Masjid Quba dan Pahala Umroh di Dalam nya

Masjid Quba terletak di desa Quba, di pinggiran Madinah tempat Rasulullah SAW dan sahabat Abu Bakar Assiddiq  Radhiallahu’ Anhu tiba dan pertama kali tinggal setelah berhijrah dari Kota Suci Mekkah Al Mukarramah. Menurut beberapa riwayat, Rasulullah SAW tiba pada hari Senin 12 Rab’iul-Awwal, empat belas tahun setelah turun nya wahyu Kerasulan.

 

Masjid Quba

 

Peristiwa hijrahnya Rasulullah dikemudian hari menandai awal dari kalender Islam (Hijriyah). Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Juli 622 Masehi. Setelah tiba di Kota Yatsrib (nama Madinah sebelum hijrahnya Rasulullah) didirikanlah sebuah masjid.

Masjid inilah bangunan pertama yang didirikan oleh Baginda Rasulullah, dan sekaligus masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah dalam sejarah Islam. Masjid Quba memiliki banyak keistimewaan jika kita menunaikan sholat di dalamnya.

Masjid yang terletak kurang lebih 5 kilometer di sebelah tenggara kota Madinah (lihat peta lokasi Masjid Quba). Masjid ini juga di wahyukan dalam Surat At Taubah 108, sekaligus menjadi masjid yang dibangun atas dasar takwa.

 

Sejarah dan Keutamaan Masjid Quba

Sebagaimana disebutkan diatas, Keutamaan Masjid Quba disebutkan dalam ayat Alquran Surat Taubah ayat 108 yang berbunyi :

 

At Taubah 108

 

Pendirian Masjid Quba memiliki sejarah yang panjang. Saat Rasulullah SAW tiba di kota Yatsrib, penduduk yang pertama kali menyambut adalah penduduk Quba. Saat itu penduduk Quba belum mengenal Nabi, meskipun Beliau telah lama di rindukan kedatangan nya.

Orang – orang Yathrib (yang kemudian bernama Al-Madinah Al-Munawwarah, MADINAH KOTA YANG BERCAHAYA) memang telah lama menunggu kedatangan Rasulullah. Sejak mendengar berita hijrahnya Rasulullah, mereka rela  dan hampir setiap hari mereka menunggu. Mereka menunggu di ladang, Perkebun kurma, bahkan rela menaiki pohon. Sejak fajar menyingsing hingga malam tiba.

Pada awal mula rencana kedatangan Rasulullah di kota Madinah, sebenarnya Orang-orang Yahudi yang ada di Madinah menyambut berita itu dengan sangat antusias. Mereka bersemangat menunggu kedatangan seorang nabi yang, menurut kitab suci mereka, akan muncul di Madinah.

Namun, ketika mereka menyadari bahwa nabi terakhir dipilih di antara orang-orang Arab, daripada dari orang Yahudi harga diri mereka seolah terinjak – injak. Banyak dari mereka yang kemudian meningkarinya.

Suatu hari, saat penduduk kota Madinah telah menunggu lama untuk kedatangan Rasulullah SAW, seorang Yahudi kebetulan melihat sekilas sekelompok kecil pelancong berjubah putih di kejauhan. Dia berseru, “Wahai orang-orang Arab! Apa yang telah Anda tunggu telah tiba! “. Ada pula yang mengatakan “Bani Qailah! Bani Qailah! Itu kakekmu datang!”

Orang – orang Muslim mengangkat senjata mereka dan bergegas menyambut kedatangn Rasulullah Rasulullah SAW. Ada keributan hebat ketika semua orang berlari ke tepi gurun untuk melihat sekilas mereka yang datang.

Para tetua di Yatsrib seperti dikutip dari berbagai sumber berkata, “Belum pernah Yatsrib mengalami peristiwa seperti hari ini. Belum pernah terjadi momentum sedahsyat ini. Semua hati bergembira. Seluruh wajah berbinar cerah. Sungguh sebuah perjumpaan yang menggentarkan dan mengharukan.”

 

Kebingungan Kaum Anshar akan Sosok Rasulullah

Rombongan Rasulullah perlahan namun pasti bergerak mendatangi kota Yatsrib. Dari kejauhan terlihat  sekitar tujuh puluh orang berada dalam rombongan bersama Rasulullah dan Abu Bakar. Semua nya menunggangi unta dan membawa panji – panji.

Rasulullah kemudian berbelok ke kanan dan mendatangi Bani Amr bin Auf di Quba. Sebagian besar kaum Muslim yang telah hijrah dari Mekkah Al Mukarramah terlebih dahulu banyak tinggal di Quba. Dan banyak dari mereka ada di sana ketika Rasulullah SAW tiba.

Orang-orang Anshar (secara harfiah berarti ‘pembantu’, nama yang diberikan kepada mereka di Madinah yang menjadi Muslim) yang belum melihat Rasulullah berpikir bahwa Abu Bakar Radhiallahu’ Anhu adalah nabi. Mereka mengira karena rambutnya sedikit beruban.

Nabi datang bersama Abu Bakar Assiddiq, diantara rombongan, pakaian mereka sama – sama berwarna putih.  Untuk menghilangkan kebingungan kaum Anshar atas sosok Rasulullah, maka Abu Bakar memegang selendangnya dan dilindungkan di atas kepala Nabi. Ketika mereka melihat Abu Bakar menaungi Rasulullah, mereka baru menyadari kesalahan nya.

 

Hjirah Rasulullah

Itu adalah saat yang sangat menyenangkan dari kedua belah pihak. Nabi berbicara kepada mereka dengan mengatakan: “Wahai manusia, saling memberi salam damai; memberi makan orang-orang; memperkuat ikatan kekerabatan, berdoa pada jam-jam ketika orang lain tertidur. Meski begitu kamu akan memasuki surga dengan damai. ”

 

Awal Rasulullah Memasuki Kota Madinah

Penyambutan yang luar biasa penduduk Kota Yatsrib, kumandang , “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Telah datang Sang Utusan.. Telah datang Sang Utusan…!” menggema di seantero kota. Untuk menyemarakkan penyambutan, beberapa gadis imigran asal  Abisinia menyerukan salawat Badar, yang semenjak saat itu menjadi fenomenal. Anak – Anak keturunan Bani Najjar sontak memukul rebana dan bersya‟ir dengan riang gembira.

Setelah mencapai Quba, tali -tali kekang unta diturunkan, para pria maju ke depan, tak henti menawari  Rasulullah untuk sekedar singgah di rumah mereka. Karena tak ingin menyakiti perasaan penduduk kota Yatsrib, Rasul berkata  “Biarkan, unta ini ada yang menuntun. Aku akan tinggal di mana Allah menempatkanku.” Begitu tutur Baginda Rasulullah kepada orang-orang di sana.

Unta itu akhirnya terdiam di suatu area penjemuran kurma, tepat di depan rumah Abu Ayyub Khalid bin Zaid.  Rumah Abu Ayyub jauh dari kesan mewah, tak terlukis kegirangan Abu Ayyub mendapat kehormatan menyambut Tamu Agung di luar dugaan

Bendera Nabi telah berpindah ke Madinah. Di Makkah beliau telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan memberi nasihat kepada umat, namun mereka tuli dan tak mau beriman. Orang-orang itu mengira mereka akan dapat menaklukkan Nabi di medan perang. Beginilah orang-orang sombong yang hanya mampu menimbang kebenaran tanpa berdasarkan kenyataan sehingga menelan kerugian nantinya.

Setelah beberapa hari di rumah Abu Ayub Al Ansari, Rasulullah mendirikan masjid yang kelak dikenal sebagai Masjid Quba. Masjid ini di bangun di atas tanah milik Kultsum bin al-Hadam bin Amr al-Qais dari dari kabilah Amir bin Auf. Para sejarawan menyebutkan bahwa Kultsum bin al-Hadam adalah seseorang tua yang memeluk Islam sebelum Rasulullah hijrah ke kota Yatsrib.

Tanah yang menjadi tempat didirikan nya Masjid Quba merupakan tanah lapangan milik Kultsum bin Hadam. Sebelum menjadi masjid biasanya tanah tersebut digunakan untuk menjemur kurma – kurma miliknya. Ya, Madinah memang dikenal sebagai penghasil kurma terbaik hingga saat ini

 

Masjid itu Dibangun Sendiri Oleh Rasulullah dan Para Sahabat

Nabi secara pribadi membawa batu – batu besar, dan pasir bersama para sahabat untuk pekerjaan konstruksi Masjid Quba. Ali Radhiallahu’ Anhu yang tinggal selama tiga hari setelah Rasulullah hijrah diam-diam meninggalkan Mekkah Al Mukarramah ke Madinah. Selama tiga hari Ia menyelesaikan semua urusan Rasulullah di Mekkah Al Mukarramah. Dia kemudian pergi dengan berjalan kaki dan bertemu dengan Rasulullah di Quba.

Mulanya Rasulullah SAW yang meletakkan batu pertama pendirian masjid. Kemudian diikuti oleh para Sahabat Nabi, Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Dilanjutkan dengan para sahabat Anshar dan Muhajirin hingga selesai. Al-Tabarani mengutip Al-Shimous Bint Al-Nuaman yang mengatakan, “Saya melihat Nabi ketika dia membangun masjid ini. Dia biasa membawa batu dan batu di punggungnya sampai bengkok.

 

Interior Masjid Quba

 

Saya juga melihat debu di pakaian dan perut Nya. Tetapi ketika salah satu sahabat akan mengambil beban dari Beliau mengatakan tidak dan meminta sahabat itu untuk pergi dan membawa beban yang sama sebagai gantinya. ”

Nabi Muhammad SAW menjadi imam sholat pertama secara terang – terangan di Masjid Quba. Nabi menjadi imam pertama ketika arah qiblat masih menghadap ke Masjid Al-Aqsa di Al-Quds (Yerusalem).

Setelah empat hari berada di Quba,  pada hari Jumat Rasulullah meninggalkan Quba bersama Abu Bakar Radhiallahu’ Anhu dan para sahabat.

Diceritakan oleh Abdullah bin Dinar: Ibn ‘Umar Radhiallahu’ Anhu mengatakan,” Nabi biasanya pergi ke Masjid Quba setiap hari Sabtu (kadang-kadang) berjalan dan (kadang-kadang) mengendarai. ”

Selain wahyu Allah yang diturunkan dalam Surat At Taubah Nabi berkata: “Dia yang menyucikan dirinya di rumahnya dan datang ke Masjid Quba dan melaksanakan sholat dua rakat di dalamnya, akan diberikan pahala setara dengan pahala umroh (Hadits riwayat Ahmad Nasa’I, Ibnu Majah, Hakim dan dia berkata sanadnya sahih.)

Kini Masjid Quba merupakan salah satu destinasi ziarah dan city tour para jamaah dari BIRO UMROH. Selain untuk mengenang perjuangan Rasulullah saat hijrah, para jamaah umroh juga berlomba – lomba mendirikan sholat agar mendapatkan pahala yang setara dengan pahala umroh.