Bagian dari Ka’bah

Rukun Yamani merupakan salah satu sudut Ka’bah. Sudut (Rukun) ini disebut  dengan Yamani karena menghadap ke arah Negeri Yaman. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Rukun Yamani yang merupakan bagian dari Bangunan Ka’bah memiliki beberapa keutamaan. Dimana sebagian besar besar riwayat di antaranya dinisbatkan kepada Rasulullah SAW dan sahabat-sahabat beliau.

Salah satu riwayat Ibnu Umar RA menyatakan Rasulullah SAW selalu mengusap Rukun Yamani serta Rukun Hajar Aswad di dalam setiap putaran thawaf Nya. Selain itu Ibnu Umar RA juga menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mengusap dua rukun (sudut)  Ka’bah di bagian barat.

 

Seputar Rukun Yamani Haji Umroh

 

Namun, Rasulullah hampir tidak pernah melewatkan rukun bagian timur, yaitu Rukun Yamani dan Rukun Hajar Aswad

Jabir RA juga menceritakan hal itu dari Nabi SAW, hanya terdapat tambahannya, pada saat Fathu Makkah, Nabi SAW menyentuh dua rukun itu di atas untanya dengan sebatang tongkat. (Al-Fakihy: 1/118). Mujahid mengatakan bahwa menyentuh keduanya akan memakan dosa-dosa, sebagaimana api memakan kayu bakar. (Al-Fakihy: 1/118).

Ubaid bin Juraij berkata kepada Ibnu Umar RA, “Aku melihat engkau melakukan beberapa hal yang tidak dilakukan oleh siapa pun. Engkau tidak menyentuh sudut-sudut Ka’bah selain dua rukun ini, engkau juga tidak memulai ihram hingga untamu membawamu bangkit.

Aku lihat engkau mengubah (warna) jenggot dan rambutmu, juga aku melihat engkau mengenakan sandal sibtiyah (terbuat dari kulit yang telah disamak).”

Ibnu Umar RA menjawab, “Aku menyentuh dua rukun (sudut Ka’bah) itu karena aku melihat Nabi SAW menyentuhnya. Aku tidak memulai ihram sampai untaku membawaku bangkit karena aku melihat Nabi SAW tidak melakukannya.

Aku juga mencat jenggotku dengan wama kuning karena aku melihat Nabi SAW mencatnya dengan wama itu. Sedangkan mengenai sandal sibtiyah, itu karena aku melihat Rasulullah SAW tengah berwudhu dengan mengenakan sandal itu.”

 

Hanya Rukun Yamani dan Hajar Aswad

Menurut Atha’ bin Abi Rabah, dia melihat Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Abu Said, dan Abu Hurairah RA tengah berthawaf di sekeliling Baitullah. Mereka tidak menyentuh selain dua rukun bagian timur. (Al-Fakihy: I/l 19).

Atha’ mengatakan bahwa para gurunya; Ibnu Abbas, Jabir, Abu Hurairah, dan Ubaid bin Umair RA tidak menyentuh selain Hajar Aswad dan Rukun Yamani. Mereka tidak menyentuh rukun-rukun yang lain. (Al-Fakihy: 1/120).

Salim menceritakan dari ayahnya, bahwa dia tidak pernah meninggalkan menyentuh dua rukun ini baik pada waktu senggang maupun penuh sesak—sejak dia menyaksikan Rasulullah SAW menyentuhnya. (Al-Fakihy: 1/121).

Ibnu Umar RA berkata, “Aku melihat Nabi SAW menyentuh Rukun Yamani dan Hajar Aswad.” Abdullah berkata, “Maka aku tidak pernah meninggalkan menyentuhnya sejak aku menyaksikan Rasulullah saw melakukan hal itu.” (Al-Fakihy: 1/130).

Menurut Abdullah bin Ubaid bin Umair, ayahnya pernah berkata kepada Ibnu Umar RA, “Engkau berdesak-desakan untuk mencapai dua rukun ini, padahal aku tidak melihat seorang sahabat Nabi SAW melakukannya. Ibnu Umar menjawab, “Jika aku melakukannya, itu karena aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya menyentuh keduanya akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (Al-Fakihy: 1/127).

Ibnu Umar RA menceritakan bahwa Nabi saw bersabda, “Menyentuh dua rukun ini akan menghapuskan kesalahan-kesalahan.” (Al-Fakihy: 1/131).

Mengenai menyentuh (rukun) ini, Jabir bin Zaid berkata, “Janganlah kamu berdesak-desakan untuk mencapainya. Apabila kamu mendapatinya sedang senggang, sentuhlah. Dan jika tidak, berlalulah.” (Al-Fakihy: 1/131).

Humaid bin Abi Suwaid mendengar Ibnu Hisyam bertanya kepada Atha’ tentang Rukun Yamani, sementara dia sedang berthawaf. Lalu Atha’ menjawab, “Abu Hurairah RA memberitahuku bahwa Nabi SAW bersabda.

‘Pada rukun itu ditempatkan tujuh puluh malaikat, dan barangsiapa mengucapkan, Allahumma inni as’aluka al-’afwa wal afiyata fid dunya wal akhirah, rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban nar (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat.

 

Tempat Dikabulkannya Do’a

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka), maka dia berkata, Amin.”‘ (Al-Fakihy: 1/138, dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah; 985).

Mujahid berkata, “Dahulu seseorang yang meletakkan tangannya di atas Rukun Yamani lalu berdoa, doanya itu selalu dikabulkan.” (Al-Fakihy: 1/139).

Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa pada Rukun Yamani itu terdapat seorang malaikat yang mengucapkan, Amin. Maka ucapkanlah, ‘Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.’ (Al-Fakihy: 1/139).

Hisyam bin Urwan mengatakan bahwa Ibnu Zubair memegang Rukun Yamani hingga nyaris tak terlepas (memegangnya sangat erat).

 

Rukun Yamani Hadist-Umroh Murah

 

Diriwayatkan dari Abdullah bin Saib, bahwa dia mendengar Rasulullah mengucapkan—di antara rukun Bani Jumah (baca: Yamani) —dan Rukun Hajar Aswad, “Robbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina adzaban nar.”

Ibnu Mas’ud RA menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Setiap kali aku sampai pada Rukun Yamani, aku selalu bertemu dengan Jibril AS.”

 

Atha’ juga menceritakan bahwa Rasulullah saw ditanya, “Engkau banyak sekali memegang Rukun Yamani?”

Beliau bersabda, “Setiap kali aku mendatanginya pasti kutemui Jibril AS berdiri di sana, memohonkan ampunan bagi orang-orang yang memegangnya.” (Musnad Abu Hanifah: 25).

Menurut Abdullah bin Umar RA, dia tidak pernah melihat Rasulullah memegang Baitullah selain pada dua Rukun Yamani. (HR. Muslim: IV/65-66).

Dia juga mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah memegang rukun-rukun Baitullah selain Rukun Hajar Aswad dan rukun yang menyertainya, yang mengarah kepada daerah Bani Jumah (Yamani). (HR. Muslim: IV/65-66).

 

Apakah kaum wanita juga memegang ?

Diceritakan dari Manbudz Mauda Bani Amir bin Luay dari ibunya, ketika dia bersama Aisyah RA, datanglah seorang maulah (budak wanita yang telah dimerdekakannya) dan berkata, “Aku memegang Hajar Aswad sebanyak tiga kali selama tujuh kali putaran thawaf.”

Kemudian Aisyah berseru, “Semoga Allah tidak memberikan pahala kepadamu, dua atau tiga kali tidakkah engkau bertakbir dan cukuplah (itu) bagimu.” Yahya menambahkan dalam haditsnya, “Dan engkau mendorong-dorong kaum pria.” (Al-Fakihy: 1/122). Seperti dikutip oleh Republika

Atha’ mengatakan bahwa seorang wanita melakukan thawaf bersama Aisyah RA ketika sampai pada rukun, wanita itu berkata, “Wahai Ummul Mukminin, tidakkah engkau memegangnya?” Aisyah berkata, “Apa perlunya bagi kaum wanita dan apa perlunya memegang rukun? Biarkanlah berlalu.” (Al-Fakihy: 1/122).

Menurut Mutsanna, dia melihat Atha’ bersama seorang wanita yang hendak memegang Hajar Aswad, “Hutuplah tanganmu, kaum wanita tidak perlu memegangnya,” kata Mutsanna. (Al-Fakihy: 1/125).