Yang Harus Dilakukan oleh Jamaah Haji Tamattu’ Ketika Sampai di Mekkah akan kami coba jelaskan dalam tulisan dibawah ini. Secara Umum dijelaskan bahwa Haji Tamattu’ adalah jamaah yang melaksanakan ibadah umroh terlebih dahulu sebelum melaksanakan ibadah haji. jamaah haji yang sudah tiba di kota Makkah Al-Mukaramah harus menunaikan umroh lebih dulu sebelum melaksanakan haji Tamattu’.

 

haji tamattu'

 

 

Jamaah haji yang baru tiba dari tanah air maupun dari kota Madinah saat sampai di Masjidil Haram sebaiknya mulai masuk dengan mendahulukan kaki kanan sambil berkata:

بِسْمِ اللّهِ وَالصَّلاَ ةُ وَالسَّلاَ مُ عَلَى رَسُوْ لِ اللّهِ.اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُ نُوْ بِىْ وَا فْتَحْلِيْ أَ بْوَا بَ رَحْمَتِكَ.أَعُوْذُ بِاللّهِ اْلعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ اْلكَرِ يْمِ وَ بِسُلْطَا نِهِ مِنَ الشَّيْطَا نِ الرَّ جِيْمِ

“Dengan Nama Allah. Shalawat dan salam atas Rasulullah SAW. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu untukku. Aku berlindung kepada Allah yang agung, dengan wajah-Nya yang mulia, dengan kekuasaan-Nya yang abadi, dari setan yang terkutuk.”

Kemudian menuju Hajar Aswad untuk memulai thawaf. Jika memungkinkan hendaklah menyentuh Hajar Aswad dengan tangan kanan menciumnya. Namun, jika tidak mungkin untuk menyentuh dan menciumnya, cukuplah dengan menghadap ke arahnya dan memberi isyarat dengan tangan. Ketika hendak menyentuh Hajar Aswad sebaiknya jemaah berhati-hati dengan situasi yang saling berdesak-desakan, jangan sampai mengakibatkan orang lain cedera.

Nabi Muhammad SAW bersabda kepada Umar ibn Khattab, “Engkau adalah seorang yang kuat. Janganlah engkau mendesak karena engkau akan mencederai mereka yang lemah. Jika engkau mendapat peluang, maka sentuhlah Hajar Aswad. Kalau tidak, maka menghadaplah ke arahnya, bertahlil dan bertakbirlah.” (HR. Ahmad [1/28] dan Baihaqi [5/80]).

Doa yang dibaca pada saat menyentuh Hajar Aswad adalah sebagai berikut:

بِسْمِ اللّهِ,اَ للّهُ اَ كْبَرُ

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”

 

اَللّهُمَّ إِ يْمَا نًا بَكَ وَتَصْدِ يْقًا بِكِتَا بِكَ وَوَ فَا ءً بِعَهْدِ كَ وَ ا تِّبَا عًا لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ

“Ya Allah, aku mencium batu ini dengan penuh keimanan kepada-Mu, membenarkan kitab-Mu yang suci, memenuhi janji kepada-Mu, dan mengikuti sunah Nabi-Mu.”

 

Setiap putaran tawaf, dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di sana pula. Pada rukun Yamani cukup menyentuh tanpa perlu menciumnya. Kalaupun tidak memungkinkan untuk menyentuhnya, maka lewatilah tanpa harus memberi isyarat kepadanya. Doa yang ma’tsur (ada dalam Al-Qur’an atau hadis) dalam tawaf hanya ketika berada diantara rukun Yamani dan Hajar Aswad, yaitu:

رَبَّنَا ءَ اتِنَا فِي الدُّ نْيَا حَسَنَةً وَ فِي اْلأَ خِرَ ةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَ ا بَ النَّا رِ

“Wahai Tuan kami, anugerahkanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akirat. Peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Setiap kali melewati Hajar Aswad, hendaknya membaca takbir dan berdoalah sesuai dengan keinginan. Bisa juga berzikir kepada Allah SWT dengan bacaan yang disukai atau membaca berbagai ayat dari Al-Qur’an yang diinginkan.

 

 

hajar aswad

 

 

Syarat sahnya tawaf adalah niat di dalam ati, tidak perlu dilafalkan, bersuci, menutup aurat, menyelesaikan tujuh putaran, memposisikan Baitullah di sebelah kiri, dan melaksanakan tawaf di belakang Hijr Ismail. Dianggap belum menyelesaikan putaran tawaf, jika menerobos Hijr Ismail, karena sebagian besar Hijr Ismail adalah bagian dari Ka’bah.

Dalam pelaksanaan tawaf umroh dan tawaf Qudum (tawaf kedatangan) dianjurkan untuk melaksanakan dua amalan, yaitu: Pertama, al-idhthiba’, yaitu membuka bahu kanan bagi laki-laki , mulai dari awal pelaksanaan tawaf hingga selesai. Kedua, ar-raml, yaitu berjalan dengan langkah pendek dan dilakukan pada tiga putaran pertama.

Jika telah selesai melaksanakan tujuh putaran tawaf, bergeraklah menuju Maqam Ibrahim untuk melaksanakan shalat dua rakaat di tempat mana pun di lokasi Masjidil Haram, jika tidak bisa melakukannya di Maqam Ibrahim. Bacalah surah Al-Kaafirun pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah dan surah Al-Ahad setelah Al-Fatihah pada rakaat kedua.

Setelah selesai shalat dua rakaat, dianjurkan minum air Zam zam. Kemudian bergegaslah menuju tempat sa’i untuk berlari-lari kecil sebanyak tujuh kali di antara Shafa dan Marwah. Inilah yang disebut sa’i umroh. Perjalanan pertama dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah lalu perjalanan kedua dimulai dari Marwah dan berakhir di Shafa. Begitu seterusnya sampai tujuh kali.

Ketika sudah mendekati Bukit Shafa , dianjurkan membaca:

 

doa sai

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Barang siapa beribadah haju dan umroh, maka tidak ada kesulitan untuknya bertawaf untuk keduanya. Barang siapa beribadah sunah, maka itu akan sangat baik sekali. Sesungguhnya Allah itu Maha Bersyukur dan Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah ayat 158).

Kegiatan berikutnya adalah naik ke bukit Shafa sampai dapat melihat Ka’bah, jika hal itu memungkinkan. Kemudian menghadaplah ke arah Ka’bah dan mengangkat kedua tangan sambil memuji Allah SWT serta berdoa sesuai keinginan. Doa yang dibaca oleh Nabi Muhammad SAW di tempat ini (bukit Shafa) adalah:

 

لاَ إِلَهَ إِلاَّاللَّهُ وَ حْدَ هُ لاَ شَرِ يْكَ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِ وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كَلِّ شَيْ ءٍ قَدِ يْرُ.لاَإِلَهَ إِلاَّ اللّهُ وَ حْدَ هُ أَنْجَزَ وَ عْدَ هُ وَ نَصَرَ عَبْدَ هُ وَ هَزَمَ اْ لأ حْزَا بَ وَ حْدَ هُ  

“Tidak ada Tuan selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya semua kerajaan dan pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa, yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan menghancurkan musuh-musuh-Nya sendirian.”

 

Doa ini dibaca tiga kali, kemudian utarakan permintaan Anda kepada Allah SWT. Setelah itu turunlah dari bukit Shafa, kemudian berjalan menuju bukit Marwah. Ketika sampai pada tanda hijau, jemaah berlari agak kencang (berlari kecil) sampai di batas akhir tanda hijau, hal ini hanya dilakukan oleh jamaah haji laki-laki. Apabila sudah sampai di Marwah, lakukanlah hal yang sama dan membaca doa yang sama seperti yang dilakukan di Shafa.

 

haji tahallul

 

 

Setelah menyelesaikan tujuh kali putaran, maka cukur pendek rambut di kepala, tapi jangan sampai habis (gundul), kecuali jika ada tenggang waktu antara umroh dan pelaksanaan haji, yang memungkinkan rambut tumbuh kembali. Rasulullah SAW pernah memerintahkan kepada para sahabat saat haji Wada untuk memendekkan rambut setelah selesai umroh. Beliau tidak memerintahkan untuk mencukurnya karena mereka datang ketika pagi hari keempat bula Dzulhijjah. Sedangkan untuk perempuan, dianjurkan memotong rambutnya sepanjang ujung jari.

Sampai di sini, selesailah sudah amalan-amalan umroh dan bertahallul dari ihram dengan sempurna. Sejak itu, kembali diizinkan melakukan apa saja yang pada waktu ihram diharamkan.  Selanjutnya akan memakai ihram lagi dengan niat haji pada hari Tarawiah (8 Zulhijah). Bagi jamaah haji dari Indonesia yang mayoritas melaksanakan haji Tamattu’ diwajibkan membayar dam atau denda.

Inilah yang Dilakukan oleh Jamaah Haji Tamattu’ Ketika Sampai di Mekkah
Tag pada: