Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Melontar Jumrah adalah tiga rangkaian kegiatan yang tidak bisa terlepas dari rangkaian ibadah haji. Wukuf di Arafah termasuk dalam Rukun Haji. Tatkala matahari terbit di hari Arafah, semua orang yang berhaji berangkat menuju Arafah dengan tenang, tertib, dan sambil membaca talbiah. Kemudian jika memungkinkan, disunahkan singgah di Namirah (yang ditandai dengan adanya Masjid Namirah) sampai matahari turun.

wukuf di arafah

Tidak masalah jika tidak memungkinkan singgah di Namirah. Ketika matahari sudah turun, hendaklah melaksanakan shalat dengan mengumpulkan (jamak takdim) Zuhur dengan Ashar dalam satu waktu (di waktu Zuhur) dan meringkasnya (qasar) masing-masing menjadi dua rakaat, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW.

Tujuan dari mengumpulkan dan meringkas shalat adalah agar jemaah mempunyai banyak waktu untuk wukuf dan berdoa di Arafah. Setelah selesai melaksanakan shalat, dianjurkan berzikir, berdoa, dan memohon kepada Allah SWT. Berdoa sesuai keinginan dengan mengangkat kedua tangan dan mengadap kiblat. Doa yang biasa dibaca oleh Rasullullah SAW pada sat wukuf adalah:

wukuf di arafah

“Tidak ada Tuhan selain Allah yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya semua kerajaan dan pujian. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seluruh Padang Arafah merupakan tempat wukuf sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Apabila orang yang berhaji merasa jenuh atau lelah dan ingin bercengkerama atau berbicara yang bermanfaat dengan sahabat-sahabatnya, atau hendak membaca buku-buku yang bermanfaat , atau bahkan ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat lainnya untuk sekedar mengisi waktu luangnya maka hal itu tidak di permasalahkan.

Bahkan, hal itu dianggap baik ketika melaksanakan wukuf di Arafah. Kemudian setelah itu kembali lagi berdoa, berzikir, memoon kepada Allah SWT dan mengambil keberkahan tempat wukuf di arafah yang agung ini.  

Ketika matahari sudah terbenam, jemaah haji bergegas menuju Muzdalifah. Barang siapa berangkat sebelum matahari terbenam dan berada di luar Arafah, wajib untuk kembali lagi ke Arafah dan tinggal di sana sampai matahari terbenam. Jika tidak kembali, ia dianggap berdosa dan wajib membayar fidyah (denda).

Seyogyanya para jemaah haji mengutamakan ketertiban dan ketenangan sepanjang perjalanan dari Arafah, juga menyibukkan diri dengan bacaan talbiah dan istigfar.

 

Bermalam (Mabit) di Muzdalifah

Setelah wukuf di Arafah, jemaah haji menempuh perjalanan menuju Mina dan diharuskan singgah dahulu di Muzdalifah walau hanya sebentar. Setibanya di Muzdalifah, mereka melaksanakan shalat Magrib dan Isya dengan mengumpulkan (jamak) keduanya dalam sekali adzan dan dua iqamah, serta meringkas (qasar) shalat Isya menjadi dua rakaat.

Setelah bermalam di Muzdalifah, kaum wanita, anak-anak, orangtua, dan kaum laki-laki yang bertanggung jawab atas kelompoknya diperbolehkan berangkat lebih dulu dari Muzdalifah menuju Mina ketika sudah sampai waktu tengah malam. Sementara laki-laki yang cukup kuat dan tidak memiliki tanggungan, sebaiknya tetap tinggal di Muzdalifah sampai terbit fajar.

 

mabit di muzdhalifah

 

 

Mereka dianjurkan untuk shalat Subuh di awal waktu, lalu berdoa dan berzikir sampai mendekati matahari terbit. Jika memungkinkan, sebaiknya berhenti (wukuf) di Masy’ar Al-Haram dan berdoa di sisinya. Jika tidak mungkin, maka boleh berdoa di mana saja, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, “Aku berhenti (wukuf) di sini dan seluruh wilayah Muzdalifah adalah tempat berhenti (wukuf).” Hal seperti ini juga yang sudah pernah penulis laksanakan dalam ibadah haji.

Sebelum matahari terbit, jemaah haji harus segera bertolak ke Mina. Tidak diperbolehkan meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam. Barang siapa yang meninggalkan Muzdalifah sebelum tengah malam, maka dianggap menyalahi ketentuan (berdosa) dan wajib membayar fidyah, karena bermalam di Muzdalifah merupakan salah satu dari kewajiban berhaji.

 

Melontar Jumrah (Ramyu Al-Jumrah)

 

Ketika jemaah haji bertolak dari Muzdalifah menuju Mina, mereka mengumpulkan tujuh batu kerikil untuk melontar jumrah Aqabah. Batu kerikil itu boleh diambil di Muzdalifah atau di jalan menuju Mina. Ukuran setiap kerikil hendaknya sebesar ujung jari tengah atau seukuran biji kurma. Ketika mereka sudah sampai di Mina, mereka melontar jumrah Aqabah yang letaknya terakhir dan lebih dekat dengan Mekkah.

Tujuh kerikil itu dilempar satu per satu dengan mengangkat kedua tangan setiap kali melempar sambil berucap: “Allahu Akbar.”  Setiap kerikil yang dilempar harus dipastikan masuk ke sumur jumrah (lubang yang mengelilingi tiang jamarat) baik kerikil itu tetap berada di dalam atau terpantul keluar lagi. Tidak diwajibkan untuk membenturkan kerikil itu tepat ke tiang.

 

 

lempar jumroh

 

Waktu melempar jumrah Aqabah dimulai pada tengah malam kesepuluh hingga terbenam matahari pada 10 Dzulhijjah. Jemaah haji yang daya tahan fisiknya kuat, lebih utama melontar jumrah setelah terbit matahari pada hari tersebut.

Wukuf di Arafah, Mabit di Muzdalifah dan Melontar Jumrah
Tag pada: