Letak Geografis

Stasiun Kereta Api Hijaz Kira – Kira terletak  satu kilometer arah barat daya dari Masjid Nabawi di Madinah. Jika dilihat dari Peta letaknya berada di  suatu kawasan mempunyai nama Al Anbariya. Di tempat ini terdapat suatu bangunan bekas stasiun kereta api Hijaz.

Sekarang Statsiun Kereta Api Hijaz berubah fungsi sebagai museum sejarah Madinah. Selain itu terdapat masjid berarsitektur Turki Usmani yang masih berdiri gagah dan terawat hingga saat ini.

Stasiun Kereta Hijaz

Bangunan ini mempunyai gaya arsitektur sangat bertolak belakang dari bangunan yang ada di Madinah modern pada umumnya. Keasrian bangunan yang di kelilingi taman, pepohonan rindang, dan juga air mancur. Jika anda jamaah haji dan umroh tak ada salahnya mengunjungi kawasan Al Anbariya.

Bangunan ini seolah menghadirkan nuansa Eropa di tengah kesucian kota Madinah. Pantas saja ketika kami mengunjungi Taman Al Anbariya, disana Nampak jamaah dari Turki dan Eropa. Karena lokasi ini tampaknya menjadi lokasi “nongkrong”  kesayangan warga Turki dan Eropa, yang tengah menjalani ibadah umroh.

Orang-orang berwajah “bule” sering dijumpai duduk-duduk di bangku taman atau berfoto-foto.  Khusus untuk warga Negara Turki, bangunan Stasiun Kereta Api Hijaz menjadi tempat istimewa guna napak tilas jejak kejayaan Kesultanan Turki Usmani.

Dahulu Kesultanan Turki pernah memerintah Madinah dan menguasai daerah Hijaz pada tahun 1517-1915.Bangunan utama di area ini ialah Stasiun Kereta Api Hijaz. Gedung bergaya paduan arsitektur Mamluk, Turki, dan Eropa ini mempunyai bentuk persegi panjang.

Bangunan Stasiun beserta Jalur kereta api ini tadinya dibangun guna membawa jamaah haji dari Damaskus (Syiria) dan Madinah melewati Amman, Jordania. Ide pembangunannya telah tercetus tahun 1864 saat kereta api menjadi moda transportasi sangat populer masa itu.

Peninggalan Kesultanan Turki Usmani

Gedung itu secara resmi dioperasikan pada 1908 oleh Kesultanan Turki Usmani dan tadinya dioperasikan sebagai stasiun kereta api jurusan Damaskus di Syria. Menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Sumbangan dari sekian banyak  pihak diantaranya Sultan Abdul Hamid (Turki), Khedive Mesir dan Shah Iran.

Stasiun ini utamanya dipakai untuk membawa jemaah haji dari Turki, Syiria, dan sekitarnya, ke Madinah atau sebaliknya. Pembangunan jalur ini di prakarsai oleh Jerman, sementara lokomotif yang dipakai didatangkan dari Swiss.

Tahun 1912, kereta api dapat membawa 30.000 jamaah haji dan terus meningkat serta menjadi favorit jamaah haji. Bahkan konon kabarnya kepopuleran jalur kereta api ini mencapai puncaknya pada tahun 1914 dengan membawa hingga 300.000 jamaah haji.

Stasiun Kereta Hijaz

Pro Kontra Kereta Api

Gangguan pun muncul dari banyak suku – suku  di terpencil Arab yang tidak suka kehadiran kereta ini. Maklum saja, sumber pendapatan utama mereka semakin lama semakin menyusut. Banyak  jamaah yang sebelumnya memakai jasa mereka sebagai pemilik unta sewaan guna mengangkut rombongan jamaah haji.

Dari sisi jamaah haji tentu saja menghemat waktu tempuh. Para jamaah haji sebelumnya musti melewati gurun padang pasir sekitar 40 hari sampai 2 bulan guna tiba di tanah suci dengan unta sewaan. Tapi ketika rel kereta api Hijaz dimulai, perjalanan haji menjadi lebih murah dan aman sekitar empat hari saja.

Namun butuh biaya yang tidak sedikit untuk mengerahkan 5000 serdadu tentara untuk mengawal lintasan yang membentang sepanjang 1.320 kilometer ini.

Pro Kontra penggunaan kereta api hijaz sebagai alat angkut jamaah haji pun bermunculan. Ada yang menganggap pergi haji menggunakan kereta api hanya digunakan untuk wanita, anak, dan orang tua saja. Sedangkan kaum lelaki tetap setia menunggang  unta, karena dianggap mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Meredupnya Pamor Kereta Api

Pamor kereta api Hijaz pun meredup seiring dengan meletusnya  Perang Dunia Pertama (1914-1918) berlangsung, jalur kereta api mengalami kehancuran yang parah bahkan hancur lebur. Ketika masa  tersebut pasukan Turki mulai memprioritaskan kereta api sebagai moda transportasi guna membawa pasukan.

Pada 1920 operasional jalur ini pun dihentikan sebab gangguan politik dan keamanan yang semakin tidak terkendali. Upaya membangun kembali Stasiun Kereta Api Hijaz  sesudah Perang Dunia 1 sempat diusulkan.

Namun  setelah di kalkulasi ternyata ongkos yang diperlukan untuk membangun nya kembali sangat mahal dan tidak terjangkau. Terlebih lagi pada tahun 1971 pembangunan jalan raya dan rintisan jalur penerbangan umroh dan haji sedang mengalami kemajuan pesat.

Setelah sekian lama terbengkalai, baru pada tahun 2006, pemerintah Arab Saudi menyulap bangunan stasiun ini menjadi museum. Secara resmi bangunan ini kemudia mempunyai nama Medina Al Munawara Museum and Al Hijaz Railway Museum.

Kereta Hijaz Lawas

Berubah Fungsi Sebagai Museum

Di dalam bangunan bekas stasiun ini ada ruang utama yang memamerkan gerabah dan perlengkapan rumah tangga peninggalan penduduk Madinah ratusan tahun lalu. Pada lantai kesatu yang masih menampakkan bangunan asli interior stasiun, dipamerkan pula  benda-benda yang menjelaskan situasi geologis dan keadaan alam di Madinah.

Benda yang dipamerkan di antaranya batuan semimulia dan tanaman-tanaman pangan yang ditanam di Madinah. Seperti di bangunan lantai satu, interior bangunan di lantai dua pun diatur secara apik. Jendela-jendela kaca patri kuno dan lengkungan batu tidak dihilangkan dan menjadi perangkat pembias cahaya alami khas bangunan model eropa.

Panel kayu dan kaca melapisi dinding, lantai, dan furnitur museum sampai – sampai tergambarkan kesan modern pada masanya.

 

bangunan museum kereta hijaz

Di lantai dua, ada ruang galeri yang memperlihatkan senjata api, senjata tajam, dan perlengkapan perang lainnya yang dipakai pejuang Madinah. Di samping itu, alat-alat memasak, kerajinan gerabah, perlengkapan masjid, dan produk kebudayaan lainnya juga dipamerkan di lantai kedua.

Poster-poster serta video yang diperlihatkan dalam belasan layar LCD dan proyektor menghiasi  ruangan dalam museum. Semuanya mengisahkan sejarah, budaya, dan kehidupan di Madinah semenjak dipimpin Rasulullah SAW, Zaman Kekaisaran Turki Usmani, hingga beralih ke Kerajaan Arab Saudi kini.

Dipamerkan juga poster – poster yang berisi foto dan ilustrasi perkembangan Masjid Nabawi dari mulai didirikan Rasulullah SAW. Benda-benda paling mudah dikenali di lantai dua ialah deretan batu-batu berukuran lumayan besar. Pada permukaan batu itu tertulis ayat – ayat suci Alquran. Di samping itu, dipamerkan pun sejumlah Alquran kuno.

 

Berkunjung ke Museum

Museum ini dibukan untuk umum pada pukul 09.00 – 21.00. Untuk menginjak kan kaki mengenang sejarah di museum yang mengenang Stasiun Kereta Api Hijaz ini, pengunjung tidak dipungut  ongkos sepeser juga alias gratis.

Lepas mengunjungi  museum Stasiun Kereta Api Hijaz dan mempelajari sejarah Madinah, sebaiknya duduk – duduk di bangku taman di depan stasiun sambil selfie. Menikmati pemandangan khas Eropa di sekelilingnya. Dari taman ini, menara Masjid Nabawi sangat jelas terlihat.

Jangan sungkan guna berjalan kaki ke Masjid Nabawi. Dalam perjalanan, dapat dijumpai sebanyak bangunan paling bersejarah lainnya. Di antaranya gedung pemerintahan Madinah, Masjid Ghamamah, Masjid Umar bin Khattab, dan Masjid Abu Bakar Ash Shiddiq.

Interior museum kereta hijaz

Tempat yang mungkin jarang masuk dalam rangkaian acara ziarah dan city tour seputar kota Madinah jamaah haji atau umroh Indonesia. Cukup jalan kaki. Atau bila sedang sungkan berjalan, naik taxi dari depan masjid Nabawi

Cuma 10 riyal ongkosnya. Bilang saja Mahattah Hijaz ke sopir taxi. Atau anda bisa memanfaatkan Bus Tingkat Madinah. Anda berniat mengunjungi Museum sekaligus bekas Stasiun Kereta Api Hijaz ini? Segera hubungi biro travel UMROH MURAH anda, dan pastikan Stasiun Kereta Api Hijaz masuk kedalam daftar kunjungan program ziarah dan city tour mereka di kota Madinah