Mengenal Masjid Ji’ronah

Masjid Ji’ronah terletak sekitar 29 km di timur laut Masjidil Haram, Makkah. Masjid ini merupakan salah satu masjid di mana para jamaah yang akan melaksanakan ibadah umroh melaksanakan Miqat.

Pada tahun 8 Hijriah Rasulullah SAW berkemah di sini selama beberapa hari setelah Pertempuran Hunain. Jika dilihat dari peta, masjid ini terletak di lembah atau wadi Saraf, Makkah.

 

Masjid Ji'ronah miqat

 

Ji’ronah atau penduduk Makkah menyebutnya Ju’ranah sendiri berasal dari nama yang seorang wanita yang mengabdikan dirinya guna menjaga serta membersihkan masjid ini.

Masjid Miqat Ji’ronah terletak di luar batas tanah haram. Miqat ini mengikuti jejak Rasulallah SAW yang berihram dari sini untuk menunaikan ibadah umroh

Menurut HR. Bukhari No 1780 dan Riwayat Muslim No 1253. Ji’ronah merupakan salah satu miqat yang di tetapkan oleh Rasulullah. Sebagaimana di riwayatkan, bahwa sepanjang sejarah setelah hijrah Rasulullah hanya melaksanakan 4 kali ibadah umroh. Salah satu nya Beliau bermiqat dari Ji’ranah

 

Sejarah Singkat 4 Kali Umroh Rasulullah

Rasulullah melaksanakan ibadah umroh setelah hijrah selama 4 kali, kecuali umroh pada haji Wada’, kesemuanya di tunaikan di bulan Dzulqa’dah.

Pertama, Miqat Umroh Hudaibiyah, ini merupakan umroh pertama pasca beliau Hijrah. Umroh pertama Rasulullah di tunaikan pada tahun 6 Hijriyah. Sayangnya rombongan yang berjumlah sekitar 1400 an ini di halangi oleh kafir Quraisy. Mereka mengira perjalanan umroh kali ini adalah untuk berperang.

Rombongan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Ka’bah yang ada di Masjidil Haram. Beliau dan Para sahabat kemudian menyembelih Unta, karena terhalangi di Hudaibiyah. Peristiwa inilah yang kemudian melatar belakangi Perjanjian Hudaibiyah.

Akhirnya Rasulullah melaksanakan tahallul dengan cara menggundul rambut. Langkah ini kemudian diikuti oleh Para Sahabat yang awalnya kecewa dengan langkah yang diambil Rasulullah. Mereka pun kembali ke Madinah pada tahun itu juga.

Salah satu isi perjanjian Hudaibiyah adalah Rasulullah diperbolehkan mengunjungi Makkah tahun depan, terbatas selama 3 hari saja. Atas dasar itulah Rasulullah melaksanakan umroh yang Kedua.

Umroh qadha di adakan setahun setelah perjanjian Hudaibiyah. Sesuai isi perjanjian, Beliau masuk ke Kota Makkah dan menetap  di sana selama 3 hari. Jika umroh yang pertama rombongan Rasulullah SAW “hanya” berjumlah 1.400 orang, kali ini sebanyak 2.000 orang Muslim menyertai Beliau.

Dan sesuai perjanjian pula, penduduk Kota Mekkah  dan mereka yang menetap di dekat  Masjidil Haram menyingkir. Baik itu ke pinggiran kota mamupun naik ke bukit– bukit. Selama 3 hari kedatangan Rombongan Rasulullah, mereka  untuk memata – matai seluruh aktivitas Rasulullah dan para sahabat.

Selama tiga hari selain menyelesaikan rangkaian ibadah umroh, Rasulullah menghabiskan banyak waktu untuk memperbanyak ibadah di Masjidil Haram baik salat fardu maupun itikaf.

Disamping itu Beliau dan Para Sahabat menyempatkan diri untuk menengok rumah – rumah yang ditinggalkan sejak enam tahun sejak peristiwa hijrah.

Tak lupa Beliau juga mengajak kaum Quraisy untuk memeluk Islam secara damai. Ketiga, Rasulullah melaksanakan ibadah Umroh ketika Beliau berhaji (Haji Wada’).

 

Ji’ronah dan Perang Hunain

Keempat, Beliau dan Rombongan melaksanakan Miqat untuk beribadah Umroh dari Ji’ronah. Ketika beliau menuju Hunain, kemudian kembali ke Makkah, lalu melakukan umroh dengna miqat Ji’ronah.

Masjid Ji’ronah sendiri dibangun di bekas lokasi pertempuran Hunain. Pertempuran Hunain terjadi pasca peristiwa Fathu Mekah  atau Pembebasan Kota Makkah  pada tahun 8 Hijriyah.

Pertempuran ini disebut pertempuran Hunain karena terjadi di kawasan Hunain. Perang terjadi  antara kaum muslim melawan kaum Badui suku Hawazin dan Tsaqif. Kaum Muslimin di pimpin oleh Rasulullah SAW, sementara dari pihak kaum kafir dipimpin oleh Malik bin Auf

Dikutip dari kitab Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Ansāb al-Asyraf, jld. 1, hlm. 438, perang Hunain terjadi karena ketakutan dari para para pemuka suku Hawazin dan Tsaqif.

Mereka takut bahwa Rasulullah SAW akan memerangi mereka pasca keberhasilan  dalam peristiwa Fathu Makkah atau Pembebasan kota Makkah. Tatkala Rasulullah SAW dan rombongan bergerak dari kota Madinah membebaskan kota  Makkah, suku Hawazin dan Tsaqif beranggapan bahwa Nabi hendak memerangi mereka.

Dibawah komando Malik bin ‘Auf kaum kafir ini menyusun rencana untuk memerangi Rasulullah SAW. Dalam peperangain Hunain Malik bin Auf membawa serta harta benda, istri dan anak – anaknya.

Pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh kaum muslimin, walaupun menelan banyak korban. Sementara dari pihak musuh harus rela kehilangan tujuh puluh pemuka, empat puluh orang diantara nya jatuh di bawah pedang Imam Ali.

 

Fakta Masjid Ji'ronah-umroh

 

Harta Rampasan Perang

Sebagai hasil dari kemenangan ini, barang rampasan besar jatuh ke tangan umat Islam. Orang-orang Muslim,berhasil membuat musuh-musuh melarikan diri. Mereka meninggalkan 6.000 tawanan, 24.000 ekor unta, 40.000 kambing domba dan 4000 waqih ( 1 waqih setara dengan 213 gram) perak.

Rasulullah SAW memerintahkan agar semua lelaki dan seluruh harta benda harus dibawa ke Ji’ronah. Beliau juga menunjuk beberapa pria untuk berjaga-jaga. Para tawanan disimpan di rumah tertentu dan Rasulullah SAW memerintahkan agar seluruh harta rampasan tetap ada di sana, sampai Beliau kembali dari Ta’if.

Pertempuran Hunain, adalah salah satu peristiwa paling terkenal dalam sejarah Islam. Pertempuran Itu terkenal karena strategi Imam Ali yang berhasil mengumpulkan kembali tentara Muslim. Mengubah kekalahan menjadi kemenangan.

Pertempuran itu juga menunjukkan pengampunan terhadap para tawanan, dimana 600 tentara musuh dibebaskan tanpa harus membayar uang tebusan.

Tatkala harta rampasan telah dibagikan, barulah datang para utusan Hawazin menghadap Rasulullah. Mereka menyatakan taubatnya dan menyatakan diri masuk Islam, seraya memohon kepada Rasulullah agar membebaskan para tawanan beserta hartanya.

Rasulullah pun memberikan tawaran kepada mereka, untuk memilih tawanan atau harta. Yang terjadi  mereka lebih memilih tawanan dan Rasulullah mengutus agar tawanan itu dibebaskan secara baik-baik.

Setelah melepaskan tawanan perang,  malam itu juga, dari Ji’ronah Rasulullah berihram dan menunaikan umroh. Setelah itu, pada malam itu pula para tentaranya kembali ke Madinah.

 

Kisah Sumur Ji’ronah

Sebuah kisah terselip pada Pertempuran Hunain, yakni kisah tentang sumur Ji’ronah. Saat membagikan harta rampasan perang di lokasi yang kini berdiri Masjid  Ji’ronah, persediaan air habis,  dan tidak terdapat sumur sebagai sumber mata air.

Rasulullah pun kemudian memukul mukul tongkatnya dan kemudian keluarlah air dari dalam tanah. Tapak bekas sumur tersebut yang dikenal dengan  Bir Thaflah.

Pada kisah selanjutnya, Rasul kembali melakukan kunjungan ke tempat ini. Kaum musyrikin yang mengetahui kabar ini segera menebar racun, dengan harapan dapat mencelakai Rasulullah.

Namun Atas izin  Allah, Rasulullah pun tahu niat busuk kaum musyrikin tersebut. Rasul pun kemudian meludahi sumur tersebut.

Seketika air sumur yang awalnya beracun menjadi tawar. Bahkan, air sumur ini diyakini bisa untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sayangnya, sumur ini telah ditutup oleh pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

 

Pandangan Mahzab

Ibnu Qayim dalam kitab ‘Zadul Ma’ad, berpendapat bahwa Rasulullah SAW dalam melaksanakan ibadah umroh tidak pernah sekalipun keluar dari Makkah untuk mengambil Miqat. Sebagaimana yang banyak dilakukan oleh jamaah umroh sekarang ini.

Semua (Miqat) Umroh Rasulullah dilakukan ketika hendak masuk memasuki kota Makkah. Maka Umroh yang dilakukan Baginda Rasulullah SAW dan disyariatkan adalah Miqat Umroh yang masuk ke Makkah Al Mukarramah.

Bukan Umroh ketika Beliau  di dalam kota Makkah  kemdian keluar menuju tapal batas tanah halal dan masuk kembali untuk melakukan ibadah Umroh.

Namun Jumhur ahli ilmu memberikan keringanan bagi mereka yang untuk berumrohnya kembali harus melakukan safar yang tempat tinggal nya  sangat jauh. Sehinga dirasakan berat untuk melakukan Umroh lagi.

Maka mereka  diharuskan keluar ke tanah halal terdekat, kemudian dia berihram dengan Umroh lainnya. Menurut ulama Mazhab Maliki, seseorang yang melaksanakan ibadah haji atau Umroh boleh menggunakan miqat Ji ‘ranah atau Tan’im.

Dalam sebuah pandangan Mazhab Imam Syafi’i lebih mendahulukan miqat Ji’ronah, sebagai miqat umroh bagi mukimin di kota Makkah Al Mukarramah yang paling utama.  al-Idoh Fi Manasiki al-Hajj”.

Diceritakan dalam kutipan harian Republika  “Lebih utama guna orang yang berada di tanah Halal, miqatnya dari Ji’ronah, sebab Rasulullah mengambil miqat umroh dari Ji’ronah.

Disusul Kemudian dengan Masjid Tan’im ini, sebab hakikatnya Rasulullah memerintahkan Aisyah RA agar memulai umroh darinya.

Dan yang terakhir yakni Hudaibiyah, sebab hakekatnya Rasulullah tatkala akan menjelang kota Makkah dari Madinah Al Munawarrah untuk berumroh, beliau mengawali dari Hudaibiyah.

Syeh al-Fasi juga berpedapat bahwa Masjid Ji’ronah yakni daerah miqat umroh yang dilafalkan paling ideal untuk warga Makkah.

 

Miqat Umroh Masjid Ji'ranah - Umroh Semarang

 

Menginggat Rasulullah pernah berihram dari daerah ini. Anggapan ini malahan senada dengan anggapan Imam Malik, Imam Syafi’i serta Ibnu Hambal

Menurut ulama Mazhab Maliki, calon jamaah  yang akan melaksanakan ibadah haji atau umroh boleh bermiqat di Masjid Ji’ronah atau Tanim.

 

Ziarah dan Miqat Jamaah Indonesia

Masjid Ji’ronah sangat populer di kalangan kaum muslimin kota Makkah maupun jamaah umroh dari seluruh dunia. Sepanjang sejarahnya Masjid ini telah direnovasi  beberapa kali.

Terakhir, pemerintahan kerajaan Saudi membangun masjid besar yang letaknya tidak terpisahkan  dengan masjid yang lama.

Di tempat ini para jamaah umroh melakukan ibadah miqat. Biasanya mengunjungi Masjid Ji’ronah adalah rangkaian perjalanan ziarah dan city tour seputar kota Makkah.

Rute yang ditempuh oleh biro umroh dari beberapa tempat tujuan city tour. Yakni Jabal Tsur, Arafah, Mudzdhalifah, Mina, dan terakhir sebelum jamaah kembali ke hotel adalah Masjid Ji’ronah.