Rentetan Sejarah dibalik Fathu Makkah

Perjanjian Hudaibiyah, seperti namanya merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan di lembah Hudaibiyah. Letaknya tepat di pinggir kota Makkah Al Karammah atau sekitar 22 kilometer dari Masjidil Haram.

Perjanjian ini merupakan perjanjian yang disepakati oleh kaum musyrikin Makkah dengan Nabi Muhammad SAW.  Tahun diadakan perjanjian ini adalah tahun keenam hijrah atau tahun 628 Masehi.

 

Perjanjian Hudaibiyah- biroumrohsemarang

 

Saat itu Rasulullah pergi menuju ke kota Makkah al Mukarramah pada bulan Dzulq’idah. Bulan tersebut dalam tradisi masyarakat arab diharamkan untuk berperang

Bagi kaum muslimin, sejarah dan isi Perjanjian Hudaibiyah tentu sangat penting untuk diketahui. Sebab melalui sejak peristiwa inilah wahyu mengenai Dam Atau Denda Dalam Ibadah Haji Dan Umroh di turunkan.

Perjanjian Hudaibiyah merupakan rentetan persitiwa yang berhubungan dengan Peristiwa Fatkhu Makkah atau pembebasan kota Makkah.

Terdapat Masjid Hudaibiyah yang sekaligus menjadi Miqat Umroh Penduduk Kota Makkah. Berikut kami berikan beberapa informasi mengenai Perjanjian Hudaibiyah. Semoga bermanfaat.

 

Berawal dari Mimpi Rasulullah SAW

Niat Rasulullah sebenarnya adalah untuk menunaikan ibadah umroh di Kota Suci Makkah. Hal itu berawal ketika suatu malam Rasulullah bermimpi  berhasil memasuki Masjidil Haram tanpa gangguan.

Dalam mimpinya Rasulullah berhasil mengambil kunci ka’bah dan thawaf mengelilingi Ka’bah dengan rasa aman. Pun dalam  mimpi  Rasulullah SAW melihat dengan jelas sebagian sahabat bertahallul. Sebagian memotong habis rambut kepala, lalu sebagian lagi hanya mencukur rambutnya.

Kabar tentang mimpi Rasulullah itu pun akhirnya tersebar luas ke para sahabat. Bahkan mereka mengganggap mimpi Rasulullah tersebut adalah sebuah wahyu kebenaran. Tak pelak kabar ini  pun memancing kegembiraan para sahabat.

Apalagi para sahabat yang datang dari kota Makkah, atau kaum Muhajirin sudah lama menahan rindu  akan kampung halaman setelah sekian lama mereka  tinggalkan dalam peristiwa hijrah.

Rasulullah pun akhirnya membulatkan tekad akan melaksanakan perjalanan umroh. Beliau tak sendirian,  ditunjuk Abdullah bin Ummi Maktum, seorang pemimpin di Madinah untuk mendampingi, disamping para sahabat tentunya.

Para sahabat yang turut serta dalam perjalanan ibadah umroh ini diperintahkan untuk tidak membawa senjata dalam jumlah besar. Sebelum memulai perjalanan, Rasulullah  mengutus Budail untuk menginformasikan kepada kaum Quraisy akan maksud kedatangan rombongan ke kota suci Makkah

Maksud kedatangan Rasulullah bukan untuk berperang, namun murni untuk melaksanakan ibadah umroh. Namun berita akan maksud kedatangan Rasulullah ini tetap saja tidak bias dipercaya begitu saja oleh orang Quraisy.

Mereka menganggap kedatangan Rasulullah dari kota Madinah adalah tindakan balas dendam atas beberapa peperangan yang terjadi. Sebelumnya memang terdapat Perang Badar, perang Uhud, hingga perang Ahzab yang mengancam eksistensi umat Muslim  yang telah berhasil berhijrah.

 

Perjanjian Hudaibiyah Miqat-miqat umroh

 

Apalagi melihat kaum muslimin yang begitu gigih dan kokoh mempertahankan maksudnya untuk datang ke Kota Suci Makkah. Terlihat jelas sebenarnya kaum Quraisy yang merasa ketakutan. Mereka pun mengirimkan Suhail untuk berunding. Hasil perundingan tersebut yang kemudian di tuangkan dalam Perjanjian Hudaibiyah.

 

Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah

 

Hudaibiyah merupakan nama sebuah sumur yang berada di arah barat daya kota Makkah Al Karamah. Tepatnya 22 km dari Makkah. Sejarah di sepakati Perjanjian Hudaibiyah adalah ketika Nabi Muhammad SAW dan rombongan kaum muslimin yang berjumlah 1.400 jamaah akan melaksanakan ibadah umroh

Menurut kesaksian lima orang sahabat Nabi Muhammad SAW yang menyaksikan langsung perjanjian tersebut. Jumlah kaum muslimin ketika itu adalah sekitar seribu empat ratus orang.

Meskipun Rasulullah telah melarang untuk berperang, namun kaum muslimin telah mengantisipasi hal – hal atau kemungkinan terburuk terjadinya penyerangan. Mereka membawa peralatan senjata dan peralatan perang untuk melawan kaum musyrikin.

Para rombongan kaum muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW telah tiba di Dzulhulaifah. Kemudian mereka segera melaksanakan sholat dan berihram untuk umroh. Tidak lupa rombongan kaum muslim membawa tujuh puluh ekor unta yang akan dijadikan sebagai hadyu.

Setibanya di Usfan atau 80 km dari kota Makkah. Busra bin Sufyan yaitu utusan Nabi Muhammad SAW membawa sebuah kabar. Bahwa kaum Quraisy sudah mengetahui kedatangan Nabi berserta kaum muslimin.

Kaum Musyrikin akan berusaha menghalangi perjalanan umroh Nabi Muhammad SAW dengan menyiapkan pasukan di Makkah.

Dari berita tersebut, Rasulullah SAW meminta pendapat para sahabat. Ada keinginan untuk menyerang para sekutu kaum musyrikin namun Abu Bakar Radhiyallahu memberikan pendapat untuk kaum muslimin fokus pada tujuan utama yaitu beribadah.

Meskipun Rasulullah SAW tahu, bilamana para kaum Quraisy akan berusaha keras untuk menghalanginya. Bahkan sudah dipastikan akan terjadi bentrokan atau bahkan peperangan serta pertumpahan darah.

saat itu kaum kafir Quraisy yang menguasai Kota Makkah memang sangat anti dengan  kaum Muslim dari kota Madinah. Hal ini merupakan buntut dari kekalahan Kaum kafir dalam perang Khandaq

 

 

Rombongan Tak Sampai Masjidil Haram

Tatkala akan Menginjakkan Kaki di Kota Suci Makkah, atau tepatnya di Hudaibiyah, Rombongan umat Muslim berhenti. Rasulullah kemudian mengutus Utsman Bin Affan sebagai wakil guna menyampaikan maksud untuk pemuka  quraisy.

Tentang maksud dan destinasi kedatangan Beliau beserta Rombongan. kaum Muslimin yang sebenarnya.  Namun selang beberapa saat kemudian tersebar isu yang entah dari mana sumbernya bahwa Utsman bin affan telah mati dibunuh kaum Quraisy.

Berita ini menimbulkan rasa kebencian, dendam dan kemarahan umat Islam. Dan dihadapan Rasulullah SAW seluruh umat Islam, kecuali Jad bin Qais seorang munafik dari Madinah,  mengaku ber ikrar atau bersumpah yang disebut bai’atu ridwan

Mereka membulatkan tekadnya untuk senantiasa berusaha demi kejayaan Islam sampai tetes darah penghabisan. Sumpah telah terucap, namun Utsman bin affan akhirnya datang dari Makkah dengan selamat.

Seraya membawa berita rombongan tidak diizinkan memasuki kota Makkah, paling tidak sampai tahun depan.Namun disisi lain semua pemuka kaum quraisy teramat mencemaskan sumpah dan kesungguhan hati umat Islam.

Sumpah untuk berusaha dan berupaya menunaikan ibadah umroh di kota Makkah tahun tersebut juga . Oleh  sebab itu, mereka lantas menyetujui untuk diadakan perjanjian yang dikenal sebagai Perjanjian Hudaibiyah.

 

Isi Perjanjian Hudaibiyah

 

Secara Garis besar isi Perjanjian Hudaibiyah sangat merugikan umat Muslim. Bahkan umat Rasulullah pun awalnya tak habis pikir, mengapa Rasulullah mau menandatangani perjanjian ini. Inti dari perjanjian ini adalah :

“Dengan nama Tuhan. Ini perjanjian antara Muhammad (Rasulullah SAW) dan Suhail bin ‘Amr, perwakilan Quraisy.

 

  1. Adanya gencatan senjata atau tidak boleh saling serang antara Makkah dan Madinah selama kurun waktu 10 tahun.
  2. Siapapun yang hendak mengikuti Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam), diizinkan secara bebas. Dan siapapun yang hendak mengikuti Quraisy, diizinkan secara bebas.
  3. Seorang pemuda, yang masih berayah atau memiliki Wali, andai mengikuti Muhammad SAW tanpa izin, maka akan dibalikkan lagi ke ayahnya dan Walinya. Bila seseorang turut dalam kaum Quraisy, maka ia tidak bakal dikembalikan.
  4. Tahun ini Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam) bakal kembali ke Madinah. Namun tahun depan, mereka bisa masuk ke kota Makkah, untuk mengerjakan thawaf disana sekitar tiga hari.

Selama tiga hari itu, warga Quraisy bakal mundur ke bukit-bukit. Mereka (kaum Muslimin) tidak boleh bersenjata saat menginjakkan kaki di Kota Makkah.”

 

Kaum muslimin harus kembali tanpa dapat melaksankan ibadah. Harapannya tahun berikutnya, kaum muslimin dapat  kembali, walaupun hanya tiga hari saja, atau tidak cukup untuk melaksanakan haji.

Banyak kaum muslimin yang kecewa akan hasil isi Perjanjian Hudaibiyah tersebut, karena perjanjian tersebut sangat merugikan dan bahkan merendahkan harga diri umat Islam. Mereka bahkan tidak segera melaksanakan perintah Nabi Muhammad SAW ketika memerintah menyembelih hewan Kurban.

 

Naskah Perjanjian Hudaibiyah-miqat

 

Atas inisiatif salah seorang istri Rasulullah, Ummu Salamah, dimana ia menyarankan agar Rasulullah terlebih dahulu menyembelih hewan kurban dan menggundul rambut Nya. Melihat hal itu, para sahabat pun langsung mengikutinya, sebagian menggundul kepalanya dan sebagian hanya memotongnya.

Kekecewaan para sahabat saat itu tidak terbukti seiring berjalannya waktu.  Dengan adanya perjanjian gencatan senjata itu justru membuka jalur berdakwah secara leluasa. Rasulullah tidak memikirkan peperangan setidaknya selama 10 tahun.

 

Hal Penting dari Isi Perjanjian Hudaibiyah

Isi Perjanjian Hudaibiyah di sahkan Wakil kaum Quraisy yaitu Suhail bin Amr. Suku Quraisy merupakan suku yang terhormat di Arab. Maka Kota Madinnah diakui memiliki kekuasaan sendiri yang dapat disejajarkan dengan Suku Quraisyi saat itu.

Perjanjian dengan pihak Quraisy Makkah, memberikan kekuasaan pada madinah untuk menghukum pihak Quraisy jika melanggar perjanjian ini.

Bahwa gencatan senjata tanpa peperangan dengan Kaum Kafir selama sepuluh tahun merupakan peluang yang baik guna menyebarluaskan agama islam sebab Rasulullah SAW dan semua sahabatnya tidak disibukkan dengan hal peperangan.

Bahwa kehormatan kaum Muslimin yang diperlihatkan melalui kebijaksanaan sikap Nabi Muhammad SAW agar tidak terjadi pertumpahan darah dalam perjanjian ini, secara tidak langsung justru mengundang simpati kalangan orang-orang quraisy sendiri. sampai-sampai sejumlah mereka lantas masuk Islam tidak lama sesudah perjanjian ini, Semisal Khalid bin walid amr bin al-ash yang mendapat julukan Pedang Allah

Jika terkendala sesuatu yang berakibat orang yang ingin melaksanakan ibadah umroh sehingga dia tidak memungkinkannya melanjutkan ibadah nya, maka boleh baginya untuk bertahallul dan tidaklah ada kewajiban bagi nya untuk mengqadha’

 

Pelanggaran oleh Kaum Quraisy

 

Belum genap  dua tahun sejak penandatanganan perjanjian, ternyata apa yang telah disepakati dilanggar sendiri oleh pihak kafir Quraisy. Mereka melanggar perjanjian pada pasal pertama mengenai gencatan senjata.

Seperti yang dikutip oleh wikishia, tersebutlah Kabilah Bani Khuza’ah yang bersekutu dengan kaum muslimin dan kabilah Bani Bakr yang merupakan sekutu kafir Quraisy. Kedua kabilah tersebut berseteru dan terlibat peperangan pada tahun ke-8 H atau 629 M (22 bulan setelah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah)

Pada kenyataan nya  orang-orang Quraisy justru ikut campur membela Bani Bakr dengan membunuh orang – orang dari Bani Khuza’ah yang ada di pihak Muslimah. Dengan adanya kaum Quraisy menjadi “backing”, artinya mereka telah melanggar perjanjian yang telah di sepakati

Bermaksud memohon maaf, Abu Sufyan ingin datang langsung ke Kota Madinah. Namun permohonannya ditolak. Atas kejadian itu, Rasulullah SAW segera mendatangi Mekkah bersama pasukan yang sangat banyak yang kemudian dikenal dengan Fathu Makkah.

Perjanjian ini sebenarnya adalah Kemenangan sekaligus Kehebatan Diplomasi Rasulullah SAW yang diwujudkan dalam peristiwa Fathu Makkah

Itulah hal – hal mengenai sekilas isi Perjanjian Hudaibiyah dan Kemenangan Diplomasi ala Rasulullah SAW. Kini wilayah Hudaibiyah merupakan salah satu Miqat Utama penduduk kota Makkah.

Bagi rombongan umroh dari BIRO UMROH SEMARANG, Masjid Hudaibiyah merupakan salah satu tempat miqat dalam rangkaian ziarah dan city tour seputar kota Makkah Al Mukarramah

 

Semoga bermanfaat. Waallahu a’lam Bishawab