Shalat di Masjid Nabawi Berpahala Seribu Kali Shalat

Sekali Shalat Di Masjid Nabawi berpahala Seribu Kali Shalat di Masjid lain. Keistimewaan yang menakjubkan ini merupakan kelanjutan dari KEUTAMAAN SHALAT YANG MENAKJUBKAN DI MASJIDIL HARAM  yang merupakan “Bonus” Pahala bagi mereka jamaah haji dan umroh serta peziarah yang sedang berkunjung dan melaksanakan ibadah shalat di dalamnya.

 

Masjid Nabawi

 

Dalam keterangan yang telah lalu telah dijelaskan, bahwa shalat di Masjidil Haram lebih utama. Masjidil Haram shalat seratus ribu kali, sementara shalat di masjid Nabawi melebihi seribu kali shalat di tempat lain. Maka beruntunglah bagi mereka yang dapat melaksanakan shalat di dalamnya. Apalagi jika dalam rangkaian perjalanan safar untuk melaksanakan ibadah haji dan umroh

Dalam pembahasan ini pun sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah shalat yang diutamakan. Apakah shalat fardhu saja ataukah shalat sunah saja. Karena adanya kaidah umum yang menyatakan bahwa shalat sunah yang utama adalah shalat yang dilakukan di rumah sendiri.

Diriwayatkan bahwa seorang bernama Suraid datang menemui Rasulullah pada hari ditaklukannya kota Makkah (fathu Makkah). Lalu ia berkata,”Wahai Rasulullah aku bernazar kepada Allah, jika Allah membukakan kota Makkah untukmu, maka aku akan melakukan shalat di baitul Maqdis. Lalu Rasulullah menjawab, mengapa disana? Shalatlah disini saja, masjid ini lebih utama berlipat.” Keutamaan sholat ini di Masjid ini Sebagaimana Sabda Rasulullah :

 

Masjid Nabawi Madinah

 

 

Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha

Seorang sahabat terkenal dengan ide briliannya dalam perang Khadak, Salman al-Farisi. Suatu hari berniat untuk pergi menuju Baitul Maqdis untuk melakukan shalat disana. Dalam perjalanannya, Salman bertemu Abu Hurairah yang kemudian menegurnya,” Wahai Salman,hendak pergi kemana engkau?”

“ke Baitul Maqdis di Palestina untuk melakukan shalat disana,”jawab Salman.

Salman kemudian diarahkan untuk mengurungkan niatnya ,dan sebaiknya ber umroh ke Makkah dan kemudian ke Madinah, sebab shalat di Masjid Nabawi jauh lebih utama.

Seorang shahabiyah di zaman Rasulullah, ada yang menjadikan shalat di Masjidil Aqsha, di Baitul Maqdis, sebagai shalat nazar apabila Allah memberikan kesembuhan kepadanya dari sakit yang sudah begitu parah diderita. Namun, ketika beliau berjumpa dengan Maimunah sebelum pergi ke baitul Maqdis, Maimunah mengingatkannya agar  lebih mendahulukan shalat di Masjid Nabawi.

 

Tempat Bersejarah Madinah

 

 

Begitulah seharusnya,bernazar untuk melakukan shalat di salah satu tempat berpahala berlipat-lipat merupakan tujuan ibadah mulia. Para sahabat sangat bersemangat untuk bisa menjalankan shalat di masjid yang sangat dicintai Rasulullah, dimana jasad beliau juga berada didalamnya. Salah satu contohnya adalah sahabat Muslim bin Aslam. Usia beliau udah sangat lanjut.

Suatu hari ia berniat keluar rumahnya. Dia pun sudah merencanakan dalam hatinya sambil berbisik kepada dirinya sendiri, ”aku akan shalat di masjid Rasulullah setelah keperluan di pasarku selesai.

Kemungkinan karena usianya yang sudah lanjut itu, Muslim bin Aslam ternyata lupa dan langsung pulang ke rumahnya lagi setelah keluar dari pasar. Sesampainya dirumah beliau melepaskan dan menaruh sorban serta bajunya. Ketika itu, Muslim bin Aslam teringat bahwa dirinya tadi belum melakukan shalat di masjidnya Rasulullah. Dia pun menyesal sekali sambil berkata,” demi Allah, aku sungguh belum melakukan shalat itu.” Akhinya, Muslim bin Aslam bergegas kembali ke kota Madinah sekadar untuk menjalankan shalat didalamnya.

 

Shalat didalam Masjid Nabawi

 

Muslim bin Alam teringat sabda Rasulullah yang berbunyi :

Barang siapa di antara kalian berhenti/berkunjung di kota ini (Madinah), maka janganlah dia kembali ke rumahnya (keluarganya) hingga dia sudah melakukan shalat dua rakaat didalam masjidnya.”(HR. Ath-thabarani).

Shalat didalam Masjid Nabawi bagi orang yang masuk KOTA MADINAH adalah seperti shalat Tahiyyatul Masjid bagi orang yang sudah masuk masjid pada umumnya. Bagi orang yang masuk masjid, maka dia tidak dianjurkann duduk sebelum melakukan shalat sunah Tahiyyatul masjid dua rakaat. Begitu juga bagi orang yang masuk kota Madinah.

Dia tidak dianjurkan kembali pulang ke rumahnya sebelum dirinya menjalankan shalat di dalam masjid nabawi. Seperti penganalogian seperti ini tidak terlalu berlebihan, bukan?!

 

Sholat di Masjid Nabawi Madinah

 

 

Jika pahala sekali shalat di Masjid Nabawi sama dengan seribu kali shalat, maka jumlahnya sama dengan shalat wajib selama kurang lebih tiga tahun. Jika kita melakukan shalat dua kali di dalam masjid Nabawi maka sama saja dengan shalat kurang lebih selama enam tahun, begitu seterusnya. Betapa ini merupakan besar yang menjadi amal kebaikan untuk segera dilaksanakan, bagi yang sudah mampu, mempunyai kecukupan biaya, dan persiapan hati, dengan niat yang saleh demi mencari keridhaan Allah.

Meskipun demikian, Syeikh Athiyyah Muhammad Salim mengingatkan, keutamaan dan pahala. Beliau mengingatkan sama dengan tiga tahun shalat itu bukan berarti seseorang yang telah melakukan shalat sekali di masjid Nabawi lalu tidak melakukan shalat sama sekali selama tiga tahun. Bukanlah karena beranggapan sudah mencukupi kewajiban shalatnya.

Keutamaan itu hanya berkaitan dengan pahala yang disediakan Allah. Kewajiban melakukan shalat lima waktu dalam sehari merupakan kewajiban yang tidak dapat gugur dimana pun dan dalam keadaan apa pun. Begitu juga tentang keutamaan shalat di Masjidil Haram sebagaimana keterangan yang sudah lalu.