Letak Masjid Qiblatain

Masjid Qiblatain, atau jika diterjemahkan secara bahasa berarti Masjid dengan Dua Arah Kiblat. Masjid ini terletak di kota suci Madinah, jika dilihat dari peta jaraknya sekitar 6 kilometer dari Masjid Nabawi. Disinilah terjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah umat Islam, dimana di syariatkan nya Ka’bah yang terletak di Masjidil Haram sebagai Qiblat umat muslim hingga sekarang.

 

Masjid Qiblatain Madinah

 

Masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Kota Madinah, disamping Masjid Quba dan juga Masjid Nabawi. Secara historis kedudukan masjid ini penting bagi umat Islam. Di sinilah pada tahun ke 12 Hijriyah wahyu Al-Qur’an turun untuk mengubah arah kiblat yang semula menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem (Palestina)  ke Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah. Wahyu tersebut tersebut di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah 144.

 

Peristiwa Perpindahan Arah Qiblat

Selama tinggal di Mekkah, Rasulullah melaksanakan Sholat dengan menghadap Baitul Maqdis di Palestina. Hal ini pun masih Beliau dan umatnya lakukan Ketika tahun awal Hijrah ke kota Madinah.  Tahun awal hijrahpun Rasulullah dan para sahabat masih sholat menghadap Baitul Maqdis di Yerusalem selama 16 bulan.

Baitul Maqdis merupakan pusat peribadahan nabi-nabi sebelum Rasulullah SAW. Al Qur’an surat Al Isra’ ayat 1 menerangkan bahwa Baitul Maqdis merupakan nama wilayah itu meliputi Masjidil Aqsha seluas 14,4 Hektar dan wilayah di sekelilingnya wilayah yang diberkahi oleh Allah. Meskipun begitu Rasulullah berharap dan senantiasa berdoa semoga Qiblat umat Beliau menjadi Ka’bah di Masjidil Haram.

Jika melihat secara historis , masjid Qiblatain tersebut pada awalnya bernama Masjid Bani Salamah. Dinamakan demikian karena memang masjid tersebut di atas tanah yang merupakan bekas rumah perkampungan Bani Salamah. Pada suatu hari, Rasulullah Muhammad SAW melakukan ta’ziyah di kediaman Ummi Basyar di Kampung Salamah.

Kehadiran Rasulullah Muhammad SAW tentu sangat menyenangan sekaligus sedikit menghibur hati Ummi Basyar yang tengah kehilangan salah satu putrinya. Meskipun dalam suasana berkabung, Ummi Basyar tetap menyiapkan makanan khusus untuk Rasulullah dengan memasak seekor kambing. Saat Rasulullah memenuhi undangan tersebut, bersamaan dengan datangnya waktu sholat. Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan shalat di Masjid Bani Salamah.

Seperti biasanya, Rasulullah Muhammad SAW bersama para sahabat melaksanakan Shalat Dhuhur (ada beberapa riwayat mengatakan shalat Ashar) dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsha. Pada saat selesai rakaat kedua, turunlah wahyu Allah dalam Surat Al Baqarah Ayat 144. Ayat tersebut memerintahkan Rasulullah untuk memalingkan Qibtat sholat (menghadap) ke Masjidil Haram, Mekkah.

 

Al Baqarah 144 Masjid Qiblatain

 

Beralihnya Arah Kiblat ke Masjidil Haram

Setelah perintah untuk memindahkan arah Kiblat turun, pada rakaat ketiga Rasulullah mengubah posisi kiblatnya. Rasulullah memutar 180 derajat ke arah kiblat baru, perpindaah ini juga diikuti dengan para jamaah Sholat. Sehingga jamaah yang menjadi ma’mum shalat turut memutar dan tetap berada di belakang Rasulullah.

Mulai saat itulah Ka’bah menjadi kiblat baru umat bagi umat muslim hingga sekarang. Sedangkan rumah tempat sholat dua kiblat Rasulullah semula akan di beli oleh masyarakat untuk di jadikan Masjid. Akan tetapi oleh Ibu Ummi Basyar rumah tersebut di wakafkan kepada masyarakat untuk  di jadikan Masjid, yang sekarang dikenal dengan Masjid Qiblatain

Jejak penanda kiblat lama yang menghadap ke Baitul Maqdis masih terekam di Masjid Qiblatain. Secara unik masjid ini satu satu nya masjid yang berisi dua penanda qiblat. Satu menghadap Baitul Maqdis dan yang lainnya menghadap ke Masjidil Haram. Penanda itu berbentuk batu marmer berwarna putih gading dengan ukiran mirip sajadah yang di gantung diatas pintu.

 

Interior Qiblatain Mihrab Lama

 

Para jamaah umroh dan haji yang berziarah di Masjid Qiblatain melaksanakan shalat dibelakang mihrab baru yang menghadap ke Masjidil Haram. Sedangkan ornamen mihrab yang berwarna putih yang tertempel di atas pintu utama masjid tersebut hanya berfungsi sebagai penanda sejarah pada zaman dahulu saja.

 

Latar Belakang Berpindahnya Arah Qiblat

Dalam Surat Al Baqarah Ayat 144 secara tegas memerintahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk memalingkan wajah (kiblat)-nya ke arah masjidil Haram. Pada Awal kedatangan Rasulullah  sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, shalat masih menghadap ke Baitul Maqdis.

Namun sejatinya Rasulullah SAW mengharapkan agar kiblatnya umat Islam menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram. Sebagaimana kiblat Nabi Adam AS dan Ibrahim AS.

Sekian lama Rasulullah berdoa, menengadahkan wajah Beliau ke langit seraya berharap agar Allah SWT menurunkan wahyu yang memerintahkan agar arah kiblat berpindah ke Masjidil Haram. Hingga akhirnya turunlah wahyu QS Al Baqarah 144, sebagaimana tersebut diatas.

Menurut Imtiaz Ahmad sebagaimana dikutip Republika, dalam bukunya Lesson for Every Sensible Person,menyatakan yang menjadi kiblat seluruh Nabi untuk melaksanakan shalat adalah Ka’bah yang dibangun sejak masa Nabi Adam AS. Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, juga menjadikan Ka’bah (Baitullah) sebagai kiblat. ”Sedangkan Al-Quds ditetapkan sebagai kiblat hanya untuk sebagian para Nabi dari bangsa Israel.

 

Interior Qiblatain Ruang Sholat

 

Dan para Nabi itu ketika shalat di dalam Al-Quds, biasa menghadap pada arah sedemikian rupa sehingga kedua-duanya, Al-Quds dan Baitullah di Makkah, saling berhadapan,” ujar Imtiaz.

Namun berpindahnya kiblat umat muslim ini bukanya tanpa halangan. Di hari kegembiraan bagi umat Islam karena berpindahnya Kiblat, sesungguhnya menjadi hari berkabung untuk kaum Yahudi dan Nasrani. Orang-orang Muslim sekarang telah menjadi sepenuhnya bebas dari doktrinasi kaum Yahudi

 

Beralihnya Arah Kiblat dan Kekhawatiran Kaum Yahudi

Saat itu Masjidil Haram belum berbentuk masjid seperti saat ini, hanya ada Ka’bah yang dipenuhi berhala – berhala kaum kafir. Munculnya Ka’bah sebenarnya memunculkan kecemburuan sekaligus kegelisahan kaum Yahudi. Perdebatan sengitpun terjadi antara Kaum Muslimin dan Kaum Yahudi mengenai rumah ibadah yang pertama kali dibangun. Kaum Yahudi bersikeras bahwa rumah ibadah yang pertama kali dibangun adalah Baitul Maqdis, dan bukan Masjidil Haram.

Apa yang melatarbelakangi sikap Yahudi? Tak lain adalah klaim mereka sebagai ‘bangsa pilihan’ yang akan mendapat ‘tanah yang dijanjikan’. Sampailah hal ini ke telinga Baginda Rasulullah SAW,  Allah kemudian menjawab melalui firman dalam QS Ali Imran ayat 96.

 

Ali Imran 96 Ka'bah

 

Kaum Yahudi semakin memperolok umat Islam. Namun dalam benaknya mereka khawatir, perubahan kiblat itu justru menunjukkan adanya perbedaan diantara Islam dan Yahudi. Bukan lagi Islam yang mengikuti ajaran kaum Yahudi, dan mempertegas kaum Yahudi sebagai “bangsa pilihan”

Sebab, sebelumnya kaum Muslim sedikit banyak bisa diterima Yahudi. Dengan perubahan arah kiblat yang terjadi di Masjid Qiblatain ini, menandakan kaum Muslim telah bertransfromasi menjadi bangsa yang bebas dan terlepas dari doktrin mereka.

Berpindahnya qiblat umat muslim yang semula sama seperti apa yang diajakan Yahudi dalam kitab Taurat versi mereka membuat bangsa Yahudi meningkatkan perlawanan terhadap umat Islam dan menghormati musuh Islam.

 

Hikmah dari Perpindahan Kiblat Umat Muslim

Dapat ditarik hikmah bahwa perpindahan kiblat tersebut adalah dalam ibadah shalat itu bukanlah sekedar memindahkan arah dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram . Jauh dari itu semua, perpindahan yang terjadi di Masjid Qiblatain merupakan wujud ketaqwaan, berserah diri kepada Allah. Bukan bertujuan untuk menyembah ka’bah seperti yang difitnahkan para pembenci Islam. Mereka mengira bahwa yang umat muslim lakukan adalah menyembah ka’bah dan Allah SWT hanya ada di sana.

Ka’bah merupakan wujud persatuan umat Islam. Sholat dengan menghadap kiblat di Masjidil Haram adalah adalah wujud ketaqwaan kepada Allah SWT, karena memang di dalam QS Al Baqarah 144 diperintahkan demikian. Kemanapun arah, apapun yang diperintahkan, maka wajib melaksanakannya.

Kemanapun kita menghadap, tujuan kita adalah menyembah Allah SWT dan mentaati perintahnya, bukan bermaksud Menyembah Ka’bah ataupun Masjidil Haram.