Masjidil Haram di Makkah

Pembangunan Masjidil Haram, menunurut Sejarah, dimulai sejak ribuan tahun yang lalu. Masjidil Haram dahulu adalah tanah kosong yang lapang, yang ada di sekililing Ka’bah. Menurut Jumhur ulama, yang dimaksud dengan Masjidil Haram meliputi Ka’bah, tempat thawaf yang ada di sekeliling Ka’bah.

 

Sumur Zam - Zam Makkah

Selain itu juga ada bangunan maupun halaman untuk shalat, termasuk semua bagian perluasan yang dilakukan mulai Umar bin Khatab sampai sekarang.

Masjidil Haram adalah masjd tertua di dunia. Masjid yang mempunyai tiang sebanyak 589 buah dan terbuat dari marmer atau batu granit ini berusia 40 lebih tua dari Masjidil Aqsha di Jerussalem.

Pada saat ini, pembangunan Masjidil Haram terus diperluas saat ini hingga membuat luas Pelataran Masjidil Haram terus bertambah. Akibatnya, sekitar 1.000 gedung di sekitar Masjidil Haram dibongkar demi untuk pelayanan jamaah haji yang datang dari seluruh dunia.

Berdasarkan Ensiklopedia Haji dan Umrah, Abdul Halim, seperti di kutip laman Kementrian Agama Republik Indonesia, Pembangunan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram adalah bagian dari sejarah. Dalam perjalanan sejarah panjang dari masa ke masa.

Awalnya, masjid yang memiliki 152 buah kubah ini berbentuk sangat sederhana. Bangunannya hanya terdiri dari Ka’bah yang terletak d tengah-tengahnya. Sumur zamzam, dan maqam Ibrahim di sampingnya. Ketiga bangunan tersebut berada di tempat terbuka.

 

Masjidil Haram di awal Perkembangan Islam

Pada masa awal perkembangan agama Islam sampai masa pemerintahan Khalifah pertama, Abu Bakar AS-Shddiq (543 M), bentuk bangunan Masjidil Haram juga masih sederhana. Bahkan, masjid ini belum memiliki dinding sama sekali.

Pada tahun 644 M, di masa Khalifah Umar bin Khathab, mulailah dibuat dinding masjid. Akan tetapi, dindingnya masih rendah, tidak sampai setinggi badan orang dewasa. Kemudian, Umar juga membeli tanah di sekitar Masjidil Haram untuk memperluas bangunan masjid

 

Pembangunan Masjidil Haram

Tujuan nya agar dapat menampung jamaah yang semakin hari semakin banyak. Bangunan Masjidil Haram selalu diperluas dan diperindah, seiring dengan semakin banyaknya jamaah umroh dan haji yang berkunjung ke Baitullah

Khalifah Utsman juga memperluas bangunan masjid tersebut pada masa pemerintahannya. Kemudian, Abdullah Ibn al-Zubair memasang atap di atas dinding yang telah di bangun.

Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi, yang pernah berkuasa di Makkah, juga pernah melakukan penyempurnaan bangunan Masjidil Haram. Demikian pula pada masa Khalifah al-Mahdi, telah dibuat deretan tiang yang mengelilingi Ka’bah dan ditutup dengan atap.

Pada pemerintahan Sultan Salim II dari Khalifah Turki Utsmani yang dilanjutkan oleh putranya, Sultan Murad II, dlakukan beberapa kali perbaikan dan perluasan bangunan Masjidil Haram.

Pada masa ini, juga dibuat atap – atap kecil berbentuk kerucut. Bentuk dasar bangunan Masjidil Haram hasil renovasi Dinasty Ustmani inilah yang dapat dilihat sekarang.

Pada masa pemerintahan kerajaan Saudi Arabia yang bertindak sebagai Khadim al-Haramain asy-Syarifain (pelayan dua tanah suci,  Masjidil Haram dan Masjid Nabawi) beberapa tahun lalu, juga dilakukan perbaikan, penyempurnaan, dan perluasan Masjidil Haram.

Tempat sa’i yang sebelumnya berada di luar masjid, kini dimasukkan ke dalam dan dilengkapi dengan jalur-jalur sa’i yang sudah diberi atap yang teduh.

 

Kronologis Pembangunan Masjidil Haram

Berikut informasi yang lebh kronologis dari pembangunan Masjidil Haram dari masa ke masa, dimulai dari masa Rasulullah SAW.

Zaman Rasulullah SAW, dan Abu Bakar ash-Shiddiq

Pada zaman Rasulullah dan Abu Bakar ash-Shiddiq, tdak ada dinding atau bangunan beratap yang mengelilingi masjid. Masjid Haram hanya dikelilingi rumah-rumah penduduk dan jalan yang menuju ke Masjidil Haram adalah gangp-gang rumah penduduk yang ada di sekirat Ka’bah.

Zaman Umar bin Khatab

Pada masa pemerintahan Sayydina Umar, Islam menyebar ke seluruh Jazrah Arab, sehingga umat Islam menjadi semakin bertambah banyak. Mereka berdatangan ke Makkah, terutama pada musim haji. Oleh karena itu, Sayyidina Umarmemandang perlu untuk mengadakan perluasan Masjidil Haram.

Akhirnya, Sayyidina Umar membeli rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar Ka’bah dan menghancurkannya (17 H), untuk kemudian digunakan untuk memperluas Masjidil Haram.

Sayyidina Umar adalah orang pertama yang melakukan perluasan Masjidil Haram dan membangun tembok di sekeliling masjid setinggi kurang lebih 1,5 m dan memberinya pintu-pintu serta meneranginya dengan lampu-lampu.

Zaman Utsman bin Affan

Pada tahun 26 H, Sayyidina Utsman menambah perluasan Masjidil Haram seperti apa yang telah di lakukan Sayyidina Umar. Beliau juga membangun tembok mengelilingi masjid dan memberinya atap.

 

Makkah Rasulullah Ka'bah

 

Perluasan Masjidil Haram Setelah Khalifah Utsman

Diantara pemimpin-pemimpin Islam yang paling besar melakukan perluasan Masjidil Haram setelah Utsman adalah:

  1. Abdullah Ibnu Zubair, dia adalah salah satu cucu dari Abu Bakar Shiddiq, putra Siti Asma, yang pada saat itu merupakan penguasa Makkah setelah meninggalnya Yazid Ibnu Muawiyah, orang yang pertama merenovasi Ka’bah setelah meninggalnya Rasulullah Muhammad SAW. Hal ini terjadi sekitar tahun 65 H/ 685 M.
  2. Abdul Malik bin Marwan, dia adalah seorang pemimpin pada masa Daulah Bani Umayyah, setelah meninggalnya Yazid ibnu Muawiyah, yang dibaiat menjadi khalifah pada tahun 64 H/ 685 M.
  3. Walid bin Abdul Malik, beliau hanya melanjutkan usaha ayahnya dalam pembangunan perluasan Masjidil Haram, yang terjadi pada tahun 88 H/ 708 M.
  4. Al-Mahdi Ibnu Abi Jakfar al-Mansur, beliau adalah salah satu pemimpn Daulah Abbasiyah yang berada di kota di Baghdad. Pembangunan pada saat ini telah dilakukanoleh seorang insinyur yang berpengalaman dan sangat andal, sehngga pembangunannya sudah sangat maju. Bangunan yang dikerjakan adalah sebuah bangunan Ka’bah yang terindah dan paling kokoh. Hal ni terjadi pada tahun 166 H/ 784 M.
  5. Sultan Salim bin Sulaiman Khan, dia adalah satu tokoh yang mengubah bangunan masjid yang dibangun oleh al-Mahdi, setelah bangunan tersebut berumur lebih dari 810 tahun, sehingga banyak terdapat kerusakan. Perbaikan ini terjadi pada tahun 980 H.
  6. Sultan Murot bin Salim, dia melakukan perluasan besar-bersaran dan menyulap Masjidil Haram menjadi masjid termegah dan terindah sebelum pemerintahan Saudi yang terjadi paada tahun 984 H.
  7. Selanjutnya, pembangunan dilakukan oleh pemerintah Saudi Arabia pada tahun 1375/1955 M sampai sekarang. Adapun marmer putih anti panas di pasang pada masa pemerintahan Khalid bin Abdul Aziz pada tahun 1399 H.

 

Masjidil Haram saat ini

Masjidil Haram saat ini tidak bisa lepas dari posisi sentral yang menjadi tujuan semua umat Muslim di seluruh dunia. Secara keseluruhan, Makkah sedang melakukan face off , khususnya Masjidil Haram. Misalnya areal thawaf di sekitar Ka’bah yang ditutup dengan pelindung.

 

Nama Lain Kota Makkah

Puluhan apartemen pencakar langit sedang diselesaikan, hotel-hotel bintang lima sedang ditambahkan, mall – mall baru dibangun. Jalur kereta cepat dari Jeddah dipersiapkan langsung sampai ke al-Haram. Monorel dibangun untuk menghubungkan 3M (Makkah-Muzdalifah-Mina), serta kereta cepat dioperasionalkan untuk menghubungkan Jeddah-Makkah-Madinah.

Selain itu, juga dibangun terowongan, terminal, gedung parkir, plaza, eskalator perkotaan, dan taman yang semuanya serba baru. Sejak tahun 2010, sebagian proyek raksasa itu sudah terlihat. Dan, semuanya akan lebih sempurna lagi pada tahun 2030.

Visi Pemerintahan Saudi 2030 sebagai rencana untuk mengurangi ketergantungan Pemerintah Saudi pada sektor minyak. Pembangunan sarana dan prasarana dipersiapkan pada sektor layanan umum.  Layanan kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi dan pariwisata, termasuk sektor pelayanan bagi jamaah haji dan umroh

Penataan dan pembangunan kota suci Makkah kali ini dilakukan secara total, terencana, dan tidak main-main. Pembuatan konsep perencanaan yang dilakukan saja memerlukan biaya kurang lebih 354 trilyun rupiah.

Kali ini, perubahan Makkah memang dirancang untuk memenuhi kebutuhan masa depan secara sempurna, sehingga tidak boleh ada sedkit pun yang terhambat. Bangunan yang masih baru pun harus dibongkar hingga bangunan tersebut menjadi lebih baru lagi dengan kebutuhan pembangunan yang lebih baik lagi. Pembangunan Masjidil Haram dan Area sekitarnya benar – benar masif

Gunung batu keras pun diiris dan dihancurkan untuk memenuhi standar artistik yang mempunyai ukuran lain, dipotong, dan digali. Bahkan, peninggalan sejarah pun tidak dipedulikan lagi jika memang harus digusur, hingga menimbulkan banyak protes, meskipun tetap tidak dipedulikan.

 

Pro – Kontra Perluasan Masjidil Haram

Sebagai contoh, protes dari pemerintah Turki yang mempersoalkan hancurnya benteng Ajyad, yang sudah dibangun pada tahun 1775 H dan sangat berjasa dalam mempertahankan kota Makkah. Benteng ini dibangun ketika Makkah masih di bawah pemerintahan Turki Ustmani.

Namun, protes tersebut tetap tidak dipedulikan. Apa pun yang berada di atas tanah seluas 23 hektar itu harus tetap dikosongkan untuk pemugaran dan pembaharuan. Digantikan dengan hotel-hotel yang berdiri di kiri kanan sampai belakang.

Selama ini wilayah di lereng dan di atas Gunung Jabal Omar penuh dengan bangunan rumah, yang biasa disewakan untuk jamaah haji, dengan cara harus turun naik gunung ketika pergi atau pulang dari masjid.

Maka sudah tiga  tahun ini semua bangunan itu hlang karena telah digusur sekitar 6 tahun yang lalu. Lorong-lorong kecil yang menanjak di tempat tersebut kini telah dibangun kompleks gedung yang modern.

 

Interior Masjidil Haram

Bangunan apartemen pencakar langit sebanyak 40 tower. Menara-menara itu dijajar kiri kanan dalam posisi seperti setengah melingkar. Di antara dua jajaran tower itulah disediakan ruang kosong yang bisa digunakan sembahyang untuk 200.000 orang. Pengeras suara tersambung dengan pengeras suara Masjidil Haram.

Di areal ini juga dbangun sekitar 4.500 buah pertokoan, termasuk showroom yang berjajar sebanyak 3.000 buah. Kendaraan yang bisa ditampung mencapai 12.000, satu penambahan yang luar biasa dibanding tempat parkir sekarang yang hanya memuat 570 mobil.

Di ujung superblok itu juga dibangun satu pintu gerbang yang berwujud gedung pencakar langit kembar, yang masing-masing terdiri dari 50 tingkat. Pembangunan seluruh kawasan dengan luas 23 hektar ni menghabiskan dana sekitar 250 triliun rupiah.

 

Proyek Jabal Omar Development Company (JODC)

Yang mendapat proyek pembangunan tersebut adalah perusahaan swasta bernama Jabal Omar Development Company (JODC). Untuk merealisasikan proyek ini, perusahaan itu langsung go public di bursa saham Arab Saudi.

waktu masuk pasar modal, yang menjadi underwriter adalah sebuah anak perusahaan bank swasta setempat, yakni Al-Bilad. Auditornya adalah perusahaan keuangan Amerika Serikat, Ernst & Young. Sebanyak 30 % saham perusahaan ini dilepas di pasar modal, sisanya menjadi milik beberapa pengusaha terkemuka, seperti Abdul Rahman Faqeeh dan Bin Laden.

 

Jabal Omar Makkah

Meski harus berhenti selama musim haji, proyek Jabal Omar benar-benar melanjutkan pembangunan tersebut secara cepat. Kontraktor Readymix, misalnya sampai harus membangun dua pabrik percampur semen sekaligus, khusus untuk melayani satu proyek ini saja.

Maklum, dalam satu harinya, proyek ini menghabiskan semen yang sudah diaduk dengan kerikil sebanyak 11.000 ton. Sang kontraktor juga harus mampu mengirim semen adukan itu secara konstan selama 24 bulan penuh.

Dengan pembangunan yang memang besar-besaran ini, tentu dapat dibayangkan bagaimana wajah Makkah setelah pembangunan selesai. Makkah akan menjadi sebuah kota gemerlap, yang lebih menonjolkan semua tatanan kota metropolis daripada tempat yang religius.

Jika pembangunan yang demikian itu terus berlanjut, bukan tidak mungkin Makkah hanya akan menjadi sebuah tempat wisata, dengan berbagai kemewahan yang tampak di sekeliling masjid, yang tentu saja akan mengurangi sisi eksotis kota Makkah yang asli. Pada akhirnya, hal tersebut akan berdampak pada tujuan dan esensi sesungguhnya dari Makkah.

Di sisi lain, jika di Makkah yang tampak hanya mal beserta gedung yang mencakar, maka dengan sendirinya Makkah akan berubah menjadi tempat transaksi semata. Jika sudah demekian, maka akan mengurangi kekhidmatan yang biasanya didapatkan oleh orang-orang yang sedang berziarah ke tempat tersebut.

Dan, akhirnya sebuah ibadah yang demikian suci akan berubah menjadi perjalanan yang hampa nilai dan makna, karena akan terpengaruh oleh suasana di sekelilingnya. Suasana Makkah yang suci, religius, dan khidmat bisa jadi akan benar – benar menjadi sejarah yang hanya bisa di temukan di buku bacaan anak cucu kita.