Bukan Batu Biasa

Batu Hajar Aswad bukanlah batu biasa seperti yang kita lihat, meskipun secara bentuk fisik tidak jauh berbeda dengan batu kebanyakan. Batu yang satu ini mempunyai sejarah yang sangat panjang, sepanjang sejarah umat manusia.

Meskipun telah ribuan tahun, sampai saat ini masih menjadi perbincangan yang menyenangkan. Sebuah batu yang mempunyai banyak cerita, sehingga menyebabkan orang penasaran untuk mengunjunginya.

 

Batu Hajar Aswad

Batu Hajar Aswad ini terdapat dalam sebuah masjid yang terbesar di dunia, yakni Masjidil Haram. Dengan sejarah nya yang juga besar, serta untuk keperluan ibadah yang juga besar, yakni ibadah haji yang biasa dilakukan setahun sekali.

Hajar Aswad adalah batu hitam yang terletak di sudut sebelah tenggara Ka’bah. Dari sudut ini hitungan thawaf dimulai dan di akhiri. Ada yang menyebut batu Hajar Aswad merupakan jenis batu “Ruby” yang diturunkan Allah dari surga melalu malaikat Jibril.

Batu Hajar Aswad yang menempel di dinding Ka’bah terdiri dari delapan keping yang berkumpul dan diikat dengan lingkaran perak. Batu hitam itu sudah licin karena terus menerus dikecup, dicium, dan diusap-usap oleh jutaan bahkan miliaran manusia sejak Nabi Adam AS.

Mereka, jamaah yang datang ke Baitullah, baik untuk haji maupun untuk umroh. Sebagaimana diketahui bahwa panggilan haji telah berlangsung sejak lama, yaitu sejak Nabi Adam AS.

 

Bentuk Hajar Aswad

Hajar Aswad berasal dari bahasa Arab yang berarti batu hitam. Walaupun begitu, Hajar Aswad yang ada di Ka’bah itu warnanya tidaklah pekat, melainkan hitam kemerah-merahan.

Bentuknya seperti telur dan terdapat bintik-bintik merah dan kuning bekas pecahan. Lingkarannya sekitar 30 cm, yang kini dikat dengan semen dan diberi “wadah pita” berwarna perak. Pemberian pita perak ini sudah menjadi kebiasaan sejak zaman Abdullah ibn Zubair, pada akhir kekhalifahan Khulafaur Rasyidin.

Dahulu, Hajar Aswad sebenarnya berbentuk batuan utuh yang ukuran nya diperkirakan sekitar 30 cm. Namun kini hanya berbentuk 15 pecahan yang ditanam dalam sebuah matriks semen sebagai pengikatnya.

Hal ini yang dilakukan pada masa restorasi al-Utsmani tahun 1631. Dari 15 pecahan, hanya 8 yang nampak di permukaan. Matriks semen selanjutnya dilindungi dengan lingkaran perak

Dalam salah satu riwayat populer, dinyatakan bahwa batu hitam tersebut pernah terkubur pasir selama beberapa lama dan secara ajaib ditemukan kembali oleh Nabi Ismail AS

 

Rare Picture Of Kaaba BW

Saat itu Nabi Ismail AS berusaha mendapatkan batu tambahan untuk menutupi dinding Ka’bah yang masih kurang. Batu yang ditemukan inilah rupanya juga sedang dicari oleh Nabi Ibrahim.

Dengan ditemukannya batu tersebut, Nabi Ibrahm sangatlah gembira dan tidak henti-hentinya menciumi batu tersebut. Bahkan, ketika sudah tiba di dekat Ka’bah, batu itu tak segera diletakkan di tempatnya.

Akan tetapi, Nabi Ibrahim dan Ismail menggotong batu itu sambil memutari Ka’bah selama tujuh putaran, dan inilah kemudian yang menjadi landasan ritual thawaf bagi jamaah haji dan umroh. Batu ini dipercaya berasal dari surga dan sudah dimuliakan sejak zaman jahiliah.

 

Peristiwa Penting Berkenaan dengan Hajar Aswad

Diantara peristiwa penting yang berkenaan dengan batu Hajar Aswad terjadi pada tahun 16 sebelum Hijrah (606 M). Suatu ketika suku Quraisy melakukan pemugaran Ka’bah. karena adanya beberapa kerusakan akbiat banjir yang melanda Kota Makkah.

Pada saat itu, hampir saja terjadi peperangan yang menimbulkan pertumpahan darah yang hebat. Para pemuka suku Quraisy dari empat Kabilah selama lima hari lima malam bersitegang. Satu hal pokok yang menjadi pembahasan mereka adalah siapa yang berhak untuk mengangkat dan meletakkan kembali batu hajar aswad ini di tempat semula.

Mengangkat dan meletakkan kembali batu hajar Aswad ke tempat semula bukanlah perkara sepele. Karena berkaitan dengan kehormatan suatu Kabilah setelah pemugaran Ka’bah selesai dilakukan. Meletakkan Hajar Aswad juga sebagai tanda peresmian renovasi dan mulai dapat digunakan nya kembali Ka’bah.

Akhirnya, muncul usulan dari Abu Umaiyah bin Mughirah al-Mukhzumi. Ia mengatakan bahwa pengangkatan batu tersebut harus diserahkan kepada orang yang pertama kali masuk masjid pada hari itu melalui pintu (Bab) Al Shafa. Pendapat sesepuh Quraisy Abu Umaiyah ini disepakati seluruh kabilah Quraisy.

 

Hajar Aswad dan Kualitas Pribadi Rasulullah

Keseokan hari nya ternyata orang pertama yang masuk pada hari itu bernama Muhammad bin Abdullah. Peristiwa ini terjadi lima tahun sebelum Muhammad diangkat sebagai nabi dan rasul. Waktu itu Beliau masih berusia 35 tahun.

Nabi Muhammad selanjutnya menuju tempat penyimpanan Hajar Aswad. Beliau kemudian membentangkan surbannya dan meletakkan batu Hajar Aswad  itu di tengah-tengah surban.

Kemudian beliau meminta setiap pemuka kabilah Quraisy memegang masing-masing sudut dan sisi kain tersebut dan bersama-sama mengangkatnya untuk membawa Hajar Aswad ke dekat tempatnya semula.

Menurut sejarah hajar aswad, Setelah sampai ke dekat tempat Hajar Aswad, Nabi Muhammad mengangkat dan menempatkan Hajar Aswad ke tempat aslinya. Dengan cara demikian, para pemuka Quraisy merasa sama-sama punya andil dalam menempatkan kembali Hajar Aswad ke tempat aslinya.

Di sinilah semakin terlihat kualitas pribadi Muhammad bin Abdullah, bahkan sebelum diangkat menjadi Rasulullah sekalipun. Cara sederhana dan bijaksana yang ditempuh Muhammad berhasil menghindarkan pertumpahan darang yang hampir terjadi.

Rasulullah berhasil pula memuaskan semua pihak, tanpa merendahkan yang lain. Sejak saat itu, rasa percaya dan hormat kaum Quraisy kepada Muhammad bin Abdullah semakin meningkat.

 

Batu yang Istimewa

Kita semua tahu bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak bisa memberikan manfaat maupun mudharat pada siapa pun, kecuali Allah berkehendak untuk menjadi penyebab pada apapun termasuk batu sekalipun.

 

Hadist Umar Hajar Aswad

Sehingga, apa yang dilakukan dalam prosesi ibadah haji tersebut hanya sekedar mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah. Jadi, apa yang kita lakukan bukanlah menyembah batu.

Dalam sebuah kesempatan Umar bin Khatab, sebagai salah seorang yang sangat taat dalam menalankan perintah Allah, pernah bergumam pada Hajar Aswad untuk menunjukkan tentang benda yang menadi media untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Ia berkata, “Aku tahu bahwa kau hanyalah batu. Kalau bukan karena aku melihat kekasihku, Nabi Muhammad, mencium dan menyentuhmu, maka aku tidak akan menyentuh dan menciummu”.

Dengan demikian, tidak ada sesuatu yang lebih istmewa daripada sesuatu yang telah ditunjukkan oleh seorang Nabi yang segala hidupnya penuh kejujuran, meskipun sebuah batu.

Dalam hal ini, yang bernilai bukan lagi sekedar batunya saja, akan tetapi nilai dan sejarah dari batu tersebut. Dan, inilah kestimewaan terbesar yang dimiliki oleh batu Hajar Aswad  tersebut.

Selain itu, terdapat beberapa penelitian yang menyatakan bahwa batu ini adalah batu yang tahan banting. Batu tersebut terbuat dari bahan batu strukturnya lebih baik dari baja sekalipun.

 

Hajar Aswad sebagai Media Kontemplasi

Sebagai ciptaan Allah, batu merupakan benda yang tidak lebih bak dari manusia. Sebaliknya, manusia mempunyai beberapa kelebhan yang tidak dimiliki oleh batu. Akan tetapi, dalam hal ini, Allah menganjurkan semua orang yang sedang menunaikan ibadah haji untuk dapat mencium batu tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa manusia pada satu sisi tidak mempunyai kuasa apapun. Manusia adalah makhluk yang hina dan tidak mempunyai kemampuan untuk menolak segala yang menjadi ketentuan Allah. Terbukti, pada saat diperintahkan untuk mencium batu, semua orang pasti juga akan melaksanakan perintah tersebut.

Dengan kenyataan seperti itu, jelaslah bahwa batu hanya sebagai media saja. Sejatinya, manusia diperintahkan menjalankan sebua ibadah agar mereka mengakui keterbatasannya sebagai makhluk, termasuk mencium batu. Inilah salah satu media untuk berpikir bagi siapa saja yang mengunjunginya.

Kini  Bagi yang sudah pernah ke Mekkah, tentunya pernah berusaha untuk mengelus, memegang, bahkan menciumnya. Mengapa batu ini sangat istimewa? Banyak hal yang perlu Anda ketahui, mengapa batu Hajar Aswad ini begitu sangat istimewa bagi umat Islam. Saat umroh atau ibadah haji, jutaan jemaah berusaha untuk memegangnya. Berikut ini adalah keistimewaan dari Hajar Aswad.

 

Hajar Aswad Batu dari Surga

Menurut hadis, Hajar Aswad ini adalah batu yang berasal dari surga. Batu tersebut dihilangkan cahayanya oleh Allah. Kalau sinarnya tidak dihilangkan, maka akan menyinari bumi dari barat sampai dengan timur.

 

hadist hajaraswad

 

Hajar Aswad Tempat Terkabulnya Doa

Keistimewaan dari Hajar Aswad adalah dipercaya menjadi tempat yang sangat makbul untuk berdoa. Tempat berdoa yang paling mustajab ini tentunya dipadati oleh jamaah umroh.

 

Saksi Di Hari Akhir

Hajar Aswad akan menjadi saksi tentang orang-orang yang menyalami dengan baik dan juga ikhlas. Hajar Aswad akan menjadi saksi bagi orang-orang yang ikhlas ketika menyalaminya.

 

Menyalami Hajar Aswad adalah Salam Dengan Allah

Jika Anda diberi kesempatan untuk menyalami Hajar Aswad, berarti Anda berkesempatan bersalaman dengan “tangan” Allah. Allah terasa sangat dekat dan benar-benar dekat dengan kita ketika kita berada di tanah suci. Itulah sebabnya orang yang memiliki kemampuan berusaha untuk pergi ke tanah suci dan menunaikan ibadah haji maupun umroh serta mencium Hajar Aswad.

Itulah beberapa keistimewaan dari Hajar Aswad. Batu yang sangat mulia untuk umat Islam. Islam selalu menebarkan kedamaian. Pun dengan batu mulia Hajar Aswad yang tentunya benar-benar menjadi symbol kebesaran Allah. Tak mengherankan jika Jutaan umat berusaha menciumnya