2. Perbaikan ini kemudian diperbaharui oleh Khalifah al-Mahdi pada tahun 161 H.
  3. Pada tahun 241 H dilakukan pembenahan dan perbaikan lagi oleh Mutawakkil Alallah.
  4. Pada tahun 283 H kembali direnovasi oleh Muktadid dan dilanjutkan oleh seorang menteri, Jamaluddin, yang dikenal dengan Jawwad pada tahun 550 H.
  5. Hijir Ismail direnovasi kembali oleh Nashr pada tahun 576 H, yang kemudian dilanjutkan oleh Nashr Qalawun pada tahun 720 H, oleh Nasir Ali bin Malik Asyraf Syakban bin Malik Nashr Muhammad bn Qalawun pad tahun 781 H, dan dilanjutkan oleh pangeran Bisiq.
  6. Karena belum memuaskan, Hijir Ismail direnovasi kembali oleh Alaudn pada bulan Rajab tahun 822 H dan dilanjutkan oleh Pangeran Zainuddin Muqbil al-Qadidi pada tahun 826 H.
  7. Terakhir, renovasi dilakukan oleh Sudun al-Muhammadi dengan menggunakan marmer impor.

 

 

3. Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim bukanlah kuburan Nabi Ibrahim, sebagaimana dugaan pendapat sebagan orang. Maqam Ibrahim sebenarnya batu yang menjadi pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah. Letak maqam Ibrahm ini tidak jauh, hanya sekitar 3 meter dari Ka’bah dan terletak di sebelah timur Ka’bah.

Di dalam bangunan kecil Maqam Ibrahim ini, terdapat batu tempat pijakan Nabi Ibrahim, seperti dijelaskan di atas. Pada saat pembangunan Ka’bah, batu ini berfungsi layaknya sebuah lift. Batu yang memang dikirim dari surga ini berfungsi sebagai pijakan. Batu ini menyesuaikan Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah, dapat naik dan turun sesuai keperluan.

Bekas kedua tapak kaki Nabi Ibrahim masih tampak jelas sampai sekarang. Khalifah al-Mahdi al-Abbasi kemudian memerintahkan kaumnya untuk mengikat sekeliling batu Maqam Ibrahim itu dengan perak dan dibuat kandang besi berbentuk mirip sangkar burung.

Menurut bahasa, al-maqam berarti tempat kaki berpijak. Dan, Maqam Ibrahim ialah batu yang dibawa oleh Ismail ketika pembangunan Ka’bah, yang kemudian digunakan untuk berdiri. Area di belakang Maqam Ibrahim merupakan salah satu tempat mustajab untuk berdo’a

Di atas batu itulah, Nabi Ibrahim membangun Ka’bah dengan tangannya sendiri, yang batu-batunya dibawakan oleh Ismail. Setiap kali batuan bertambah tinggi, batu tempat berdiri juga ikut naik.

Maqam Ibrahim

 

Keutamaan Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim mempunyai beberapa keutamaan. Berikut beberapa keutamaan yang dimaksud tersebut.

  1. Maqam Ibrahim dijadikan sebagai tempat shalat. Hal ini menunjukkan keutamaan dan kemuliaan dari Maqam Ibrahim. Dalam al-Qur’an disebutkan:

Dan, (ingatlah) ketika kami menadikan rumah itu ( Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan, jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan, telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, ‘Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’, dan yang sujud”. (QS. Al-Baqarah 2:125).

Begitu juga yang diriwayatkan mengenai sifat haji Nabi Muhammad SAW, “Ketika sampai Ka’bah bersama Rasulullah SAW, beliau langsung mencium Rukun Hajar Aswad, kemudian berlari-lari kecil tiga putaran dan (selebihnya) yang empat putaran dengan jalan biasa. Lalu, beliau ke Maqam Ibrahim”.

  1. Maqam Ibrahim merupakan batu dari surga. Rasulullah SAW bersabda bahwa Hajar Aswad dan Maqam Ibrahm ialah batu-batuan dari surga. Seandainya Allah tidak melenyapkan cahaya keduanya, niscaya ia akan menerangi Timur dan Barat seluruhnya. Sementara, dalam riwayat dari al-Baihaqi disebutkan bahwa seandainya bukan karena dosa dan kesalahan anak cucu Adam, maka keduanya akan mampu menerangi Timur dan Barat.
  2. Maqam Ibrahim adalah tempat dikabulkannya doa. Menurut Hasan Basri dan ulama-ulama lainnya, doa di belakang Maqam Ibrahim akan dikabulkan.

 

4. Mizab atau Pancuran Emas

Mizab sesungguhnya adalah saluran air. Saluran ini terdapat di pertengahan dinding sebelah barat bagian atas Ka’bah. Orang lazim menyebutnya dengan Mizab Rahmah. Saluran air itu dibuat oleh Hajaj bn Yusuf al-Saqafi yang wafat pada 714 H.

Dia adalah gubernur Arabia pada masa pemerintahan Bani Umayyah. Mizab dibangun semata-mata agar air tidak menggenang di atas Ka’bah. Pada tahun 959 H, Sultan Sulaiman I dari Kerajaan Utsmani mengganti mizab itu dengan perak. Pada tahun 1021 H, Sultan Amad I mengganti lagi dengan perak yang dilukis menggunakan tinta biru berselang-seling emas.

Pada tahun 1273 H, Sultan Abdul Majid mengrim saluran air yang seluruhnya terbuat dari emas. Mizab atau saluran air itulah yang ada sampai sekarang.

 

Karena terbuat dari emas, maka sebagian orang sekarang menyebutnya dengan nama “Pancuran Emas”. Area dibawah talang emas merupakan tempat mustajab untuk berdo’a. Tak jarang jamaah haji dan umroh berdo’a seraya “ngalap berkah” di bawah talang emas, terutama saat hujan deras turun