Ibadah Haji Rasulullah

Ibadah Haji adalah rukun Islam kelima dan Allah telah menjadikannya wajib hanya bagi mereka yang mampu. Ini berarti bahwa hanya mereka yang memiliki kemampuan, baik kemampuan finansial maupun kemampuan fisik yang diperlukan wajib untuk melakukan ibadah ini.

Dalam sejarah hidupNya, Rasulullah hanya melaksanakan perjalanan spiritual ibadah haji sekali seumur hidup, yakni saat Haji Wada’.

 

Ibadah Haji - Rasulullah

 

Ibadah haji sebagai rukun Islam yang kelima mulai diwajibkan semenjak turun nya QS Ali Imran ayat 97, atau pada tahun 4 Hijriyah (625 M). Allah menetapkan bahwa syari`at haji dari Nabi Ibrahim AS wajib dilaksanakan umat RAsulullah Muhammad SAW

Beberapa tahun sebelum melakukan Haji Wada’, Rasulullah dan Para Sahabat  meninggalkan Madinah ke Makkah dalam keadaan Ihram. Mereka berihram  untuk melakukan Umroh dan mereka membawa serta hewan kurban bersama mereka.

Namun, orang Quraisy menolak mereka masuk ke Makkah. Dan atas peristiwa inilah yang  mengakibatkan penandatanganan Perjanjian bersejarah, yang bernama Perjanjian Hudaibiyah. Perjanjian yang ditandatangani Rasulullah dengan orang – orang  Quraisy pada tahun keenam setelah Beliau Hijrah.

Sesuai isi perjanjian, Rasulullah SAW dan Para Sahabat kembali ke Madinah tahun itu juga tanpa bisa melakukan ibadah Umroh. Hal ini karena memungkinkan Rasulullah dan Para Sahabat untuk kembali ke Makkah tahun depan, untuk melakukan haji dan Umroh walaupun terbatas selama 3 hari.

Segera setelah menandatangani perjanjian, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk menyembelih hewan kurban mereka dan mengakhiri Ihram nya. Beberapa Sahabat, bagaimanapun, menyatakan keberatan.

Mereka menolak menyembelih hewan – hewan qurban yang dibawanya sebelum mencapai tujuan mereka yang sebenarnya. Tetapi setelah Rasulullah SAW bertahallul dan menyembelih hewan kurbannya, Para Sahabat pun mengikutinya.

Rasulullah SAW menunaikan ibadah haji sekali seumur Beliau . Ibadah haji dilakukan setelah penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah). Dan ibadah itu dikenal sebagai Haji Wada’ atau haji perpisahan.

Rasulullah SAW menggunakan haji ini untuk mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang beriman dan mengajarkan mereka pesan inti Islam. Dan di Haji Wada’ ini pula Rasulullah mengisyaratkan kepada mereka tentang penyelesaian perannya sebagai Rasul (utusan) Allah.

 

Manasik Haji Rasulullah

Rasulullah SAW telah berangkat untuk menunaikan ibadah haji dari Madinah, disertai oleh sekitar 100.000 orang beriman, termasuk wanita dan anak-anak. Ketika rombongan tiba di Dzulhulaifah (Bir Ali), Rasulullah mendirikan kemah (tenda) hingga lewat tengah malam.

Sementara pada pagi harinya Rasulullah memerintahkan kepada seluruh jamaah haji yang menyertai perjalanan Beliau untuk mengenakan pakaian ihram. Dengan pakaian ihram inilah mereka memiliki derajat yang sama.

Rasulullah menaiki unta kemudian menuju tempat dekat masjid bernama Al-Baida,  dari tempat ini Rasulullah bertalbiah yang diikuti oleh kaum muslimin di belakangnya. Dengan mengucapkan Talbiah, Rasululah dan para rombongan memasuki kota Makkah dan melakukan tawaf dan sai.

Pada tanggal 8 Dzulhijjah, Rasulullah SAW menuju ke Mina dan bermalam di sana. Setelah sholat subuh pagi hari pada tanggal 9  Dzulhijjah, Rasulullah SAW dan orang – orang yang beriman menuju Arafah. Di mana mereka melakukan sholat Dzuhur dan Ashar bersama secara jama’.

Di Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan Khotbah Arafah yang bersejarah, dan menghabiskan berjam-jam sisa waktu di Arafah dalam lantunan doa, sampai matahari terbenam.

 

Ali Imran 97-Kewajiban Haji

 

Setelah matahari terbenam, Beliau beranjak ke Muzdalifah dan berdoa bersama Maghrib dan Isya. Pagi berikutnya pada 10 Dzulhijjah, Beliau kembali ke Mina dan menyelesaikan ritual haji.

Termasuk melempar batu ke Jamarat, mengorbankan hewan, mencukur kepala dan melakukan Tawaf Ifadah dan Sai ‘.

Rasulullah SAW tinggal kembali di Makkah selama 10 hari setelah naik haji dan kemudian kembali ke Madinah, ditemani oleh Para Sahabat.

 

Isi Khutbah Rasulullah saat Haji Wada’

Dalam Khotbah saat haji Perpisahan (Haji Wada’), Rasulullah SAW memuji dan memuliakan Allah SWT. Dilansir dari pendapat Dr. Ali Al-Ghamdi, Saat Perjalanan Haji Wada’, Rasulullah menyampaikan khutbah yang merupakan wasiatnya yang terakhir.

Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW yang Mengharukan Pada Haji Wada’ disampaikan tanggal 9 Dzulhijah tahun 10 Hijrah. Khutbah ini disampaikan di Lembah Uranah, Gunung Arafah.

“Wahai manusia, dengarlah baik-baik apa yang hendak kukatakan. Aku tidak tahu apakah aku dapat bertemu lagi dengan kalian setelah tahun ini. Maka dengarlah kata-kataku dengan teliti dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak hadir disini.

 

“Wahai manusia, seperti halnya kalian menganggap bulan dan kota ini sebagai kota suci, maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang muslim sebagai amanah yang suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kalian kepada pemiliknya yang berhak. Jangan kau sakiti orang lain, agar ia tidak menyakitimu pula.”

“Wahai manusia! Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram (terlarang) bagimu, sampai datang masanya kamu menghadap Tuhan, dan pasti kamu menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung jawaban atas perbuatanmu. Saya sudah menyampaikan ini. Maka barangsiapa yang telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.”

“Ingatlah bahwa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhanmu, dan Dia pasti membuat perhitungan di atas segala amalan kamu. Allah telah mengharamkan riba. Oleh karena itu, segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.”

“Semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Jangan kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak ada lagi riba, dan riba Abbas bin Abdul Muttalib semua sudah tidak berlaku.

Semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi’a bin Harith bin Abdul Muttalib.”

Waspadalah terhadap setan demi keselamatan agamamu. Sesunggunya ia telah berputus asa untuk menyesatkanmu dalam perkara-perkara besar. Maka berjaga-jagalah supaya jangan sampai kamu disesatkan dalam perkara-perkara kecil.

 

Rasulullah memperhatikan Hak Atas Suami – Istri

 

“Wahai manusia! Hari ini syaitan sudah berputus asa untuk disembah di tanah ini selama-lamanya. Tetapi bila kamu perturutkan dia maka senanglah dia. Karena itu peliharalah agamamu ini sebaik-baiknya.

Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci.”

 

Al Maidah ayat 3 Haji Wada'- Rasulullah

 

“Wahai manusia, sebagaimana kamu mempunyai hak atas istrimu, mereka juga mempunyai hak atasmu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka atasmu, maka mereka juga mempunyai hak atas nafkahmu secara lahir maupun batin.”

“Layanilah mereka dengan baik dan belaku lemah lembut terhadap mereka, karena sesungguhnya mereka adalah teman dan sahabatmu yang setia, serta halal hubungan suami-istri atas kalian. Dan kamu berhak melarang mereka memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam rumahmu.”

“Wahai manusia, dengarlah dengan sungguh-sungguh kata-kataku ini. Sembahlah Allah dan dirikanlah shalat lima waktu dalam sehari. Berpuasalah engkau di bulan Ramadhan.

Tunaikan zakat dari harta yang kau miliki, serta tunaikan ibadah haji sekiranya engkau mampu melaksanakannya. Ketahuilah, bahwa setiap muslim adalah saudara dengan derajat yang sama, tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya, kecuali dalam taqwa dan amal shaleh.”

“Ingatlah, bahwa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari nanti. Dan pada hari itu, kamu akan dimintai pertanggungjawabkan segala yang kamu perbuat. Karena itu, waspadalah, jangan sampai kamu keluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.”

“Wahai manusia, tidak akan ada lagi nabi dan rasul selepas ketiadaanku dan tidak akan lahir agama baru. Oleh karena itu, wahai manusia, dengarlah dengan sungguh-sungguh dan pahamilah kata-kataku yang telah kusampaikan kepadamu. Sesungguhnya telah aku tinggalkan dua hal kepadamu, yakni Al Qur’an dan Sunnahku, yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selamanya.”

“Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku menyampaikan kepada orang lain, dan hendaknya orang lain itu menyampaikan kepada yang lain. Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku ini dari mereka yang hanya sekedar mendengar dariku tanpa memahaminya. Saksikanlah Ya Allah, bahwa telah aku sampaikan risalah ini kepada hamba-hamba-Mu.”

 

Rasulullah Meninggalkan Arafah

Pada hari berikutnya Rasulullah  menuju ke Muzdhalifah (Masy’aril Haram) dan dilanjutkan ke Mina. Di sanilah Rasulullah menyembelih kurban 63 ekor unta. Yang melambangkan 63 tahun usia Rasulullah, lalu menggenapkan kurbannya menjadi 100 ekor unta.

Setelah itu Rasulullah  memotong sebagian rambutNya sebagai tanda kesempurnaan pelaksanaan ibadah haji.