Mengenal Kota Makkah

Sejarah berdirinya Kota Suci Makkah merupakan salah satu hal yang harus diketahui. Setiap umat muslim tentu tidak asing dengan kota ini. Karena di kota suci ini Rasulullah Muhammad SAW, mempunyai hubungan erat dalam menjalankan misi keNabian Nya.

Kota Suci Makkah

 

Makkah bagi umat Islam merupakan tempat yang sangat mulia. Setiap muslim mempunyai impian untuk bisa menjejakkan kaki di kota itu, baik untuk mengerjakan ibadah haji ataupun umroh.

Kerinduan bertandang ke sana teteap besar, terlebih lagi bagi orang yang pernah merasakan kenikmatan berada di kota suci tersebut. Di kota ini banyak meninggalkan nilai sejarah keislaman dan nilai-nilai keimanan yang dibawa Rasulullah.

Beberapa tempat sejarah juga berada di Kota Suci Makkah. Antara lain Masjidil Haram, Jabal Tsur, Jabal Nur, dan ratusan tempat bersejarah di Kota Suci Makkah yang berhubungan erat dengan perkembangan Islam.

Makkah adalah sebuah kota yang setiap tahunnya dikunjungi berjuta-juta umat dari seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam kepentingan. Ada orang yang datang untuk menjalankan ritual keagamaan (Islam).

Ada yang sengaja datang hanya untuk bertamasya, serta ada pula yang sedang menjalankan bisnis dengan berdagang. Karena kota tersebut selalu menjadi pusat keramaian.

Hal yang demikian berdampak pada segala aspek kehidupan masyarakatnya, khususnya di bidang ekonomi. Kota Makkah selalu banyak menyisakan cerita bagi siapa saja yang pernah mengunjunginya. Sebab, kota Makkah bukan hanya sebuah kota yang unik dan bersejarah, akan tetapi banyak hal yang menjadi daya tarik tersendiri.

 

Keadaan Alam Makkah

Dilihat sepintas dari segi alamnya, kota Makkah adalah sebuah kota yang memiliki lembah kering dan dikelilingi gunung-gunung berbatu yang cukup tandus.

 

Makkah Kuno

Dari sebelah timur berdiri Gunung Abu Qubais, di sebelah selatan terdapat Gunung Abi Hadidah dan Gunung Khundamah, di utara terdapat Gunung Al-Fajl, Gunung Qaiqaan, Gunung Hndi, Gunung Lu’lu’ dan Gunung Kada yang merupakan gunung tertinggi di daerah tersebut.

Selan itu, letak kota Makkah kira-kira 330 meter di atas permukaan air laut. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa daerah kota Makkah tergolong panas. Jamaah umroh Indonesia yang ingin menuju kota Makkah melalui jalur udara dapat memilih penerbangan melalui Jeddah maupun Madinah.

Dilihat dari peta Jarak tempuh dari Bandara King Abdul Aziz menuju Masjidil Haram di Kota Suci Makkah berkisar 100 kilometer atau 1,5 jam perjalanan darat. Sementara jika jamaah mendarat di Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz Madinah, jaraknya 460 kilometer, atau 5 jam perjalanan darat.

Transportasi yang tersedia antara lain dengan bus dan taxi. Perjalanan melalui jalan tol gratis dengan kondisi jalan yang amat baik

 

Sejarah Singkat Kota Makkah

Kota Makkah merupakan kota lintas perdagangan anatara Syam (Syria) di wilayah selatan dan Yaman di wilayah utara, sehingga penduduk Makkah banyak yang menjadi pedagang, karena possinya yang strategis ini.

Makkah menjadi kota penting dan menjadi rute yang dilalui oleh para pedagang. Meskipun demikian, Makkah tidak pernah menjadi ibukota, karena telah menjadi salah satu kota bagian dari kerajaan Saudi Arabia.

Sejarah singkat Makkah terbentuk sebagai wilayah Kota dimulai pada masa Nabi Ibrahim AS. Allah SWT memerintahkan Beliau untuk membawa Siti Hajar istrinya dan anaknya Ismail ke suatu tempat bernama Makkah. Pada waktu itu, Makkah merupakan kawasan yang tidak ada penghuninya sama sekali, tandus dan gersang.

Setelah beberapa lama tinggal di Makkah, Nabi Ibrahim AS, kemudian meninggalkan anak dan istrinya di tempat itu untuk mencari sesuatu serta meneruskan dakwah yang dilakukan di sekitar wilayah Makkah, sebagai perintah Allah SWT. Awalnya, hal ini tidak mendapatkan persetujuan dari Siti Hajar, karena Siti Hajar takut terlantar.

Akan tetapi, Nabi Ibrahim kemudian dapat meyakinkan Siti Hajar, sehingga apapun yang terjadi pada keluarganya, bahkan menimpa dirinya sekalipun, akan tetap mematuhi perintah Allah SWT. Akhirnya, Nabi Ibrahim meninggalkan kota Makkah sambil mengangkat kedua tangannya dan berdoa, sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an, yang merupakan sumber sejarah paling autentik dalam QS. Ibrahim (14) ayat 37.

QS Ibrahim 37 Sejarah Makkah

 

Berlari di antara Shafa dan Marwa

Setelah agak lama, akhirnya bekal makanan dan minuman yang dibawa oleh Siti Hajar habis. Siti Hajar kelaparan dan kehausan, begitu juga anaknya Ismail. Dalam keadaan kebingungan itu, akhirnya Siti Hajar berlari-lari menuju sebuah bukit yang paling dekat dengan Ka’bah, yaitu bukit Shafa, dengan harapan ada seseorang yang dimintai pertolongan untuk memberinya makanan.

Namun, ternyata apa yang diharapkannya tidak ada sama sekali. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya Siti Hajar berlari menuju Bukit Marwa dengan harapan yang sama, yaitu bertemu dengan seseorang yang bisa dimintai pertolongan. Akan tetapi, ia juga tidak mendapatkan hasilnya.

Tidak cukup sampai begitu, kesulitan Siti Hajar masih ditambah dengan keadaan bayinya yang telah beberapa lama tidak makan.

Kemudian, Siti Hajar berlari-lari di antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, sampai akhirnya datanglah malaikat untuk memberikan pertolongan atas perintah Allah. Dan, dari kepakan sayap malaikat tersebut, keluarlah air. Air tersebut kemudian diberi nama ar Zam-zam. Air Zam-zam keluar dengan derasnya. Siti hajar segera membendung air tersebut agar tidak mengalir kemana-mana.

Siti Hajar kemudian meminumnya dan memberikan air tersebut untuk anaknya. Namun, ada versi lain yang mengatakan bahwa setelah Siti Hajar berlari-lari antara Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali, akhirnya Nabi Ismail yang masih kecil itu mendorong dan menyibak tanah di bawah kakinya, hingga akhirnya dari bawah kaki Nabi Ismail tersebut keluar air yang disebut Zam – zam.

 

Pemukiman Baru di Sekitar Mata Air Zam – Zam

Beberapa hari kemudian, datanglah Suku Jurhum. Mereka beristirahat di tempat yang paling rendah di Makkah yang bernama Kada’a (sekarang tempat tersebut lebih terkenal dengan sebutan Kuday).

 

Sumur Zam - Zam Makkah

Tidak lama kemudian, tiba-tiba mereka melihat burung yang berputar-putar di udara, yang menunjukkan bahwa di sekitar daerah tersebut ada sumber mata air. Setelah diseldiki, ternyata sumber mata air itu benar-benar ada, yaitu air zamzam yang ada di dekat Ka’bah.

Kemudian, Suku Jurhum tersebut meminta izin kepada Siti Hajar untuk bisa menetap di Makkah. Siti Hajar mengizinkannya dengan syarat tidak menguasai air zamzam. Suku Jurhum menyetujui persyaratan tersebut. Maka, sejak itulah Suku Jurhum menjadi penghuni kota Makkah.

Yang kemudian disusul oleh Suku Arab lainnya, seperti Suku Amaliq. Maka, sejak itu terbentuklah pemukiman di kota Makkah al-Mukarramah.

Setelah Nabi Ibrahim dan Ismail meninggal, yang menguasai dan mengendalikan Makkah, baik dari segi peribadatan dan pemerintahan adalah Bani Ismail (keturunan Ismail bin Ibrahim). Hal ini berlangsung sampai sekitar abad kelima Masehi.

Setelah itu, pecahnya bendungan air di Arab Selatan, sehingga penduduk Arab Selatan mengungsi ke daerah yang lebih aman. Di antara kelompok yang pindah dan mencari perlindungan tersebut adalah mereka yang menamakan diri sebagai kelompok Khuza’ah.

 

Makkah Dipimpin oleh Keturunan Bani Ismail.

Mereka pindah ke Makkah dengan berbagai cara, sehingga dapat mengambil alih kepemimpinan dari Bani Ismail. Mulai saat itulah, kelompok Khuza’ah menguasai Makkah.

Selanjutnya, sejarah berlangsung dalam drama lain, yakni salah seorang dari keturunan Bani Ismail yang bernama Qushay bin Kilab melakukan perlawanan untuk merebut kembali hak-hak Bani Ismail.

Tindakan yang dilakukan oleh Qushay ini sangat didukung oleh kalangan Arab yang lain, yang merasa hak-hak mereka banyak dikendalikan oleh Khuza’ah dan kelompoknya. Akhirnya, langkah yang dilakukan oleh Qushay tersebut berbuah dengan keberhasilan yang cemerlang. Akhirnya Makkah kembali dipimpin oleh keturunan Bani Ismail.

Makkah Rasulullah Ka'bah

 

Dengan peralihan dan pengembalian kekuasan dari Qushay ke tangan Bani Ismail, maka Bani Ismail segera membangun sebuah lembaga yang dikhusukan untuk media musyawarah rakyat yang diberi nama Dar Nadwah.

Di dalam wadah inilah semua kelompok Qushay, penduduk Makkah lainnya, dan Bani Ismail, bersama-sama melakukan musyawarah tentang peribadatan dan pemerintahan.

Dengan kondisi seperti ini, antara Bani Ismail dengan Qushay dan penduduk Makkah, dapat hidup bersama dengan mengembangkan segala sektor, termasuk wilayah ekonomi dan lainnya. Dikutip dari laman wikipedia, Qushay bin Kilab adalah leluhur dari suku Quraisy. Dimana salah satu keturunannya adalah Nabi Muhammad SAW.