Mengenal Ka’bah di Masjidil Haram

Bangunan Ka’bah merupakan sebuah bangunan yang kuat dan kokoh terletak di dalam Masjidil Haram di Makkah. Ia hanya merupakan batu-batu hitam yang dibangun berbentuk segi empat.

Dari segi arsitektur, bangunan itu sangat sederhana, namun memiliki arti tersendiri, istimewa. Bangunan ini juga telah mempengaruhi hati serta pikiran milyaran umat manusia di seluruh dunia.

 

Bangunan Ka'bah

Hal itu disebabkan bangunan Ka’bah tersebut merupakan tujuan utama manusia dalam hidup beragama. Itulah Ka’bah. Dalam berbagai riwayat yang menjelaskan tentang Ka’bah, dikatakan bahwa batu-batu itu diambil dari Bukit Abu Qubais, Bukit Thursina, Bukit al-Qudus, Bukit Warqan, Bukit Radhw, dan Bukit Uhud.

Kata Ka’bah berasal dari bahasa Arab, yang berarti bangunan persegi empat. Walaupun begitu, ternyata bentuknya tidak sama sisi. Dalam kitab al Din wa Tarikh al Haramain as Syarfain, karya Abba Kararah, disebutkan bahwa Bangunan Ka’bah mempunyai tinggi dari dasar tanah 15 meter, lebar pada arah pintu Ka’bah 11,58 meter, lebar pada bagian Hjir Ismail 10,22 meter.

Lebar antara Hijir Ismail dan Rukun Yamani bagian barat 11,93 meter, lebar antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad 10,13 meter, tinggi dasar Ka’bah dari tanah 2 meter, dan panjang pintunya 2 meter. Sedangkan letak Hajar Aswad dari tanah 1,50 meter, jarak antara Ka’bah dan maqam Ibrahim 11,10 meter.

Sudut-sudut Ka’bah tersebut oleh orang Arab disebut dengan rukun dan diberi nama sesuai dengan arahnya, seperti Rukun Iraqi, yaitu sudut yang mengarah ke Irak (utara); Rukun Yamani, yaitu sudut yang mengarah ke Yaman (selatan); Rukun Syami, yaitu sudut yang mengarah ke Syam/ Syuriah (barat); serta Rukun Aswad, yaitu sudut yang mengarah ke Hajar Aswad (timur).

Diameter Ka’bah seperti tersebut d atas merupakan ukuran Ka’bah yang ada sekarang. Yang dibangun oleh Sultan Murad, salah seorang Sultan dari Kerajaan Turki Utsmani.

 

Ka’bah Pernah Runtuh

Pada tahun 1309 H, pada hari kamis bulan sya’ban, kota Makkah mengalami banjir yang besar, sehingga mengakibatkan Bangunan Ka’bah runtuh. Oleh karena itu, Ka’bah kemudian dibangun kembali. Dalam waktu satu tahun, yaitu pada tahun 1040 H atau kurang lebih tahun 1630 M, Ka’bah kembali berdiri tegak sampai sekarang.

Sejak awal dibangunnya sampai tahun 1630 M, Ka’bah telah mengalami renovasi sebanyak 11 kali. Yaitu pembangunan pertama dilakukan oleh para malaikat, pembangunan kedua oleh Nabi Adam AS, pembangunan ketiga oleh putra Adam-Syits.

 

Ka'bah Banjir

Pembangunan keempat oleh Nabi Ibrahim AS bersama putranya Ismail AS. Pembangunan kelima dikerjakan oleh Suku Amaliqah. Pembangunan keenam dilakukan oleh Suku Jurhum, pembangunan ketujuh dikerjakan oleh Qushay bin Kilab dari Suku Mudhar, dan pembangunan kedelapan dilakukan oleh Suku Quraisy.

Pada tahun 683 M, renovasi kesembilan Ka’bah dilakukan oleh Zubeir bin Awwam. Setahun kemudian, al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi merenovasi Bangunan Ka’bah untuk yang kesepuluh kalinya. Dan, akhirnya Ka’bah sebagaimana kita ketahui sampai saat ini adalah hasil dari pembangunan kembali oleh Sultan Murad.

Jarak antara renovasi yang dilakukan al-Hajaj dengan Sultan Murad sekitar 966 tahun. Hal ini dijelaskan dalam kitab Fi Rihab al-Baiti al-Haram, Syikh al-‘Alawi al-Maliki. Dan, betapapun pembangunan itu dilakukan oleh banyak generasi, namun tetap tidak bergeser dari tapak semula yang dibangun oleh Nabi Ibrahim As.

 

Kain Penutup Ka’bah

Sejak zaman Nabi Ismal AS, Bangunan Ka’bah sudah diberi penutup yang disebut Kiswah. Kiswah Ka’bah terbuat dari kain sutra berwarna hitam, yang merupakan pemberian al-Hajaj pada tahun 684 M.

Sementara, Kiswah yang ada sekarang adalah sutra asli yang dilengkapi kaligrafi dari benang emas. Kiswah buatan pemerintah Arab Saudi dibuat oleh pabrik khusus dengan tenaga ahli berjumlah 240 orang.

Kiswah ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam berwarna hijau dan bagian luar berwarna hitam. Dalam setahun, Ka’bah dicuci dua kali, yaitu pada awal bulan Dzulhijjah dan awal bulan Sya’ban.

Sedangkan, kiswahnya diganti hanya sekali dalam setahun dengan biaya, seperti dikutip dari kompas.com, sekitar 17 juta Riyal Saudi.

Ka’bah sebagai bangunan pertama tempat manusia beribadah memiliki keistimewaan yang tak ada duanya, yaitu ia berada pada garis lurus dengan Baitul Makmur, yaitu pusat ibadah para malaikat di langit.

Di samping itu, Allah menurunkan 120 rahmat Ka’bah, yang 60 rahmat-Nya diberikan kepada orang yang sedang thawaf, yang 40 diberikan kepada mereka yang shalat, dan yang 20 rahmat-Nya diberikan kepada mereka yang sedang memandangi Ka’bah.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Tarikh al-Ka’bah al-Mu’adhamah, oleh Husein Abdullah Basalamah.

Ka’bah juga mempunyai pintu yang biasa disebut dengan Al-Burk. Pintu ini terbuat dari bahan emas murni 99 karat, dengan berat 280 kg. Letak pintu ini dari lantai thawaf adalah 2,25 meter sedangkan daun pintu itu sendiri panjangnya 3,06 meter dengan lebar 1,68 meter.

Pintu yang sekarang ini adalah hadiah dari Raja Khalid bn Abdul Aziz. Dalam sejarahnya, pintu in memang telah mengalami banyak perubahan, bak dari Nabi Muhammad Saw. Bersabda, “Siapa yang masuk ke Baitullah, berarti dia masuk dalam kebaikan, keluar dari kejahatan, dan dia mendapatkan ampunan”. (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).

Oleh karena itu, Ka’bah dijadikan oleh Allah SWT sebagai arah yang dituju oleh umat Islam dalam melakukan shalat.

Pada saat yang sama, ia adalah lambang bagi semua umat Islam, agar tidak berbeda arah dalam melakukan ibadah shalat. Peristiwa berpindahnya arah sholat Islam terkait dengan Sejarah Berdirinya Masjid Qiblatain di Madinah

 

Bangunan Ka'bah

 

Sholat Tidak Harus Menghadap Barat

Sehingga, pada saat menghadapi berbagai alternatif jalan, maka arah yang dipilih jelas. Hal ini bukan berarti sebagai perbedaan harus dihapus dan semua kepentingan atau kecenderungan harus dilebur dalam satu wadah, akan tetapi ia sebagai sebuah isyarat yang mesti diikuti oleh semua umat.

Oleh karena itu, Anda bisa melihat bagaimana orang yang ada di dalam Masjidil Haram saat mengerjakan shalat wajib.

Ada yang berdiri mengahadap utara, selatan, timur, barat, barat laut, timur laut, dan sebagainya. Masing-masing orang bebas memilih tempat berpijak, selama mereka mengarah ke Ka’bah.

Karenanya, kelirulah mereka yang memaksakan pendapatnya agar dianut, dan keliru juga orang yang memaksakan persatuan dengan melebur perbedaan.

Pada awalnya, Bangunan Ka’bah tidak memiliki atap/loteng. Barulah pada masa pembangunan oleh Suku Quraisy, mereka memberi atap pada Ka’bah.

Karena atap sudah dibangun, maka diperlukan talang (pancuran air) tempat pembuangan air hujan yang mereka sebut Mizab.

 

Mizab si Talang Emas

Talang itu dibuat dari emas, tepat di sisi yang menghadap Hijir Ismail, sehingga menambah kesan indah. Ada sebuah kejadian yang bisa memberikan sebuah pelajaran kepada semua umat manusia tentang salah satu misteri Ka’bah tersebut.

Pada tahun 317 H , salah seorang pengikut Abu Thaher Qurmuthy memanjat tembok Ka’bah untuk mengambl Mizab tersebut. Namun, ketika tangannya hampir mencapai mizab, ia terjatuh ke lantai Hijr Ismail dan meninggal seketika itu juga.

Mizab ini sudah berulang kali diganti. Saat ini, mizab yang digunakan adalah mizab pemberian Sultan Abdul Madjid Khan bin Sultan Muhammad Khan dari Konstantinopel pada tahun 1859 M atau 1276 H. Bahwa Mizab adalah salah satu tempat dimana doa yang dipanjatkan akan terkabul.

Ka’bah memang dijadikan Allah sebagai kiblat. Istilah Ka’bah sendiri berasal dari al-Qur’an, ka’bu, yang berarti mata kaki atau tempat kaki bergerak untuk melangkah. Salah satu ayat dalam al-Qur’an menjelaskan istilah itu dengan ka’bain, yang berarti dua mata kaki.

Sedangkan ayat lain yang mengandung istilah Ka’bah mempunyai arti mata bumi, sumbu bumi, atau kutub putaran utara bumi.

Talang Emas Ka'bah

 

Temuan Ilmiah tentang Ka’bah

Neil Amstrong, salah seorang astronot Amerika yang berhasil mendarat ke bulan, telah membuktikan bahwa kota Makkah adalah pusat dari planet Bumi. Fakta ini telah diteliti melalui sebuah penelitian ilmiah.

Ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar planet bumi, ternyata ia menemukan fakta bahwa planet Bumi menggantung di area yang sangat gelap. Para astronot tersebut kemudian menemukan bahwa planet Bumi itu mengeluarkan semacam radiasi.

Setelah melakukan penelitian lebih lanjut, ternyata radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tepatnya berasal dari Ka’bah. Sesuatu yang lebih mengejutkan lagi adalah radiasi tersebut bersifat infinite atau tidak berujung.

Hal ini terbukti ketika mereka mengambil foto planet Mars, radasi tersebut masih berlanjut terus. Para peneliti muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Bangunan Ka’bah di planet Bumi dengan Ka’bah di alam akhirat.

Di sisi lain, di tengah-tengah kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama Zero Magnetism Area. Di mana jika Anda mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.

 

Ka'bah dari Luar Angkasa

Itulah sebabnya, jika seseorang tinggal di Makkah atau di sekitar Ka’bah, ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi.

Yang lebih fantastis lagi, ketika Anda mengelilingi Ka’bah, maka Anda akan merasa seperti di-charged ulang oleh suatu energi misterius, dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.

Kini, dapat diterima alasan mengapa Ka’bah menjadi kiblat seluruh umat Islam dunia. Yaitu karena Ka’bah adalah pusat atau sumbu dunia dari planet Bumi. Hal ini juga terkait dengan keberadaannya sebagai rumah Allah yang menjadi pusat spiritual hubungan antara ruh manusia dengan Sang Pencipta, Allah SWT.

Selain itu, menurut penglihatan dari kamera satelit NASA, seperti dikutip Tribun,  mereka melihat ada satu cahaya yang bersinar dari bumi. Sinar misterius ini tampak begitu kemilau. Setelah diperbesar, ternyata cahaya kemilau itu berasal dari Masjidil Haram tepatnya dari Ka’bah.