Letak Jabal Tsur Makkah

Gunung Tsur (atau dikenal juga dengan Jabal Tsur) adalah gunung yang terletak di kota suci Makkah Al Mukarramah.  Jabal Tsur (bahasa Arab: جبل ثور)  yang berarti Gunung Banteng, menjadi salah satu tempat bersejarah dimana di dalamnya terdapat sebuah gua.

Gua inilah tempat dimana Rasulullah SAW dan sahabat Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu singgah dalam peristiwa Hijrah.

Jabal Tsur di Makkah

 

Di Gua Tsur Rasulullah SAW dan sahabat Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu mencari perlindungan selama tiga hari tiga malam dari kejaran kaum kafir Quraish. Inilah bagian dari skenario yang ditetapkan oleh Allah SWT dalam peristiwa sejarah Hijrahnya Rasulullah. Ketika mereka berdua meninggalkan kota Makkah menuju ke Yatsrib (Madinah).

Jika dilihat dari peta Jabal Tsur terletak di wilayah Kuday, atau sekitar 11 kilometer arah selatan dari Masjidil Haram Makkah. Hayyu Al-Hijrah adalah sebutan populer bagi Jabal Tsur oleh penduduk sekitar.

Sebutan ini memang terkait dengan Bukit Tsur sebagai saksi sejarah peristiwa hijrah nya Rasulullah SAW ke Madinah.

Tinggi Jabal Tsur sekitar  1.405 meter diatas permukaan laut, diperlukan waktu sekitar dua jam untuk mendaki ke puncaknya. Turun sedikit dari puncak gunung, terdapatlah sebuah gua, tingginya sekitar 1,25 meter dengan luas 3,5 meter persegi.

Terdapat dua lubang masuk di sisi sebelah  barat dan timur. Ukuran nya yang kecil hanya dapat menampung tidak lebih dari 3 orang di dalamnya

Lubang di sebelah barat itulah yang merupakan pintu masuk yang digunakan Rasulullah SAW bersembunyi. Kini Jabal Tsur merupakan salah satu destinasi peziarah di seputar kota Makkah Al Mukarramah.

Tinggi dan terjalnya medan yang harus dilalui membuat sebagian besar jamaah umroh dan haji hanya melihat Jabal Tsur dari kaki bukit saja.

 

Hijrah Menuju Madinah melalui Gua Tsur

Jabal Tsur akan selau dikenang dalam sejarah panjang umat muslim hingga akhir zaman. Kisah ini bermula tatkala Malaikat Jibril mengabarkan kepada Rasulullah,  bahwa orang-orang kafir Quraisy telah membulatkan tekad untuk membunuh Beliau.

 

Jalan Menuju Jabal Tsur

Rasulullah SAW melaksanakan Hijrah tentu saja bukan dilandasi rasa takut karena ancaman kaum Kafir, namun karena datangnya wahyu dan atas izin Allah SWT.

Atas izin Allah malaikat Jibril yang mengatur perjalanan hijrah Rasulullah SAW seraya berkata, “Malam ini, Kamu jangan berbaring di tempat tidur yang biasanya.”

Benar saja, ketika malam tiba rumah Rasulullah SAW telah di kepung oleh orang kafir dari kabilah kaum Quraisy. Sebelum beranjak keluar rumah Rasulullah berpesan kepada Ali bin Abi Thalib untuk menggunakan jubah dan tidur di tempat tidur Beliau. Ali bin Abi Thalib malam itu menyamar sebagai Rasulullah, untuk mengelabui musuh.

Atas izin Allah SWT, Rasulullah dapat  keluar dari rumah yang telah dikepung tanpa dilihat oleh  orang-orang kafir Quraisy. Allah SWT menjadikan mereka tidak dapat melihat sewaktu Nabi SAW keluar.  Dikisahkan Rasulullah menaburi kepala – kepala kaum kafir Quraisyi tanpa disadari dengan debu.

Para pemuda Quraisy yang sedari tadi mengepung rumah Rasulullah merangsek masuk ke dalam rumah. Namun mereka dibuat terkejut, ternyata sosok yang dicari sudah tidak ada, dan hanya di temukan Ali bin Abi Talib yang sedang berbaring di tempat tidur Rasulullah.

Sementara itu setelah Rasulullah berhasil keluar dari rumah, Beliau menjemput sahabat Abu Bakar Ash-Siddiq yang saat itu sedang tertidur. Beliau dan Abu Bakar Ash-Siddiq berangkat terlebih dahulu ke Madinah.

Kemudian sahabat Ali bin Abi Thalib, yang menggantikan posisi tidur Rasulullah, sementara waktu tinggal di Mekkah.

Sahabat Ali bin Ab Thalib mendapat mandat untuk menyelesaikan seluruh amanah umat, juga mengembalikan sejumlah barang titipan kepada pemilik masing-masing.

Tentu saja tugas ini bukan tanpa risiko., namun mampu dilaksanakanya tanpa sedikitpun merasa cemas.  Dikemudian hari Beliau menyusul Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Siddiq Ali menuju ke Kota Yatsrib (Madinah).

 

Beristirahat di Gua Tsur

Lolos dari kepungan pemuda – pemuda Kafir Quraysi di malam itu bukan berarti perjalanan hijrah Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ash-Siddiq mulus tanpa kendala. Justru pemuda – pemuda kaum Kafir tampak bertambah beringas. Karena mereka merasa dipermalukan semenjak mengetahui lolosnya Rasulullah SAW.

Sayembara pun segera digelar dengan hadiah yang sangat menggiurkan. Bagi yang mampu menangkap Rasulullah dalam keadaan hidup atau mati, akan diganjar dengan hadiah 100 ekor unta. Jadilah perjalanan hijrah Rasulullah yang ditemani sahabat Abu Bakar Ash-Siddiq bukan saja melelahkan, namun juga bertaruh nyawa.

 

Jabal Tsur Gua

Perjalanan yang akan dilalui memang panjang, jarak antara kota Makkah dan Madinah sekitar 450 kilo meter, dan itu ditempuh bukan melalui jalan tol seperti saat ini. Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Siddiq memutuskan untuk beristirahat terlebih dahulu. Mereka beristirahat  di sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Tsur yang terletak di puncak Jabal Tsur.

Sebelumnya keluar meninggalkan rumah, sahabat Abu Bakar telah mengutus putranya, Abdullah, untuk mengamati situasi dan berita terbaru yang berkembang di kota Makkah. Perkembangan situasi Kota Makkah kemudian dilaporkan kepada Ayahanda yang sedang berada di dalam gua.

 

Bukti Kesetiaan Abu Bakar Ash-Shiddiq

Abu Bakar As-Shiddiq bukanlah seorang Rasul, namun Beliau adalah orang yang paling kuat keimanannya dan orang yang paling mencintai Rasulullah SAW. Tak ingin terjadi sesuatu yang jelek menimpa Rasulullah, saat sampai di mulut gua, Abu Bakar Ash-Siddiq pertama kali masuk. Ia bermaksud membersihkan gua jabal Tsur.

Sebagai orang yang menetap di gurun, Abu Bakar sadar betul jika tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, kecuali ada ular yang berbisa. Khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah, di tutup nya lubang-lubang di gua dengan potongan – potongan kain.

Abu Bakar khawatir apabila ada binatang berbahaya semacam ular dan kalajengking yang keluar dari lubang akan melukai Rasulullah SAW.

Kain yang tak seberapa membuat dua lubang tersisa dan belum Ia tutup. Abu Bakar berpikir nantinya bisa Ia tutupi dengan kedua jempol kakinya. Dirasa aman, Abu Bakar Ash-Siddiq mempersilakan Rasulullah untuk masuk dan beristirahat ke dalam gua.

Lelah yang melanda, membuat Rasulullah tertidur di pangkuan Abu Bakar Ash-Siddiq.

Ketika Rasulullah tertidur, tiba-tiba seekor ular menggigit kaki Abu Bakar Ash-Siddiq. Ia menahan dirinya untuk tidak bergerak saat mendapat serangan hewan berbisa itu. Abu Bakar Ash-Siddiq Ash-Siddiq berusaha sekuat tenaga menahan sakit. Beliau tidak bergerak sedikitpun, karena tidak ingin membangunkan Rasulullah dari istirahat di pangkuan nya.

Namun, Abu Bakar Ash-Siddiq  adalah manusia biasa. Bisa ular yang telah menjalar ke tubuh Beliau membuat rasa sakit yang luar biasa. Beliau tetap tegar, tak terasa airmata (sebagian meriwayatkan sebagai Keringat) pun menetes, dan tanpa sengaja terjatuh di wajah Rasulullah.

Rasulullah pun terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu Bakar Ash-Siddiq ?” Abu Bakar Ash-Siddiq menjawab, “Aku disengat ular”.

 

Sang Ular yang Telah Merindukan Kedatangan Rasulullah

Seperti yang diceritakan oleh Syaikh Mustafa Mas’ud al-Naqsabandi al-Haqqani kepada Nahdlatul ‘Ulama, Perlahan Rasulullah menarik kaki Abu Bakar dari lubang itu. Merasa ada yang tidak beres, Rasulullah pun berkata pada ular.

Hai, Tahu kah Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?

Ular Jabal Tsur

 

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

“Ya aku mengerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan ‘Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga,” kata ular.

“Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. “Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah,” lanjut ular.

Apa kata Allah?

“Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasih Ku akan datang pada waktunya,’ jawab Allah.

“Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. ”

“Lihatlah ini. Lihatlah wajahku,” kata Rasulullah SAW. Dan sang ular yang telah ribuan tahun menunggu pun memandang wajah Rasulullah SAW penuh dengan rasa cinta dan rindu.

Tak ingin Abu Bakar berlama – lama menahan sakit, Rasulullah pun segera mengobati Abu Bakar. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa Nabi mengobati Abu Bakar Ash-Siddiq dengan ludah beliau. Rasulullah menerapkan ludahnya pada luka Abu Bakar, dan atas izin Allah rasa sakit itupun menghilang.

 

Kisah Rasulullah SAW dan Abu Bakar di dalam Gua

Selama tiga malam berturut-turut Rasulullah SAW dan Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu tetap tinggal di dalam gua Tsur. Selama  masa – masa itu, putra Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu, Abdullah, akan melewati malam-malam di dekatnya. Pemuda itu akan kembali ke Mekah pagi – pagi sekali sehingga orang Quraish tidak tahu bahwa dia telah tidur di tempat lain.

Setiap hari di Mekkah ia mengumpulkan informasi tentang kegiatan kaum Quraishy, dan setiap malam kembali ke Gunung Tsur untuk memberi tahu Nabi SAW dan ayahnya Abu Bakar Ash-Siddiq Ash-Siddiq.

Budak Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu, Amir bin Fuhayra , merumput untuk kambing – kambing milik Abu Bakar di dekat gua. Sehingga kedua orang yang dicintainya bisa minum susu segar.

Keesokan paginya Amir akan membawa kambing-kambing itu kembali ke Mekah, di sepanjang rute yang sama dengan yang diambil putra Abu Bakar Ash-Siddiq, untuk mengaburkan jejak kakinya.

 

Persekongkolan Laba-laba dan Burung Merpati di Gua Tsur

Pengejaran terus menerus dilakukan oleh pemuda – pemuda kaum Kafir Quraisy ke segala penjuru. kelompok pencarian Quraish yang menjelajah daerah selatan Mekkah tibalah di tempat Nabi SAW dan Abu Bakar Ash-Siddiq bersembunyi.

Seandainya mereka melihat kebawah, tentu mereka melihat kita,” ujar Abu Bakar

 

Jabal Tsur Merpati

 

Dengan orang-orang Quraish yang begitu dekat untuk menemukan tempat persembunyian mereka. Abu Bakar Ash-Siddiq Radhiyallahu ‘anhu menjadi sangat tegang, Beliau mengkhawatirkan keselamatan Nabi SAW.

Tenanglah, Sahabatku. jangan takut dan jangan bersedih, sesungguhnya Allah beserta kita“,” Rasulullah SAW berusaha menepis kekhawatiran Abu Bakar.

Rombongan pemburu itu sempat berhenti didepan Gua Tsur. Ada diantara mereka ingin masuk dan memeriksa gua tersebut.

“Tidak mungkin mereka bersembunyi di dalam. Lihatlah! Ada sarang laba-laba yang berlapis-lapis. juga ada sarang burung merpati. Gua ini pasti sudah sangat lama tidak dimasuki orang,” ujar salah seorang dari pemburu mencegah keinginan temannya.

Merekapun berlalu meninggalkan Gua Tsur. Menjelaskan adegan ini, Quran menyebutkan dalam Surah Taubah (9) ayat 40 :

 

At Taubah 40 Jabal Tsur

 

Sebenarnya Ketika mereka berada di dalam gua, Allah SWT mengirim seekor laba-laba untuk memutar jaring dari semak di seberang pintu masuk gua. Allah SWT juga memerintahkan dua merpati untuk terbang di antara laba-laba dan pohon, membuat sarang dan bertelur. Mereka “berkomplot” untuk melindungi Rasulullah SAW dan Abu Bakar.

 

Melanjutkan Perjalanan menuju Yatsrib (Madinah)

Setelah tiga hari ketika mereka mengetahui bahwa pencarian oleh orang Quraish telah mereda. Perlahan,  mereka meninggalkan gua dan menuju Yathrib (Madinah). Nabi dan Abu Bakar pergi berhijrah ke Madinah dengan mengendarai dua ekor unta.

Abu Bakar menyiapkan uang sisa kekayaan Nya sebanyak lima sampai enam ribu dirham (Said Ramadhan, Fiqh al-Sirah, hal. 83). Segala persiapan dan bekal untuk perjalanan disiapkan oleh Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Asma’ merupakan putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, salah satu Khulafaur Rasyidin juga mertua Nabi Muhammad. Adik Asma’ yaitu Aisyah merupakan istri Nabi Muhammad.

Ketika mereka akan memulai perjalanan ke Madinah. Asma’ tidak memiliki sesuatu apappun guna mengikatkan makanan dan minuman untuk Beliau ke pelana Unta, selain ikat pinggang nya saja.

Setelah mengadukannya pada Abu Bakar ash-Shiddiq, maka ayahnya memerintahkan agar membelah ikat pinggangnya, dan Asma’ pun melakukannya. Dia membuka kancing ikat pinggangnya, merobeknya menjadi dua bagian, bagian satunya Ia pakai kembali, dan bagian lain nya digunakan untuk mengikatkan makanan.

Sejak saat itu Asma’ binti Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu di beri gelar sebutan Dzatun-nithaqaini (ذَاتُ النِّطَاقَتَيْنِ) atau Wanita yang Memiliki Dua Ikat Pinggang. Kisah Ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

 

Jabal Tsur Makkah

 

Itulah sedikit kisah perjuangan Rasulullah SAW dan para Sahabat dalam perjalanan Hijrah menuju Madinah melalui Jabal Tsur. Kini tempat tersebut menjadi salah satu tujuan ziarah dan city tour BIRO UMROH di tempat sejarah seputar kota Makkah Al Mukarramah. Wallahu a’lam bish-shawab, Semoga Bermanfaat