Masjid Nabawi di Madinah menjadi salah satu kebanggaan umat Islam ini, mempunyai halaman yang sangat luas. Bahkan,karena banyaknya jamaah haji dan umroh, halaman masjid ini juga digunakan untuk menampung luberan jamaah sholat.

Untuk menahan panas, pada sebagian halaman dipasang payung raksasa yang dibentangkan bila siang hari. Bangunan Masjid Nabawi di Madinah sangat indah dan sangat bersejarah bagi umat Islam sejak pertama dibangun oleh Rasulullah SAW.

 

Masjid Nabawi Madinah

Bukan hanya Megah, Masjid Nabawi di Nabawi memiliki keutamaan yang tidak dimiliki oleh Masjid lain, selain Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Masjid ini memiliki sejarah yang amat panjang sekaligus menjadi masjid kedua yang paling utama bagi umat Muslim.

Secara kronologis berdirinya Masjid Nabawi di Madinah di mulai Tatkala Rasulullah meletakankan batu pertama, setelah sebelumnya mendirikan Masjid Quba.

Banyak riwayat yang meriwayatkan asal kejadian Masjid Nabawi, banyak pula tulisan  sampai pada proses renovasi. Bahkan hingga puncaknya menjadi salah satu masjid termegah dan paling banyak menampung jamaah sholat sampai saat ini.

 

Awal Mula Pembangunan

Setelah medapatkan perintah hijrah, Rasulullah SAW, melakukan perjalanan menuju kota Madinah, yang pada saat itu masih bernama Yatsrib. Perjalanan yang ditempuh Beliau sangatlah jauh dan menguras banyak tenaga. Namun, meskipun begitu, Beliau tetap semangat untuk meneruskan perjalanan.

Pada saat Nabi Muhammad telah masuk di wilayah Madinah, untanya kelelahan dan berhenti di salah seorang kaum Anshar yang bernama Abu Ayyub al-Anshari. Abu Ayyub kemudian menawarkan agar Beliau singgah di rumahnya untuk beristirahat dalam beberapa saat, sehingga dapat menghimpun tenaga untuk perjalanan selanjutnya.

Setelah beberapa waktu, ternyata Rasulullah SAW, tidak langsung melanjutkan perjalanan. Hal ini bukan dikarenakan Beliau tidak siap untuk melanjutkan perjalanan, namun menunggu beberapa sahabat yang sedang berbenah.

Selain itu, Beliau juga merasa nyaman tinggal di daerah tersebut. Terlebih, penduduk di daerah tersebut dapat cepat berinteraksi dengan Beliau. Akhirnya, Beliau memutuskan untuk tinggal beberapa lama di tempat tersebut.

Setelah beberapa bulan di rumah Abu Ayyub al-Anshari, Nabi Muhammad SAW kemudian mendirikan masjid. Hal ini untuk memudahkan Beliau dan sahabat dalam melakukan ibadah. Sebab, rumah yang ditempati tidak muat untuk menampung Beliau dan para sahabatnya.

Beliau membangun masjid di atas sebidang tanah yang sebagian milik As’ad bin Zurrah, yang memang diserahkan sebagai wakaf. Sebagian tanah yang lain dibeli dari anak yatim bernama Sahal dan Suhail, anak Amir bin Amarah, di bawah asuhan Mu’adz bin Atrah.

Dalam pembangunan masjid ini, Rasulullah Muhammad SAW yang meletakkan batu pertama, yang dilanjutkan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali sebagai peletak batu yang terakhir. Selanjutnya, pekerjaan masjid dilakukan secara gotong royong bersama seluruh sahabat dan pengikutnya sampai selesai.

 

Sejarah Masjid Nabawi Umroh

 

Sederhana namun Penuh Makna

Awalnya, pagar Masjiid Nabawi hanya dari batu tanah yang mempunyai tinggi kurang lebih 2 meter. Sedangkan untuk menyangga atap, digunakan tiang-tiang dari batang kurma. Untuk atapnya, digunakan pelepah daun kurma dan untuk halaman ditutup dengan menggunakan batu-batu kecil saja.

Pada saat itu, kiblat yang digunakan masih menghadap Baitul Maqdis. Sebab, pada waktu itu perintah Allah SWT untuk menghadap Ka’bah di Masjidil Haram belum turun.

Pintu masjid ini pertama kalinya hanya terdiri dari tiga buah, yaitu pintu kanan, kiri, dan belakang. Panjang masjid hanya 70 hasta, lebar 60 hasta, atau sekitar 50 m x 50 m, dengan tinggi atap sekira 3,5 meter.

Dari gambaran tersebut, jelaslah bahwa pada awalnya bentuk masjid ini sangat sederhana tanpa hiasan, tanpa tikar apalagi karpet yang empuk dan tebal seperti saat ini. Sebagai alas untuk beribadah, diguanakan hanya busa. Sementara itu, untuk penerangan pada waktu malam hari, digunakan pelepah kurma yang kering dan dibakar.

Setelah semuanya terbangun, maka pada tahun 1 Hijriah, berdirilah sebuah masjid sangat sederhana, yang dibangun dengan penuh ikhlas oleh Rasulullah SAW dan semua pengikutnya. Sejak saat itulah, perhitungan tahun hijriah dimulai.

Rasulullah bukan hanya sebagai peletak batu pertama masjid ini, akan tetapi juga turut membangn dengan tangannya sendiri. Rasulullah bersama-sama dengan para sahabat dan kaum muslimin, baik dalam pekerjaan yang ringan maupun berat.

Meskipun secara keseluruhan pembangunan masjid ini, baik ide maupun arsitekturnya, merupakan sebuah pikiran Rasulullah sendiri. Namun Beliau selalu memusyawarahkannya dengan para sahabat dan pengikutnya sebelum akhirnya dikerjakan secara bersama-sama.

Nyaris selama sembilan tahun pertama semenjak di dirikan Masjid Nabawi di Madinah ini tanpa penerangan yang cukup di malam hari. Hanya ketika memasuki waktu Isya’ saja dinyalakan sedikit penerangan dengan membakar jerami daun kurma.

Meskipun sudah bertahun-tahun berdiri, masjid ini masih tetap dalam keadaan sederhana. Hal itu dikarenakan Rasulullah ingin memberi pelajaran yang berarti bagi semua pengikutnya. Meskipun dengan kondisi masjid yang sederhana, Beliau mampu membangun sebuah kota.

Bukan saja bangunan kota secara fisik namun juga secara peradaban unggul dan istimewa. Tidak hanya itu saja, permasalahan terkait dasar pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan sebagainya dibangun pondasi nya oleh Rasulullah SAW

 

Pusat Dakwah hingga Strategi Perang

Dengan kondisi masjid yang sederhana ini juga, Rasulullah bersama-sama sahabatnya tidak hanya melaksanakan ibadah akan tetapi juga menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi serta dijadikan sebagai pusat untuk dakwah Beliau.

Meski pun bangunan nya begitu sederhana, Masjid Nabawi menjadi pusat segala aktivitas umat Islam. Mulai dari belajar mendalami ajaran Islam bersama Rasulullah, hingga menyusun siasat strategi perang melawan kaum kafir.

Dalam catatan buku Historical Site of Madinah Munawarrah, seperti yang dikuti oleh NU, Rasulullah SAW bahkan menerima dan menemui para utusan yang datang di Masjid Nabawi.

Sehingga, meskipun atap nya hanya terbuat dari pelepah kurma, akan tetapi tempat ini mempunyai fungsi yang sangat strategis dan banyak manfaatnya bagi semua pengikut, sahabat, dan umat  Rasulullah SAW.

 

Rumah Rasulullah di Madinah

 

Setelah melakukan musyawarah yang melibatkan semua pihak, baik Rasulullah maupun sahabat serta pengikutnya, kemudian dibangun kediaman Beliau yang letaknya melekat pada salah satu sisi masjid.

Sama halnya dengan kondisi bangunan masjid, kediaman Rasulullah ini pun tidak seberapa besar dan tidak lebih mewah dari keadaan masjidnya, hanya tentu saja lebih tertutup. Selain itu, juga dibangun sebuah tempat yang bersebelahan dengan kediaman beliau, tepatnya di teras masjid.

Bangunan ini dikhususkan sebagai tempat bagi fakir miskin yang tidak memiliki rumah. Mereka semua ditampung di tempat tersebut, yang tidak hanya diberi makanan, akan tetapi juga diberikan pekerjaan. Tempat para fakir miskin inilah kemudian dikenal dengan ahlussufah atau para penghuni teras masjid.

Keadaan masjid yang sederhana ini berlangsung hingga Rasulullah SAW wafat. Akan tetapi, pada saat Rasulullah wafat, keadaan kota Madinah telah menjadi sebuah kota yang menjadi tujuan banyak orang di sekitar wilayah tersebut.

Madinah telah menjadi kota yang semua penduduknya taat kepada Allah serta utusan-Nya. Hingga pada akhirnya, masjid ini dilanjutkan dan direnovasi oleh para sahabat dan para pengikutnya.