Mengenal Madinah, Kota yang Bercahaya

Kota Suci Madinah adalah sebuah nama kota yang sangat akrab di telinga umat Islam mana pun. Inilah kota Nabi yang selalu mempesona setiap saat, jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai suku bangsa, ras, dan jabatan datang mengunjunginya.

Di sinilah Nabi Muhammad bersama para pengikutnya tinggal dan berdakwah setelah berhijrah dari Makkah Al Mukarramah. Setiap jengkal tanah Madinah selalu mengandung tanda dan menjadi saksi sejarah Islam pada saat itu.

 

Mengenal Kota Suci Madinah

 

Madinah adalah sebuah kota yang banyak mengajarkan pada setiap orang yang mengunjunginya, sisi kemanusiaan dan cara hidup yang asri dengan landasan akhlak terpuji dari penghuninya.

Madinah selalu menjadi tujuan jamaah haji dan umroh, bukan saja karena masjidnya yang megah, tetapi juga tempat disemayamkannya seorang paripurna sejati yang mengajarkan banyak nilai pada umatnya.

Kota yang masuk dalam salah satu bagian Negara Arab Saudi ini, dari masa ke masa selalu bercahaya dan semakin bercahaya. Sehingga, pada saat memasukinya, kita selalu disuguhi pemandangan yang menggetarkan dari deretan gunung-gunung batu yang menjulang.

Deretan gunung memang mengelilingi kota Nabi ini. Di sebelah barat Kota Suci Madinah, terdapat Gunung Silaa yang menjulang. Sebelah selatan berdiri tegak bukit E’ir dan Wadi al-Aqiq. Sebelah utara berderet Jabal Uhud, Jabal Tsur, dan Wadi Qanat.

Sehingga, ketika berada di daerah Madinah, khususnya di sekitar Masjid Nabawi, kita dapat langsung melihat pemandangan yang menunjukkan kuasa Allah yang Maha Raja.

 

Tanah Subur di Tandusnya Gurun

 

Namun, dibalik gunung tandus yang menjulang itu, kita juga akan melihat kerimbunan Perkebunan Kurma Madinah yang hijau. Udara yang sejuk akan menyapa setiap orang yang datang.

Setiap harinya, suhu kota ini selalu bersahabat pada penghunnya, dengan suhu pagi dan sore hari terasa sejuk dan siang hari sedikit panas tetapi tidak menyengat. Suhu tertinggi hanya berkisar 30o C sampai 45o C pada waktu musim panas, dan suhu rata-rata berkisar antara 10o C sampai 25o C.

Sehingga, terkadang di pagi hari sekitar pukul 04.00 hingga pukul 09.00, suhu akan mencapai 4o C, akan tetapi pada siang hari selalu panas dengan suhu mencapai hingga 35o C.

Dengan suasana yang sejuk ini, setiap orang yang memasuki Kota Suci Madinah akan merasa tenteram. Terlebih setelah melihat keagungan Masjid Nabawi, masjid mulia yang menjadi pusat dakwah Rasulullah SAW.

Madinah merupakan tanah suci selain Makkah yang meninggalkan jejak para penghuninya yang memiliki prinsip kuat. Rasulullah SAW, sangat mencintai kota ini. Beliau menghabiskan kurang lebih 10 tahun sisa hidupnya di kota sejuk ini, sampai menjelang dijemput oleh Sang Maha Kuasa.

Rasulullah junjungan umat Islam ini mendoakan keberkahan bagi kota ini. Bahkan, beliau meminta kepada Allah SWT agar menjadikan keberkahan Madinah dua kali lipat dibanding keberkahan yang telah dilimpahkan pada Makkah. Selain dilimpahi keberkahan, Madinah juga dijamin kota yang aman lahir maupun batin.

 

Kebun Kurma Madinah

Pada masa sebelum perkembangan Islam, kota suci Madinah dikenal dengan nama Yatsrib, yang dikenal sebagai pusat perdagangan dari beberapa kota di sekitarnya. Kemudian, ketika Rasulullah SAW  hijrah dari Makkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana.

Selanjutnya, kota ini menjadi pusat penerus Nabi Muhammad yang dikenal dengan pusat khalifah. Terdapat tiga khalifah yang memerintah di kota ini sebelumnya, yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, dan Utsman bin Affan.

 

Pemindahan Pusat Pemerintahan

Pada masa Ali bin Abi Thalib, pemerintahan dipindahkan ke Kufah, Irak, karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya, ketika kekuasaan beralih kepada Bani Umaiyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah  kepada Bani Abbasiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad.

Pada masa Nabi Muhammad, penduduk kota Madinah yang beragama Islam dan orang Yahudi dilindungi keberadaannya. Akan tetapi, karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir keluar Madinah.

Kini, Madinah bersama kota suci Makkah di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi, yang merupakan pelayan kedua kota suci.

Dari sektor ekonomi, terdapat sektor pertanian dan perkebunan, terlebih perkebunan kurma, yang sudah dikenal sejak masa lampau, peternakan selayaknya penduduk Arab, serta perdagangan yang ditambah dengan sektor jasa, terutama jasa pelayanan para peziarah di antaranya usaha perhotelan dan penginapan.

Sedangkan dari sektor pendidikan, selain sebagai kota pusat perkembangan Islam, Madinah juga merupakan pusat pendidikan Islam sejak masa Rasulullah SAW. Banyak ulama dan cendekiawan Islam yang muncul dari Madinah, misalnya Imam Malik. Saat ini, di Madinah terdapat berbagai universitas dan perguruan tinggi Islam lainnya.

 

Batas Wilayah Madinah

Sebagai sebuah kota, Madinah mempunyai batas wilayah yang berdampingan dengan kota-kota lain di sekelilingnya. Karena letak Madinah yang strategis inilah, yang menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang yang melakukan perdagangan ke Madinah.

Dan, sangat beralasan jika Rasulullah SAW, memilih tempat ini sebagai tuhuan hijrahnya. Berikut batas-batas wilayah dari Madinah:

  1. Di sebelah barat, Madinah dibatasi oleh daerah Wabarah Lama, yaitu hamparan tanah yang diliputi oleh batuan hitam. Di sebelah timur laut kawasan ini terdapat pula perkampungan Bani Salimah yang berdekatan dengan Masjid Qiblatain. Di ujung baratnya terdapat istana Urwah bin Zubair dengan sumur dan ladangnya. Di sebelah barat dayanya terdapat sebuah gedung pertemuan Quba’ dan perkampungan Bani Quaiqa’.
  2. Di sebelah timur, Madinah dibatasi oleh daerah Waqim Lama, yakni daerah yang diliputi bebatuan hitam seperti bebatuan yang terbakar oleh sinar matahari. Di sebelah timut Quba’ ada perkampungan Bani Quraidhah dan Bani Dhufr. Di sebelah timur sedikit ada perkampungan Bani Asyhal. Dan, di sebelah utara ada perkampungan Bani Haristsah.
  3. Di sebelah selatan, Madinah dibatasi oleh Gunung ‘Asyr, yaitu pegunungan tertinggi di Madinah setelah Gunung Uhud, yaitu dengan ketinggian sekitar 1 km.
  4. Di sebelah utara, dibatasi oleh Gunung Tsur, yaitu deretan pegunungan kecil berwarna kemerah-merahan yang berada di balik Gunung Uhud.

 

Jabal Uhud Madinah

Kabilah-Kabilah di Madinah

Ada banyak kabilah yang pernah ada di Madinah. Kabilah sendiri menurut  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suku bangsa; atau kaum yang berasal dari satu ayah. Berikut beberapa kabilah di antaranya:

  1. Bani Najjar, yaitu kabilah dari Suku Khazraj. Kakek Rasulullah, Hasyim, menikah dengan seorang perempuan dari Bani Najjar, yaitu Salma binti Amru. Tokoj-tokoh Bani Najjar diantaranya Hasan bin Tsabit, As’ad bin Zurarah, dan Ummul Bardah. Adapun yang termasuk golongan ini adalah Bani Addi, Bani Dinar bin Najjar, dan seluruh keturunannya.
  2. Bani Al-Harits (Al-Khazraj), yang terdiri dari empat orang, yaitu Ka’ab, Auf, Zaid bin Mannat, dan Jasym. Adapun jarak rumah-rumah mereka dengan Masjid Nabawi adalah sekitar 2 km, tepatmya di persimpangan jalan di awalim, sebelah Timur Wadi Buthan, dan perkampungan Syu’aib di daerah Qurban. Tokoh-tokohnya antara lain Kharijah bin Zaid, Habibah binti Kharijah, Zaid bin Haristsah, dan Abdullah bin Rawahah.
  3. Bani Sa’idah, yang berasal dari keturunan Suku Khazraj, yaitu Sa’idah bin Ka’ab. Perkampungan mereka terletak di sebelah barat laut Masjid Nabawi. Di antara tokoh-tokohnya adalah Sa’ad Ubadah dan Abu Dajjanah bin Aus. Aadapun yang termasuk golongan ini yaitu Bani Tsa’labah bin Sa’ida, Bani Tharif bin Sa’idah, dan seluruh keturunannya.
  4. Bani Abdul Asyhal, yang termasuk keturunan dari Suku Aus, yaitu Abdul Asyhal bin Jasym bin Haritsah bin Khazraj. Tokohnya yang terkenal adala Sa’ad bin Mu’adz.

 

Sumur – Sumur Bersejarah di Madinah

Di Kota Suci Madinah juga terdapat banyak sumur. Berikut beberapa sumur yang ada di Madinah:

  1. Sumur Ha, yang terletak di sebelah utara Masjid Nabawi atau di dalam kebun Abu Thalhah al-Anshari. Sumur ini adalah salah satu sumur yang pernah dipakai oleh Rasulullah SAW.
  2. Sumur Ghara, yang terletak sekitar 1 km di sebelah timur laut Masjid Quba’.
  3. Sumur Raumah, yang terletak di sekitar Wadi Al-Aqiq, yaitu sekitar 3,5 km dari Masjid Nabawi atau 1 km dari Masjid Qiblatain.
  4. Sumur Budha’ah, yang terletak di sebelah utara Saqifah milik Bani Sa’idah.
  5. Sumur Arys, yang terletak di sebelah barat Masjid Quba’.
  6. Sumur Urwah, yang digali oleh Urwah bin Zubair, terletak di sebelah kiri pagar yang didirikan di Wadi Al-Aqiq, yaitu sekitar 3,5 km dari Masjid Nabawi.
  7. Mata Air Biru (Ain Al-Zarqa’), karena Marwan, gubernur Madinah saat itu, mengecat dengan warna biru (Zarqa’).

 

Sumur Utsman Raumah Madinah

 

Lembah – Lembah di Madinah

Madinah juga memiliki lembah. Lembah-lembah tersebut tersebar di seluruh wilayah Madinah. Berikut beberapa lembah tersebut:

  1. Lembah (Wadi) Buthan, yaitu lembah yang paling utama di Madinah. Lembah ini bermula dari sebelah timur Quba’ menuju perkampungan Madinah, hingga bagian barat gunung Sal’ dekat masjid al-Fath, kemudian bertemu dengan lembah al-Aqiq di Ghabah, yang menjadi pertemuan muara beberapa sungai.
  2. Lembah Mahzur, yang datang dari sebelah timur Madinah, kemudian bercabang-cabang lagi hingga mendekat ke arah Awali dan bertemu di Mudzaineb di Qurban, kemudian mengalir ke arah utara hingga berakhir di Lembah Buthan lalu ke Ghabah.
  3. Lambah Al-Aqiq, merupakan lembah terpanjang di negeri Hijaz. Lembah ini membelah Thaif dan sebelah barat kota Madinah. Lembah ini berakhir di Ghabah, yaitu pertemuan antara lembah Buthan dan Qanat.
  4. Lembah Qanat, merupakan lembah yang alirannya paling besar di Madinah. Lembah ini dimulai dari dataran tinggi Thaif, menelusuri sisi kanan dan kiri pegunungan hingga lembah al-Aqaal, lalu berakhir di pertemuan muara sungai di Ghabah.
  5. Lembah Mudzaineb, yaitu sebuah cabang sungai yang mengalir dari Buthan. Lembah ini berasal dari 7 km tenggara Madinah, sedangkan hilirnya di Ghabah yang menjadi tempat bertemunya aliran air dari lemba-lembah lainnya.
  6. Lembah al-Aqaal, yaitu pertemuan antara lembah dan sungai. Di tempat ini, salah satu mukjizat Rasulullah terjadi, yang mengabarkan bahwa akan keluarnya api Hijaz yang akan mengalir di lembah ini.

Untuk dapat berziarah di Kota Suci Madinah sekaligus melaksanakan rangkaian ibadah umroh , kami menyelenggarakan Paket Umroh Murah Hotel Dekat Masjid untuk anda dan keluarga. Hubungi kontak Buana Nur Iman Wisata untuk informasi perjalanan Umroh yang murah dan nyaman.