Dengan mengetahui aneka kesalahan yang sudah umum dilakukan oleh jemaah haji tersebut, tentunya kita dapat lebih berhati-hati dalam melaksanakan ibadah haji. Maupun bagi mereka yang memberikan praktik manasik haji, atau memberikan pengetahuan tentang haji. Setidaknya terdapat 21 Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji yang sering Dilakukan diantaranya yang sering penulis temui :

 

Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji

 

 

Pertama, Sudah umum jika melaksanakan perjalanan ibadah haji dan umroh kini menggunakan pesawat udara. Dalam praktinya jamaah haji dari Indonesia sering melewatkan Qarnul Manazil sebagai tempat miqat. Pesawat terbang pada ketinggian terbang di atas 30.000 kaki nyaris tidak melewati batas-batas miqat itu. Meskipun tetap ada yang pendapat Apabila sampai di Bandara King Abdul Aziz Jeddah belum melaksanakan ihram, dan tidak kembali ke Qarnul Manazil sebagai tempat miqat, maka wajib baginya untuk membayar fidyah. Fidyah dibayarkan dengan menyembelih hewan di kota Mekkah dan membagikan seluruhnya kepada fakir miskin.

Sepanjang 14 abad penetapan miqat makani nyaris tidak pernah menimbulkan perdebatan yang berarti. Hal ini disebabkan karena memang tempat miqat hingga saat ini tidak pernah berubah posisi. Tetapi ketika manusia sudah menemukan pesawat terbang masalah mulai muncul. Hal ini karena Pesawat terbang melalui jalur langit yang telah ditentukan secara internasional. Sementara tidak ada satu pun dalil miqat makani Rasulullah SAW bagi jamaah yang datang melalui jalur ’langit’.

Penulis mengambil pendapat dari Majelis Ulama Indonesia bahwa para Jama’ah Haji Indonesia yang akan langsung ke Makkah tidak melalui salah satu dari Miqat Makani yang telah ditentukan Rasulullah, MUI berpendapat bahwa masalah Miqat bagi mereka termasuk masalah ijtihadiyah. MUI Mengukuhkan Bandara Jenddah (King Abdul Aziz) merupakan tempat miqat Makani bagi yang langsung ke Makkah dan Bir Ali bagi yang lebih dahulu ke Madinah.

 

bandara jeddah

 

 

Kedua,Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji lain dimana sebagian besar jamaah haji wanita meyakini bahwa pakaian ihram harus berwarna tertentu. Hal ini tentu saja tidak benar, dan cenderung mengada – ada. Tidak ada ketentuan khusus mengenai warna tertentu bagi wanita. Karena sejatinya wanita berihram dengan pakaian yang biasa dia pakai.

Ketiga Ada anggapan bahwa kaum wanita yang hendak melaksanakan ibadah haji atau umrah harus dalam keadaan suci dari haid ketika melewati miqat. Sehingga ketika seorang wanita dalam keadaan haid dan melewati miqat, ia tidak perlu melaksanakan ihram. Anggapan tersebut salah besar, dan termasuk kedalam Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji karena haid tidak akan menghalanginya untuk melaksanakan ihram. Seorang wanita yang haid boleh melaksanakan ihram dan menunaikan kewajiban-kewajiban dalam pelaksanaan ibadah haji atau umrah, kecuali tawaf di Ka’bah. Karena untuk tawaf disyaratkan suci dan wanita yang sedang haid bisa menunda pelaksanaan tawaf sampai ia suci.

Keempat Kesalahan Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji lainnya adalah sebagian orang-orang yang berhaji atau berumrah menganggap bahwa pakaian yang dipakai dalam ihram tidak boleh diganti ketika kotor. Yang benar adalah pakaian ihram boleh diganti. Hendaknya orang yang dalam keadaan ihram tidak menghindari sesuatu kecuali yang sudah ditentukan untuk dihindari.

Kelima Sebagian orang yang berhaji beranggapan bahwa mereka harus berdoa dengan doa khusus ketika tawaf. Doa yang mereka dapatkan dari kitab-kitab manasik. Bahkan, ada di antara jemaah yang mengucapkan doa secara kolektif dan dipimpin oleh salah seorang dari mereka. Hal ini salah, ditinjau dari dua aspek: Pertama, tidak ada ketentuan hukum keharusan membaca doa-doa khusus karena Rasulullah SAW belum pernah memerintahkan untuk membaca doa-doa khusus dalam pelaksanaan tawaf. Kedua, membaca doa secara bersama-sama dapat mengganggu ketenangan jemaah lainnya yang sedang tawaf. Yang benar adalah setiap orang berdoa sendiri-sendiri tanpa mengeraskan suaranya dan boleh berdoa dengan bahasa masing-masing.

Keenam Kesalahan lain adalah para jemaah laki-laki membuka pundak kanannya (al-idhthiba’) ketika berihram. Ini tidak disyariatkan kecuali pada saat melakukan tawaf Qudum atau tawaf umrah. Dalam kondisi apa pun, pundak kanan jemaah laki-laki harus ditutup dengan selendang (ihram).

Ketujuh Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji yang lain nya adalah Sebagian jemaah haji mencium Rukun Yamani. Ini tidak benar, karena Rukun Yamani hanya disentuh, tidak dicium. Hajar Aswad yang dicium atau disentuh, jika mungkin. Dan jika keadaan tidak memungkinkan atau berdesak-desakan, cukup memberikan isyarat saja.

Kedelapan Sebagian jemaah haji mengusap-usap dinding Ka’bah. Kadang malah mengusapkan pakaian, sorban, baju, dan sebagainya di dinding-dinding Ka’bah untuk mencari berkah. Hal ini tidak pernah dijumpai dalam sunah Nabi. Rasulullah SAW hanya mengajarkan untuk mengusap Hajar Aswad dan Rukun Yamani saja.

 

hajar aswad

 

Kesembilan Hal lain yang tidak dibenarkan adalah saling berdesakan untuk mencium Hajar Aswad. Bahkan, antar jemaah kadang saling mendorong, mengimpit, memukul, dan berbagai tindakan buruk lainnya yang dapat menyakiti sesama jemaah haji. Mencium Hajar Aswad adalah sunah, hanya berlaku ketika keadaan cukup longgar. Jika berdesakan cukuplah memberikan isyarat dengan lambaian tangan ke arah Hajar Aswad.

Kesepuluh Kesalahan berikutnya adalah sebagian jemaah haji meyakini bahwa shalat dua rakaat tawaf harus di dekat Maqam Ibrahim. Ini yang menyebabkan terjadinya desakan di wilayah itu dan menganggu jalannya orang-orang yang sedang tawaf. Padahal shalat dua rakaat tawaf itu bisa dilakukan di mana saja di dalam Masjidil Haram.

Kesebelas Kesalahan Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji yang fatal kaum wanita adalah mereka sering kali berdesakan dengan kaum laki-laki di sekitar Hajar Aswad seingga tubuh mereka saling bersentuhan. Di sini bisa terjadi fitnah dan keburukan. Mereka membuat orang lain berdosa. Dalam keadaan seperti ini, meninggalkan keadaan berdesak-desakan di sekitar Hajar Aswad malah wajib hukumnya. Menghindari keburukan lebih diutamakan daripada mengambil kemaslahatan.

Kedua belas Melafalkan niat dengan keras ketika memulai tawaf dan sa’i, juga termasuk kesalahan.

Ketiga belas Ketika sebagian orang yang bertawaf tidak memungkinkan untuk menyentuh Rukun Yamani, mereka memberi isyarat dan bertakbir. Mereka menyamakannya dengan Hajar Aswad. Yang benar adalah, Rukun Yamani itu cukup disentuh jika memungkinkan. Jika tidak mungkin, tidak perlu memberi isyarat dan bertakbir.

Keempat belas Kesalahan yang berhubungan dengan pelaksanaan tawaf dan sa’i adalah sebagian jemaah melanjutkan tawaf dan sa’i agar putarannya sempurna, sekalipun shalat sudah hampir dimulai. Terkadang mereka ketinggalan satu rakaat shalat karena kondisi yang berdesak-desakan. Hendaknya mereka mendahulukan shalat berjamaah, baru kemudian menyempurnakan putaran tawaf atau sa’inya dari tempat di mana mereka berhenti.

Kelima belas Kesalahan berikutnya yang sering terjadi adalah sebagian jemaah haji meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam. Perilaku demikian diharamkan, karena bertentangan dengan sunah Nabi Muhammad SAW. Nabi tetap berada di Arafah sampai matahari benar-benar terbenam. Perlu diingat, meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam merupakan kebiasaan yang dilakukan orang-orang jahiliah.

Keenam belas Kebiasaan sebagian jemaah adalah berdesak-desakan untuk naik ke atas bukit Arafah pada waktu wukuf dan shalat di atasnya. Padahal seluruh area Arafah dapat menjadi tempat wukuf dan shalat.

 

ihram haji

 

 

Ketujuh belas Kesalahan Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji yang juga sering terjadi dan biasa dilakukan oleh jemaah haji di Muzdalifah, yaitu menyibukkan diri mencari kerikil untuk melontar jumrah sehingga mengabaikan untuk menyegerakan shalat Magrib dan Isya. Perbuatan itu salah dan tidak ada dasar hukumnya. Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan untuk memungut kerikil kecuali setelah mereka bertolak dari Masy’ar menuju Mina. Mereka diperbolehkan untuk mengumpulkan kerikil dari tempat mana pun. Tidak ada ketentuan yang menyebutkan bahwa kerikil tersebut harus diperoleh di Muzdalifah. Bahkan kerikil boleh dicari di Mina. Selain itu batu-batu yang akan digunakan untuk melontar jumrah tidak perlu dicuci dengan air.

Kedelapan belas Kesalahan lain yang sering terjadi adalah sebagian jemaah haji melontar jumrah dengan kuat dan keras, bahkan tak jarang sambil berteriak, mencaci maki dan mengumpat setan. Mereka menyangka bahwa mereka benar-benar melempari setan. Perilaku demikian tidak dibenarkan.

Kesembilan belas Para jemaah haji juga kerap melontar jumrah menggunakan batu besar, sepatu (sandal), atau kayu. Perbuatan tersebut merupakan kesalahan fatal. Seolah mereka benar – benar secara emosional sedang melepar setan yang menjelma menjadi sebuah tugu jamarat. Yang benar adalah melontar jumrah dengan menggunakan kerikil-kerikil sebesar kotoran kambing.

Keduapuluh Saling berdesakan, saling dorong, dan bahkan saling pukul saat melontar jumrah adalah tindakan yang tidak benar. Melontar jumrah sebaiknya dilakukan dengan tenang dan hati-hati. Sekarang area jumrah sudah diperbesar, sehingga tidak ada alasan untuk saling berdesakan, apalagi saling mendorong.

Keduapuluh satu Saat berziarah ke makam Rasulullah SAW di Masjid Nabawi, banyak jemaah haji dan umroh yang mengusap-usapkan tangan, kain, dan sejenisnya ke besi-besi atau dinding makam Rasulullah SAW untuk mendapatkan keberkahan. Seharusnya keyakinan tauhid tetap dijaga, yakni keberkahan hanya datang dari Allah SWT. Inti ziarah ke maqbarah Nabi Muhammad SAW adalah mengunjungi makam beliau sebagai tanda cinta, membacakan salam dan shalawat kepada beliau, dan memperbanyak doa di Raudhah Beliau. Selebihnya adalah hanya mengungkapkan perasaan cinta kepada Rasulullah SAW, keluarganya, dan para sahabatnya dalam rangka mencintai Allah SWT dan mengharap rida-Nya.

21 Kesalahan dalam Pelaksanaan Ibadah Haji yang sering Dilakukan
Tag pada: